Latest Post

Salah satu kurikulum sistem pendidikan Islam, bertujuan untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam

Kepribadian Islam akan menuntun generasi, memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam


Oleh Vina Meilany

Pendidik Generasi dan Aktivis Muslimah


Matacompas.com, SURAT PEMBACA -- Saat ini kehidupan remaja begitu dekat dengan tindak kriminal. Usia remaja seharusnya menjadi usia yang cemerlang dalam akhlak, kebaikan dan prestasi.


BANGKAPOS, BANGKA (Minggu, 17/03/24) -  Dalam semalam 3 lokasi perang sarung antara remaja terjadi di Pangkalpinang. Pertama perang sarung terjadi di Jalan Gandaria 2, Kelurahan Kacangpedang, Pangkalpinang. Kemudian lokasi kedua perang sarung terjadi di Kelurahan Bukit Besar, sedangkan yang ketiga terjadi di Jembatan Jerambah Gantung.


Mirisnya pelaku perang sarung tersebut mayoritas dilakukan oleh pelajar SMP hingga SMA. Pemuda adalah generasi penerus peradaban. Sebagai aset negara, pemuda seharusnya wajib dijaga, dilindungi, dan dibina sehingga mereka memiliki pola pikir dan pola sikap yang benar. Sayangnya, pola pikir dan pola sikap mengalami kerusakan yang parah pada generasi saat ini. Banyak di antara mereka menjadi pelaku kejahatan. 


Rusaknya generasi tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan. Kurikulum pendidikan saat ini berasas pada sekulerisme, yaitu akidah yang memisahkan agama dari kehidupan. Pendidikan saat ini gagal mencetak generasi yang berkualitas. Generasi hanya dididik menjadi sosok yang pandai dan cerdas dalam ilmu umum dan tujuan materi saja, tetapi minim dalam keimanan dan akhlak. 


Meski masih duduk dibangku SMP atau SMA, mereka sudah menjadi pelaku tindak kriminal seperti pemerkosa atau pelaku tawuran. Hal ini disebabkan didalam benak generasi tidak ada rasa takut terhadap dosa dan perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt.. Lingkungan yang sekuler juga mempengaruhi pada kualitas pembentukan kepribadian generasi. Ditambah lagi, tayangan dengan konten kekerasan dan berbalut maksiat. Maka wajar generasi saat ini menjadi pemuda perusak dan gemar melakukan kerusakan. 


Islam adalah Solusi Bagi Generasi


Berbeda ketika diatur dengan sistem Islam yang diterapkan secara praktis oleh negara yang menerapkan Islam secara kafah. Islam mengajarkan untuk tidak memisahkan aturan Allah Swt. dari kehidupan dan Islam juga mewajibkan semua hal dikaitkan dengan aturan Allah Swt..


Keberadaan negara dalam Islam adalah sebagai instansi yang menerapkan hukum Allah Swt. Islam memandang generasi sebagai aset peradaban, karena itu Islam memerintahkan negara berperan untuk menjaga, mendidik dan membentuk generasi yang berkualitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, Islam memiliki solusi yang menyeluruh. Di antaranya adalah menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam, negara memberikan akses pendidikan untuk seluruh rakyat secara gratis, suasana lingkungan dan masyarakat yang kondusif, menegakkan sanksi tegas bagi pelaku kejahatan.


Salah satu kurikulum sistem pendidikan Islam, bertujuan untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam. Kepribadian Islam akan menuntun generasi, memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. Standar mereka bukan lagi kepuasan dan materi, tetapi rida Allah Swt..


Dalam mengamalkan apa yang diperintahkan Allah Swt. mereka akan ikhlas, bersabar dan menjauhi apa yang dilarang Allah Swt.. Mereka akan berupaya terus menerus berlomba dalam amal shalih dan juga meninggalkan kemaksiatan. Selain sistem pendidikan, media dalam Islam akan melarang semua tayangan yang merusak seperti tayangan berbalut kemaksiatan, kekerasan dan sejenisnya.


Demikianlah Islam membentuk generasi berkepribadian Islam yang mulia. Untuk menyelamatkan dan melindungi generasi dari kerusakan, hanya bisa dilakukan dengan penerapan sistem Islam secara kafah.

Wallahualam bissawab. []

Masyarakat dibuat fobia dengan agamanya sendiri

Sehingga banyak masyarakat enggan untuk mempelajari Islam


Penulis Sri Yana, S.Pd.I.

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Media sosial tak pernah lekang dari informasi-informasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mulai dari kekerasan tak terencana sampai kekerasan berencana. Biasanya awalnya karena hal-hal sepele menjadi tingkat serius, hingga sakit hati.


Sejatinya di dunia tidak ada manusia yang sempurna. Manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hal tersebut adalah suatu kemustahilan. Apalagi sejatinya dalam biduk rumah tangga, percekcokan adalah hal yang umum yang pasti pernah dirasakan oleh insan manusia yang pernah berumah tangga.


Hal tersebut semestinya dijadikan pelajaran dan hikmah agar ke depannya kehidupan rumah tangga berjalan lebih baik. Sehingga suami dan istri akan berhasil mengarungi bahtera rumah tangga dengan berpegang kepada hukum syarak. Tidak saling mendahulukan ego semata. Sebab, ego yang berlebihan dapat merusak fungsi keluarga seutuhnya. Sehingga menyebabkan percekcokan dalam rumah tangga.


Sayangnya, berita KDRT seolah tiada habisnya. Dikutip dari kompas, 22/03/2024, seorang perwira Brimob dilaporkan oleh istrinya, melalui kuasa hukumnya, Renna A. Zulhasril, ke Kepolisian Resor (Polres) Metro Depok, karena telah menganiaya istrinya hingga keguguran.


Berita tersebut menjadi cerminan buruknya akhlak seorang suami. Tidak hanya menodai institusi tempatnya mengabdi, tetapi juga gagal menjadi perisai bagi istri dan keluarganya. Apalagi sejatinya suami adalah qawwam bagi istrinya, sebagaiman firman Allah Swt, "Laki-laki (suami) itu penjaga bagi istrinya." (TQS. An-Nisa: 34).


Nyata, bahwa dalam naungan sistem sekularisme-kapitalisme ini tatanan keluarga sudah hancur. Marwah seorang suami sudah hilang karena perilakunya. Memang banyak faktor yang menyebabkan terjadinya KDRT, yaitu agama yang kian hari memudar, bahkan masyarakat dibuat fobia dengan agamanya sendiri. Sehingga banyak masyarakat enggan untuk mempelajari Islam.


Islam dianggap hal yang menyeramkan dengan aturan sanksi potong tangan, rajam, dan sebagainya. Masyarakat belum mengetahui secara terperinci dan secara jelas tentang aturan Islam. Padahal Islam adalah agama yang adil, serta menjamin hak-hak umat. 


Sejatinya, Islam adalah agama yang paripurna, hukum Islam mengatur seluruh aspek kehidupan umatnya. Dengan adanya aturan Islam berarti fungsi keluarga akan berjalan dengan baik. Sehingga kehidupan suami istri akan berjalan dengan baik karena mereka menjalankan karena iman dan takwa seseorang. Walaupun ada permasalahan dapat dibicarakan antara pihak suami dan istri dengan baik-baik. Andai masalah dalam rumah tangga tidak dapat menemui jalan keluar, suami dan istri dapat mencari pihak mediasi. Bukan menghadapi masalah dengan ego, apalagi dengan adanya KDRT.


KDRT dalam Islam akan diberikan sanksi yang tegas agar tidak terulang lagi, serta mengantisipasi munculnya KDRT-KDRT yang lain. Sebab, kerap kali yang menjadi korban KDRT sebagian besar adalah perempuan. 


Sejatinya, Islam sangat memuliakan perempuan. Ditulis dengan emas bagaimana sistem Islam melindungi perempuan. Diceritakan bahwa ada seorang Muslimah yang sedang berbelanja ke pasar. Kemudian jilbabnya disingkap oleh seorang Yahudi Bani Qainuqa. Sehingga muslimah tersebut berteriak minta tolong. Seorang sahabat pun menolongnya, tetapi kemudian dibunuh oleh sekelompok Yahudi.


Akhirnya, berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw. dan beliau langsung mengumpulkan tentara untuk menyerbunya, kemudian mengepungnya selama 15 hari. Hal tersebut menyebabkan Yahudi menyerah dan keluar dari Madinah.


Sungguh mulia seorang muslimahl dalam naungan sistem Islam. Niscaya tidak akan ada kasus-kasus KDRT berulang karena para  akan memperlakukan perempuan sebaik mungkin. Begitu juga para qawwam akan dibina supaya dapat menghormati dan menghargai perempuan. Wallahualam bissawab. []

Inilah dampak buruk dari kehidupan yang diatur oleh sistem kapitalisme-sekular

Masyarakat dimiskinkan, dijauhkan dari agama, hingga merusak diri, keluarga dan masyarakat


Penulis Verawati S.Pd

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Sabda Nabi Muhammad saw. bahwa kemiskinan mendekati pada kekufuran. Kekufuran bermakna bisa jadi keluar dari agama Islam, atau tetap beragama Islam tapi perilakunya sudah menyimpang dari Islam. Seperti yang hari ini menyelimuti kita yaitu muamalah yang bersifat ribawi seperti pinjaman online. Bahkan pelanggannya tambah banyak, meski di tengah bulan Ramadan.


Sebagaimana dilansir media Tirto. id (03/05/2024), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pertumbuhan utang pada perusahaan P2P lending atau pinjaman online (pinjol) akan meningkat pada saat Ramadan sampai Lebaran 2024. Hal ini diproyeksi lantaran adanya demand atau permintaan terhadap kebutuhan masyarakat yang juga naik saat bulan suci tersebut. 


Padahal sudah sangat jelas bahwa bunga atau riba dalam Islam  hukumnya adalah haram. Pengharamannya bersifat mutlak. Tidak ada uzur bagi siapa pun. Bahkan orang-orang  yang terlibat di dalamnya termasuk pencatat dan saksi ikut adalah orang yang berdosa.


Sebagaimana sabda Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598)


Memang, tak bisa dimungkiri, kondisi hari ini sangat mudah sekali untuk meminjam secara online. Didorong oleh kebutuhan hidup yang terus meningkat, terlebih saat puasa atau Ramadan. Harga-harga barang terus meningkat terutama sembako ditambah berbagai kebutuhan  idul Fitri dan mudik lebaran.


Sisi lain, munculnya gaya hidup yang selangit. Hari ini gaya hidup glamor tidak hanya dimiliki oleh orang berduit, masyarakat secara umum yang mayoritas kelas ekonomi rendah pun didorong  hidup glamor. Misal makan dan minum di restoran yang viral akan merasa keren, nongkrong di kafe sudah dianggap kebutuhan dan lain sebagainya. Intinya food, fashion, fun dan film harus mengikuti tren jika tidak ingin dianggap kuno.


Semua ini berpangkal  pada sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan. Sistem ini melahirkan kesenjangan yang sangat jauh. Sebab kapitalisme mengukuhkan para pemilik modal, kekayaan berkumpul hanya pada mereka saja. Sedangkan sebagian besar masyarakat hidup dalam kondisi miskin. Sebab sumber-sumber kekayaan sudah dikelola oleh modal. Sedangkan rakyat rebutan bubuknya saja.


Dengan kondisi seperti ini, banyak masyarakat yang menghalalkan segala cara. Tak heran banyak anak-anak yang bercita-cita  ingin jadi Youtuber, tiktoker, dan selebriti. Tidak hanya itu kasus kejahatan seperti banyak dilakukan demi meraih cuan, mulai dari jual diri hingga jual ginjal.


Karena kapitalisme memanjakan nafsu, memfasilitasi nafsu untuk dipuaskan. Padahal nafsu itu harusnya diatur dan ditundukkan.  Maka tak heran, meski berada dalam bulan Ramadan, puasa jalan, pinjol lancar. Sebab bukan lagi agama yang dijadikan standar, tapi sudah kenikmatan duniawi.


Apakah pinjol solusi? Banyak contoh orang yang pinjol mendapatkan teror di media sosial, diumumkan di grup-grup What's App. Selain malu, banyak juga yang hancur rumah tangganya (bercerai) hingga bunuh diri.


Salah satu contohnya yaitu aksi nekat dilakukan seorang pemuda di Kota Kediri. Ia ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya. Dia diduga nekat mengakhiri hidupnya diduga gegara terjerat utang pinjaman online (pinjol) akibat game. (Detik com,14/12/2023)


Inilah dampak buruk dari kehidupan yang diatur oleh sistem kapitalisme-sekular. Masyarakat dimiskinkan, dijauhkan dari agama, hingga merusak diri, keluarga dan masyarakat. Jadi, sudah selayaknya kita meninggalkan sistem ini dan berganti dengan sistem Islam.


Sebab hanya dalam Islam, jaminan kehidupan yang benar dan baik itu bisa diwujudkan. Dalam Islam kekayaan dibagi menjadi tiga bagian. Ada kekayaan milik pribadi, milik umat dan milik negara. Barang-barang seperti air, listrik, BBM, hutan adalah milik umum. Pengelolaannya diserahkan pada pemerintah dan hasilnya akan dikembalikan pada rakyat.


Islam pun mendorong untuk saling membantu antar sesama yaitu dengan saling memberikan pinjaman (tabaru) tanpa bunga. Negara juga akan memberikan pinjaman atau harta secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak diperbolehkan adanya transaksi ribawi. Sebab jelas keharamannya.  Masih banyak hukum-hukum Islam yang mampu menjamin kehidupan ini lebih baik lagi. Lebih dari itu, ketika aturan Islam diterapkan, keberkahan akan hadir.


Sebagaimana Firman-Nya "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raaf: 96)

Wallahualam bissawab. []

Pluralisme sangat bertentangan dengan syariat Islam

Dalam ajaran Islam, agama yang diridai Allah Swt. adalah Islam, bukan yang lain


Penulis Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik


Matacompas.com, OPINI -- Akan seperti "gado-gado" yang campur aduk menjadi satu, mungkin kurang lebih seperti itulah wujud Kantor Urusan Agama (KUA) di masa mendatang, apabila wacana dari Menteri agama Republik Indonesia (RI), Yaqut Cholil Qoumas jadi direalisasikan. Beliau melontarkan pertanyaan bahwa KUA akan menjadi pusat menikah bagi semua agama. Padahal, selama ini masyarakat mengenal KUA sebagai tempat pengaturan pencatatan pernikahan umat muslim. Ada apa di balik wacana kontroversial ini?


Yaqut juga mendorong agar KUA bertransformasi, dan tidak hanya mengurus dan mencatat pernikahan umat muslim saja. Pernyataan beliau disambut pro dan kontra oleh masyarakat. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Bandung, Aam Muamar, justru mendukung ide tersebut. Kepada wartawan Beliau mengaku tidak keberatan, KUA mencatat pernikahan warga non muslim. Beliau mengatakan, "KUA memang seharusnya melayani semua warga negara, secara regulasi ide ini tidak ada masalah, akan tetapi tidak boleh memantik permasalahan sosial, sehingga perlu persetujuan masyarakat sekitar," ucapnya. (media online inilahkoran, Rabu, 18-2-2024)


Wacana bahwa KUA akan melayani semua agama, secara tidak langsung menyulut kontroversi di tengah masyarakat, terutama bagi umat Islam yang merupakan umat mayoritas di negeri ini. Bagaimana tidak? Selama ini masyarakat memahami bahwa KUA adalah identik dengan dengan tempat pencatatan pernikahan muslim. Bahkan Kemenko menjelaskan secara gamblang, bahwa KUA merupakan kantor yang bertugas melaksanakan sebagian tugas kementerian Agama dalam urusan pencatatan pernikahan, rujuk, mengurus, dan membangun masjid, wakaf, zakat, kependudukan, dan pengembangan keluarga sakinah, dan lain-lain. Bagi umat muslim, KUA seolah menjadi barometer peribadatan dan muamalah, khususnya yang mencakup prosesi ibadah pernikahan. 


Fakta lain, banyak kantor KUA yang didirikan di atas tanah wakaf milik umat Islam, dan keberadaannya selama ini berada di bawah Direktorat Jenderal Bimas Islam, yang menangani berbagai urusan umat.


Tidak heran wacana tak lazim yang digulirkan oleh Menang ini pun mendapat "kritik" dari berbagai pihak. Hidayat, salah seorang politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengomentari, "Menurut amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945, pengaturan pembagian pencatatan nikah yang berlaku sejak Indonesia merdeka yaitu muslim di KUA, sedangkan non Muslim di Pencatatan Sipil." tuturnya.


Bahkan dari tokoh nonmuslim sendiri telah mengakui bahwa KUA adalah "milik umat Islam", sebagaimana yang disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian di Persatuan Gereja-gereja Indonesia, Pendeta Henrek Lokra, yang menyebut bahwa dalam ajaran kristen perkawinan dianggap sah jika pemberkatannya dilakukan di Gereja, adapun legalitasnya dilakukan di kantor catatan sipil.


Wacana dari Kemenag ini sepertinya tidak lepas dari proyek moderasi Islam, yang sedang digencarkan oleh pemerintah. Proyek yang bertujuan menciptakan muslim yang moderat. Adapun karakter muslim moderator yaitu muslim yang menyebarluaskan dimensi-dimensi kunci peradaban demokrasi, termasuk di dalamnya mengusung gagasan (ide) tentang Hak Asasi Manusia (HAM), kesetaraan gender, pluralisme, serta menerima sumber-sumber hukum nonsektarian. Padahal, proyek-proyek yang berasal dari Barat ini sesungguhnya merupakan proyek yang sangat berbahaya.


Perubahan atau alih fungsi KUA yang awalnya mengurus dan mencatat pernikahan warga muslim, berubah melayani semua agama, dikhawatirkan dapat mengarah kepada pernikahan beda agama. Ini akan mirip "gado-gado", ketika semua catatan pernikahan dari berbagai agama tumplek di KUA. Nanti secara otomatis KUA akan menjadi arena lintas agama. Jika hal ini terjadi, tentu akan menjadi masalah besar bagi umat, karena dapat merusak akidah mereka.


Kebijakan kontroversial ini terlahir dari penerapan sistem sekularis, yakni pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini perlu diwaspadai sebab sekularisme mendukung penuh paham "pluralisme", yaitu paham yang menganggap semua agama adalah sama. 


Pluralisme sangat bertentangan dengan syariat Islam. Dalam ajaran Islam, agama yang diridai Allah Swt. adalah Islam, bukan yang lain.


Firman Allah Swt., "Sesungguhnya agama di sisi (yang diridai) Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungannya.” (TQS. Ali-Imran [3]:19)


Wacana KUA melayani semua agama ini berasal dari ide sekularisme yang diusung oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam. Proyek ini nantinya akan makin menjauhkan umat Islam dari kehidupan. Orang yang telah terpapar paham pluralisme akan mudah bergonta-ganti agama. Keimanannya rapuh, tidak kokoh, mudah berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kehidupan akhirat terlupakan, sementara dunia dikejar mati-matian.


Sabda Rasulullah saw., "Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi beriman, di waktu sore ia telah kafir, dan di waktu sore beriman di waktu pagi menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No 4894)


Sistem kapitalis-liberalis yang diterapkan di negeri ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang sekuler. Kebijakan yang diambil bukan berasal dari Islam, tetapi mengekor kepada peradaban Barat yang rusak dan merusak. Oleh karena itu tidak ada lagi sistem (hukum) yang layak diterapkan, selain sistem Islam. Sebab hanya Islam yang memiliki ajaran yang mulia. Salah satunya adalah menjaga akidah umat, agar umat tetap istikamah melaksanakan syariah secara kafah.

Wallahualam bissawab. []

Peran perempuan adalah ujung tombak dalam tatanan keluarga

Mereka adalah istri yang merawat rumah tangga suaminya, ibu yang mendidik anak-anaknya, anak yang wajib berbakti pada orang tuanya, hingga sebagai bagian dari anggota masyarakat yang memiliki peran aktif di dalamnya


Penulis Sri Nurhayati, S.Pd.I

Praktisi Pendidikan


Matakompas.com, OPINI -- Setiap 8 Maret menjadi hari peringatan perempuan sedunia. Pada tahun ini dalam peringatan Hari Perempuan PBB mengangkat tema, Invest in Wowen: Accelerate Progress (Berinvestasi pada Perempuan: Mempercepat Kemajuan). Pengambilan tema ini diharapkan dapat meningkatkan peran perempuan dalam membantu mewujudkan kesejahteraan dunia.


PBB menganggap investasi pada perempuan ini dapat membawa pada perubahan dan mempercepat transisi dunia. Hal ini karena perempuan memiliki jumlah populasi yang besar di dunia. Jumlah perempuan menurut data Bank Dunia pada akhir tahun 2022 49,68% penduduk dunia atau sekitar 3,95 miliar jiwa. Banyaknya jumlah perempuan ini menjadikan mereka tulang punggung perekonomian.


Di Indonesia sendiri, menurut Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan dan Rentan Kementerian PPPA Eni Widiyanti bahwa saat ini telah banyak capaian yang diraih oleh perempuan-perempuan Indonesia. Banyak perempuan yang berperan dalam berbagai bidang.


Namun, menurut beliau data masih menunjukkan adanya kesenjangan gender yang terbuka lebar. Untuk hal itu, Kemeterian PPPA menjadikan Hari Perempuan Internasional 2024 ini sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi, pentaheliks dengan akedemisi, dunia usaha, media, dan organisasi masyarakat sipil agar kesetaraan gender dapat terwujud.


Demi mewujudkan semua itu, segala upaya telah dilakukan demi memanfaatkan peran perempuan ini, agar dapat mempercepat kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Seperti program pengembangan UMKM merupakan salah satunya. Negara didorong untuk berinvestasi terus digalakan. Begitu pun perempuan terus didorong untuk mengambil bagian dalam bidang ekonomi.


Perempuan terus didorong dalam mengambil bagian ini dengan terus dituntut untuk berkarya yang sejatinya adalah bekerja untuk menjadi mesin pencetak uang. Mereka yang memiliki penghasilan dianggap memiliki kontribusi yang penting dalam kemajuan ekonomi sebuah negara.


Peran Perempuan yang Sesungguhnya   


Perempuan dituntut dalam memajukan perekonomian dunia sesungguhnya adalah bentuk eksploitasi perempuan yang berbalut kata kontribusi. Ibarat racun berbalut madu, eksploitasi perempuan dibalut dengan kata-kata manis, mereka dianggap berkontribusi ketika memiliki penghasilan sendiri. 


Pandangan semacam ini, sesungguhnya justru hal yang berbahaya. Ini akan mendorong perempuan lebih sibuk di luar demi mencari penghasilan alias uang daripada menjalankan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang menjadi kewajiban mereka. 


Karena sesungguhnya peran perempuan adalah ujung tombak dalam tatanan keluarga. Mereka adalah istri yang merawat rumah tangga suaminya, ibu yang mendidik anak-anaknya, anak yang wajib berbakti pada orang tuanya, hingga sebagai bagian dari anggota masyarakat yang memiliki peran aktif di dalamnya.


Islam telah menetapkan dua peran penting perempuan, yaitu sebagai ibu dan pengelola rumah. Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi para buah hatinya. Ibu adalah peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak. Ibu mempersiapkan anak menjadi generasi pejuang. 


Sebagai seorang pengurus rumah tangga, perempuan juga dimuliakan. Lihat bagaimana jawaban Rasulullah saw. saat Asma’ binti Yazid menyampaikan kebimbangannya apakah peran istri di rumah akan sama mulia dengan peran laki-laki.


Rasulullah saw. bersabda, “Pahamilah, wahai perempuan, dan ajarkanlah kepada para perempuan di belakang kamu. Sesungguhnya amal perempuan bagi suaminya, meminta keridaan suaminya dan mengikuti apa yang disetujui suaminya setara dengan amal yang dikerjakan oleh kaum lelaki seluruhnya.”


Namun, hal ini bukan berarti peran utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbah al-bayt) menjadikan dirinya tidak memiliki kiprah di tengah masyarakat. Karena, peran perempuan yang lain ini terdapat dalam firman Allah Swt. surat at-Taubah ayat 71. Bahwasannya Allah Swt. telah menetapkan bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam melakukan amar makruf nahi munkar atau aktivitas saling menasihati di tengah masyarakat. Mereka tolong-menolong (ta’awun) dalam menjalankan aktivitas yang menjadi pilar kehidupan bermasyarakat, termasuk keluarga di dalamnya. 


Allah Swt. telah memerintahkan bagi kaum laki-laki dan perempuan untuk melakukan aktivitas berdakwah, mengoreksi penguasa dan mengurusi urusan umat. Bagi perempuan, aktivitas ini merupakan wajib yang harus dilakukan di samping pelaksanaan kewajiban utama dan aktivitas pokoknya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah.


Perempuan sebagai bagian dari anggota keluarga dan masyarakat mempunyai peran penting dalam menjaga keutuhan keluarga umat dari kerusakan akibat liberalisme yang telah membawa keluarga ke ambang kehancuran. Maka dari itu sudah seharusnya kita mengoptimalkan peran ini.


Peran Perempuan Sebagai Pembentuk Generasi


Pentingnya peran perempuan dalam sebuah peradaban sangat diperhatikan oleh Islam. Oleh karena itu, Islam memiliki aturan yang akan memudahkan seorang perempuan agar bisa berkontribusi dalam ranah publik tanpa meninggal fitrahnya sebagai seorang ibu dan menjalankan peran pentingnya, seperti, mewajibkan dan memerintahkan bagi seorang ayah untuk mencukupi nafkah ibu. Bahkan apabila ada seorang perempuan yang diceraikan dan pada saat yang sama ia sedang menyusui, maka wajib bagi ayah sang anak membayar upah penyusuannya (QS. Al-Baqarah ayat 234). 


Hal ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak anak mendapatkan penyusuan yang sempurna. Di sini pula menjadikan perempuan bisa mengembangkan potensinya tanpa terbebani dengan masalah mencari nafkah. Ketika dia menyusui anaknya, dia dapat melakukan aktivitas yang dia minati, seperti menuntut ilmu atau aktivitas yang ia minati. Selama hal itu tidak membuatnya melalaikan tugas utamanya.


Selain itu, untuk mengoptimalisasi peran ibu dalam menjalankan tugasnya mengasuh dan mendidik anak, ibu dibebaskan dari berbagai kewajiban seperti salat berjamaah di masjid, bekerja, berjihad, dan hukum-hukum lain yang akan menelantarkan fungsi keibuannya. Sehingga ia bisa menjalankan dan mengembangkan keahlian yang dimiliki.


Islam telah menetapkan aturan-aturan yang jelas terkait kehamilan, penyusuan, pengasuhan dan perwalian. Hal ini tak lain agar perempuan tetap dapat mengoptimalkan dan menjalankan peran utamanya dengan baik. Selain itu, Islam memiliki aturan yang sempurna dalam menjaga perempuan untuk tetap menjalankan kontibusi tanpa meninggalkan tugas utama mereka sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Islam menjadikan Negara memiliki peran yang sangat penting dalam menjaganya. 


Semua itu akan terwujud dalam penerapan aturan Islam kafah dalam bingkai khilafah. Peradaban kegemilang Islam yang akan kembali tegak di bumi ini. Wallahualam bissawab. []


Boikot terhadap produk fisik Israel itu perlu, tetapi boikot pemikiran yang membuat negeri-negeri muslim diam dan hanya menjadi penonton itu lebih diperlukan

Produk pemikiran yang dimaksud adalah nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme


Penulis Yuli Ummu Raihan

Aktivis Muslimah Tangerang


Matacompas.com, OPINI -- Datangnya bulan Ramadan tidak membuat zionis Israel menghentikan genosida terhadap saudara kita di Palestina khususnya Gaza. Justru zionis makin membabi buta melakukan aksinya hingga menyebabkan jumlah korban telah lebih dari 30.000 orang, kehancuran bangunan, dan Gaza darurat kelaparan.


Sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza, muncul seruan untuk memboikot produk-produk yang terindikasi berasal atau terafiliasi dengan Israel. Pada momen Ramadan ini kurma asal Israel menjadi salah satu produk yang diboikot.


Ketua PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf menekankan bahwa aksi boikot ini tidak cukup berpengaruh pada ekonomi mereka. Perlu usaha yang lebih besar dari Indonesia dan negara-negara di dunia untuk memaksa Israel menghentikan serangannya. (TVOne.News, 9/3/2024).


Sementara Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto mengatakan, produk kurma buatan Israel hukumnya haram. Hal ini tercantum dalam Fatwa Nomor 83 Tahun 2923 tentang Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina.


Ketua PBNU, Ahmad Fahrur Rozy (Gus Fahrur) ikut mendukung fatwa ini sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.


Israel adalah salah satu produsen kurma terbesar di dunia khususnya kurma jenis Medjool. Sepertiga dari total ekspor kurma produksi Israel dilakukan selama Ramadan. Namun sekarang mereka menghentikan iklan untuk mempromosikan kurma Medjool senilai USD 550.000. (Kumparan.com, 3/3/2024).


Boikot produk Israel sering dijadikan cara untuk mengekspresikan solidaritas terhadap Palestina. Boikot juga sebagai bentuk tekanan terhadap zionis untuk mengakhiri genosida.


Aksi boikot ini mungkin tidak bisa menghentikan kekejaman zionis, tetapi berhasil membuat mereka ketar-ketir. Setidaknya laporan Al Jazeera pada 2018 lalu mengungkapkan bahwa gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$11.5 miliar atau sekitar Rp180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi Israel. (CNBC Indonesia, 19/11/2023).


Dalam beberapa waktu terakhir, misi prioritas diplomatik Israel adalah penanggulangan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang mendukung gerakan boikot. Sebab berpotensi meningkatkan pengangguran.


Melansir dari The Jerusalem Post, Israel membantah bahwa gerakan boikot dapat merugikan mereka.  Justru mereka mengatakan hal ini akan menambah penderitaan rakyat Palestina.


Palestina Masih Berduka


Meskipun masih berada dalam kondisi memprihatinkan masyarakat Palestina tetap bersukacita menyambut bulan suci Ramadan. Tarawih pertama sekitar 35.000 jemaah memadati Masjidilaqsa.


Sayangnya zionis terus melakukan pembatasan kepada kaum muslim untuk beribadah, mereka dipukuli, dan hanya laki-laki berumur 40 tahun ke atas serta wanita yang bisa masuk masjid. (Tribunnews.com, 12/3/2024).


Kondisi masyarakat Palestina kian hari makin memprihatinkan. Mereka menunggu antrian syahid akibat serangan tiada henti dan tanpa hati dari zionis serta akibat bencana kelaparan.


Mereka telah berpuasa sejak lima bulan lalu tanpa sahur dan berbuka. Kalau pun ada bantuan tidak seimbang dengan kebutuhan mereka.


Mirisnya dunia hanya mengecam dan melakukan perundingan. Bahkan lembaga dunia PBB tidak bisa berbuat apa pun.


Boikot terhadap produk fisik Israel itu perlu, tapi boikot pemikiran yang membuat negeri-negeri muslim diam dan hanya menjadi penonton itu lebih diperlukan. Produk pemikiran yang dimaksud adalah nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme. Semua ini muncul karena adanya sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan.


Akar masalah Palestina Israel dimulai ketika PBB yang dibidani Inggris mengizinkan entitas Yahudi  tinggal di Palestina. Sejak saat itu penderitaan rakyat Palestina terus terjadi. 


Paham nasionalisme berhasil mencerai-beraikan umat Islam. Tidak ada lagi umat Islam bagaikan satu tubuh. Sekat bangsa begitu kuat sehingga sesama muslim tidak bisa saling bantu. 


Kondisi Palestina dan umat Islam di belahan dunia mana pun tidak baik-baik saja sejak perisai mereka hilang. Umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Menjadi rebutan penjajah dan tidak punya daya apa pun layaknya buih di lautan. Jumlahnya yang banyak tidak bisa berbuat banyak karena Allah telah cabut rasa takut dari jiwa musuh-musuh Islam. Semua ini karena umat Islam hari ini cinta dunia, dan takut mati. 


Standar perbuatan manusia adalah materi dan keuntungan. Kebahagiaan mereka adalah ketika mendapatkan kesenangan dunia sebanyak-banyaknya. Tidak peduli apakah Allah rida atau murka.


Ketika menolong saudara seiman tidak memberikan manfaat, tetapi justru mendatangkan mudharat maka tidak akan dilakukan. Padahal umat Islam wajib saling tolong menolong apalagi dengan kondisi mereka saat ini.


Tidak ada solusi lain untuk Palestina kecuali mengembalikan perisai yang telah lama hilang. Hal ini tidak akan terwujud selama kaum muslimin belum menyadari pentingnya persatuan umat di bawah panji Islam.


Untuk mewujudkan kesadaran ini dibutuhkan institusi bernama Khilafah. Dakwah syariah dan khilafah sangat dibutuhkan agar umat sadar dan terdorong untuk segera menegakkan khilafah.


Semua ini hanya bisa ditempuh dengan dakwah pemikiran yang menjadikan Islam sebagai landasan. Ketika umat bersatu, khilafah akan terwujud dan pembebasan Palestina melalui jihad akan terlaksana.

Wallahualam bissawab. []


Sehingga patut agar kita mewaspadai paham moderasi beragama

Paham tersebut benar-benar dapat merusak akidah umat Islam dengan ajarannya sendiri


Penulis Ratih Fitriandani

Aktivis Dakwah


Matacompas.com, OPINI -- Hangatnya pemberitaan yang akhir ini ramai menjadi kontroversi yaitu dikutip dari salah satu media online INILAHKORAN, Soreang- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bandung tak keberatan jika Kantor Urusan Agama (KUA) mencatatkan pernikahan warga non muslim, dan aulanya digunakan sementara untuk peribadatan mereka. Karena memang, sudah seharusnya KUA itu melayani semua warga negara tak hanya umat Islam saja. Seperti inilah yang diungkapan oleh MUI Kabupaten Bandung "Secara formal yah memang KUA itu untuk melayani semua agama yang ada di Indonesia. Dan mereka juga mempunyai hak yang sama sebagai warga negara. Jadi enggak masalah kalau pernikahan warga non muslim dicatatkan di KUA," kata Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Kabupaten Bandung Aam Muamar, Rabu 28 Februari 2024.


Sejatinya selama ini jika kita cermati peran dan aktivitas KUA dalam melayani keagamaan hampir keseluruhannya adalah menyangkut urusan umat Islam, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Selama peran aktivitas ini berlangsung, agama lain pun tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Berikut penjelasan Kamaruddin menjelaskan bahwa KUA setidaknya memiliki sepuluh layanan utama, yaitu:

 1. Pelaksanaan dalam melayani, mengawasi, mencatat, dan juga pelaporan nikah rujuk

2. Penyusunan statistik layanan dan bimbingan masyarakat Islam

3. ⁠Pengelolaan dokumentasi dan sistem informasi manajemen KUA

4. ⁠Pelayanan bimbingan keluarga sakinah

5. ⁠Pelayanan bimbingan kemasjidan

6. ⁠Pelayanan bimbingan hisab rukyat dan pembinaan syariat 

7. ⁠Pelayanan bimbingan dan penerangan agama Islam

8. ⁠Pelayanan bimbingan zakat dan wakaf

9. ⁠Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KUA

10. Terakhir yaitu pelayanan dalam memberikan bimbingan manasik haji untuk para jemaah haji reguler.


Jelas kita dapati semua bahwa peran dan aktivitas KUA menyangkut pelayanan urusan umat Islam. Maka pastinya ide dan lontaran Menag untuk menjadikan KUA untuk semua agama akan menuai berbagai respons, salah satunya dari Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas. Pada akhirnya beliau meminta kepada Kemenag agar mengkaji ulang ide tersebut agar menghindari adanya keributan di tengah masyarakat.


Terbukti dari fakta di atas bahwa derasnya dan semangatnya yang begitu tinggi untuk menyukseskan adanya moderasi beragama di negeri ini. Sebab mereka menganggap bahwa moderasi agama merupakan solusi dari segala permasalahan yang ada. 


Adapun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 Kementrian Perencanaan Pembangunam Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjadikan moderasi beragama merupakan salah satu proyek besar yang telah disusun. 


Maka hal ini sungguh sangat berbahaya, jika paham moderasi beragama makin gencar pergerakannya, nasib umat Islam akan makin jauh dari ajaran Islam. Seperti kita ketahui, bahwa sesungguhnya umat Islam sudah memiliki jalan hidup yang jelas dan terarah. Yakni harus selalu terikat dengan hukum-hukum syarak, sesuai dengan apa yang dicontohkan tauladan bagi kita semua umat Islam Baginda Rasulullah saw..


Saat ini umat Islam dijaukan pemikirannya dan dibuat bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Sudah saatnya umat Islam kembali pada jalan hidup yang sudah Allah atur dalam wahyu-wahyu yang diturunkan.


Sehingga patut agar kita mewaspadai paham moderasi beragama, karena paham tersebut benar-benar dapat merusak akidah umat Islam dengan ajarannya sendiri. Sehingga akan menjauhkan umat Islam dalam memahami Islam secara kaffah, dan muncul rasa takut belajar Islam, serta ragu terhadap Islam sebagai agama dan aturan hidup. Hal ini merupakan salah satu usaha Barat untuk terus melanjutkan penjajahannya dengan moderasi beragama.


Sudah saatnya kembali pada Islam karena seperti dalam kandungan Surat Ar-Rum ayat 41, bahwa Islam merupakan sebagai rahmat bagi seluruh alam jika umatnya memegang teguh syariat Islam yang mulia. Ketika terjadi kerusakan dan kemudharatan, sudah selayaknya untuk kembali kepada syariat Allah. Oleh karena itu, solusi untuk semua masalah adalah dengan diterapkannya hukum Islam secara kaffah, bukan moderasi beragama. Karena narasi moderasi beragama yang beredar selama ini menyimpan bahaya di balik penampilannya yang ramah, sehingga umat Islam didorong untuk memahami dan menerima paham tersebut. Padahal seharusnya umat Islam memperjuangkan Islam kaffah, serta meninggikan kalimat Allah dalam berdakwah demi kemaslahatan seluruh manusia dan alam semesta.

Wallahualam bissawab. []

Sistem ini lebih mengutamakan keuntungan tanpa memedulikan penderitaan orang lain

Sistem ini telah memberikan perspektif yang salah dalam memaknai bulan suci Ramadan


Penulis Lia April

Pendidik Generasi


Matacompas.com, OPINI -- Rasulullah saw. dalam salah satu petikan khutbahnya ketika akan memasuki bulan Ramadan bersabda, “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardu dan qiyam pada malam harinya suatu tathawwu’. Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardu di dalam bulan yang lain. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin didalamnya.” (HR. Ibnu Huzaimah)


Bulan suci Ramadan adalah bulan yang sangat dinantikan kedatangannya oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia. Begitu pun di negeri ini. Demi menyambut bulan suci Ramadan, masyarakat mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memenuhi segala kebutuhan pangan. Masyarakat cenderung akan berbelanja lebih banyak demi persiapan Ramadan. Hal demikian menyebabkan permintaan menjadi naik sehingga harga pangan pun menjadi naik setiap kali menjelang bulan suci Ramadan. Bahkan, hal ini sudah menjadi suatu tradisi yang berulang di setiap tahunnya.


Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan harga komoditas pangan akan mengalami inflasi pada bulan Ramadan. Hal ini merupakan situasi musiman seperti tahun-tahun sebelumnya. (CNBC Indonesia Media online)


Habibullah mengatakan, kenaikan harga itu disebabkan permintaan yang meningkat pada bulan Ramadan. Adapun, beberapa komoditas yang berpotensi naik di antaranya, daging ayam, minyak goreng, dan gula pasir. Dia bilang kenaikan harga-harga komoditas tersebut akan mendorong tingkat inflasi secara umum.


Mengapa hal ini kerap terjadi? Mengapa harga pangan selalu menjadi primadona jelang bulan Ramadan?


Tidak lain dan tidak bukan hal ini disebabkan oleh sistem ekonomi yang diterapkan saat ini, yaitu sistem ekonomi kapitalisme. Kalau kita melihat dari hukum permintaan dan penawaran maka dalam teori ekonomi kapitalisme ketika permintaan naik maka harga pun akan ikut naik pula. Dalam sistem ini peran negara pun hanya sebagai regulator saja. Sistem ini lebih mengutamakan keuntungan tanpa memedulikan penderitaan orang lain. Sistem ini telah memberikan perspektif yang salah dalam memaknai bulan suci Ramadan. 


Hal ini berbanding terbalik dengan Islam. Dalam bulan suci Ramadan Islam mendorong setiap umat muslim senantiasa khusyuk beribadah dan beramal salih demi menggapai rida Allah Swt..


Peran negara pun sebagai pelayan masyarakat (ra’in) sangat berpengaruh dalam menciptakan kenyamanan setiap masyarakat dalam beribadah dan beramal salih tanpa harus memikirkan melonjaknya harga pangan. Karena dalam Islam pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.


Negara pun ikut serta dalam mengatur dan mengawasi serta memperhatikan mekanisme pasar hingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangannya dengan harga terjangkau. Dalam Islam ketika negara ikut andil di dalamnya maka kenaikan harga pangan jelang Ramadan, penimbunan barang, monopoli dan lain sebagainya tidak akan terjadi.


Ketika syariat Islam telah diterapkan di semua aspek kehidupan, maka akan terbentuk kepribadian yang Islami dalam setiap diri seorang muslim dan kesejahteraan masyarakat pun dapat terwujud. Sehingga, masyarakat yang miskin tidak akan disibukkan dengan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan pangan nya dan yang kaya tidak akan disibukkan dengan sifat konsumtif nya. Masyarakat akan memanfaatkan bulan suci Ramadan dengan berbagai amal ibadah sesuai dengan tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya. Semuanya difokuskan dengan ibadah lillahi ta’ala.

Wallahualam bissawab. []

 


Islam memiliki sistem ekonomi Islam yang menjamin kemudahan berusaha termasuk dalam penyediaan dana

Tentu saja tanpa riba karena Islam mengharamkan riba


Oleh Leihana

Ibu Pemerhati Umat


Matacompas.com, OPINI -- Ramadan adalah bulan suci yang sangat dirindukan umat Islam di seluruh dunia. Selain bertabur banyaknya pahala, beberapa muslim juga didesak banyak kebutuhan dan tingginya harga kebutuhan pokok.


Sudah sepantasnya ibadah puasa di bulan Ramadan mendidik pribadi umat Islam lebih bersahaja dengan pelatihan melawan hawa nafsu yang dijalani di siang hari. 


Namun, tidak bisa dimungkiri umat Islam di negeri ini terbiasa dengan tradisi meningkatkan bujet belanja untuk sekadar memasak makanan yang mengundang selera anak akan semangat sahur hingga ingin memberikan yang terbaik untuk di hari raya. 


Besarnya permintaan dan juga ada oknum yang mencurangi harga, membuat harga-harga kebutuhan pokok selalu melambung sejak menjelang awal Ramadan hingga hari raya. Meski sebagian masyarakat terbantu oleh adanya tunjangan hari raya (THR) bagi yang bekerja, tetapi kenaikan harga baru-baru ini membuat uang THR pun diduga tidak akan mencukupi kebutuhan tersebut. 


Mirisnya, ada banyak kalangan masyarakat terpaksa harus terlibat dengan pinjaman online agar tetap bisa bertahan di tengah kenaikan harga yang ugal-ugalan. Hal ini sudah diprediksi oleh Ketua Umum AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) Entjik S. Djafar memprediksi bahwa penyaluran dana pinjaman online akan meningkat di Ramadan 2024 hingga 12%. Hal ini juga diduga akan memicu inflasi dan kredit macet. (bisnis.com,3 Maret 2024)


Hal tersebut juga senada dengan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) penyaluran pinjaman online akan naik 11–13% sejak Ramadan 2024 hingga menjelang Lebaran selain desakan kebutuhan sehari-hari juga untuk kebutuhan mudik. (tirto[dot]id, 5 maret 2024)


Selain pinjaman untuk kebutuhan individu atau pribadi, ada juga pinjaman yang ditujukan untuk kebutuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Ternyata OJK pun tengah menyoroti agar pinjaman bisa dialokasikan lebih besar untuk kebutuhan UMKM. Meskipun menurut data pinjaman untuk UMKM pun alami kenaikan di rentang tahun 2018–2023.(bisnis[dot]com,10 Maret 2024)


Ternyata kenaikan pinjaman online yang cukup signifikan di tahun 2023 itu juga salah satunya didominasi oleh UMKM. Menurut Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi, Aman Santosa sebesar 38,39% nilai pinjaman online yang meningkat itu merupakan pembiayaan kepada pelaku UMKM. (cnbcindonesia, 10 juli 2023)


Pertumbuhan utang melalui pinjol bukan sesuatu yang baik, terlebih lagi diprediksi pinjol akan mengalami kenaikan pada bulan Ramadan. Pasalnya UMKM butuh modal untuk meningkatkan produksi akibat permintaan meningkat. Pinjol menjadi pilihan karena prosedur lebih mudah dibandingkan perbankan dan perusahaan pembiayaan. Mirisnya, pinjol juga berbunga, sesuatu yang diharamkan dalam Islam dan pada akhirnya akan merugikan dan membuat peminjam terlibat utang tak berkesudahan. 


Pada kondisi ideal memang secara alami harga naik karena banyaknya permintaan, tetapi kenaikan masih dalam jangkauan kemampuan daya beli masyarakat. Lain halnya dengan kondisi pasar menjelang Ramadan tahun ini yang bersamaan dengan pasca pemilu di mana harga kebutuhan pokok seakan beralih, bukan lagi naik, tetapi berganti harga. Terutama beras yang menjadi kebutuhan pokok utama rakyat Indonesia yang naik ugal-ugalan. 


Akan tetapi, tentunya faktor kenaikan harga itu bukan sekadar karena banyaknya permintaan menjelang Ramadan. Selain ada oknum spekulan yang menimbun, jelas kurangnya kontrol pemerintah dalam mengawasi dan mengatur distribusi yang tepat membuat mafia pasar berani menimbun jutaan ton beras untuk mengambil keuntungan besar di tengah kenaikan harga. 


Berutang, baik dalam ajaran Islam dan sistem saat ini memang diperbolehkan, bahkan menjadi solusi ketika kesulitan menutupi kebutuhan pokok. Hanya saja dalam ajaran Islam berutang dengan mekanisme riba seperti pinjaman perbankan dan online pada umumnya saat ini yang menerapkan bunga dalam pengembalian utangnya. Dosa riba termasuk dosa besar yang harus dihindari sekuat mungkin oleh kaum muslimin.


Namun, di sistem saat ini justru pemerintah mendorong rakyatnya berutang terutama bagi kalangan UMKM. Bahkan ketika angka pinjaman utang menurun justru disoroti untuk ditingkatkan. Sedangkan dalam ajaran Islam menjadikan negara sebagai raa’in (penanggung jawab), termasuk dalam menyediakan dana untuk UMKM. 


Negara berperan dalam mengembangkan usaha rakyat, sebagai salah satu sumber mata pencaharian rakyat.  Islam juga  memiliki sistem ekonomi Islam yang menjamin kemudahan berusaha termasuk dalam penyediaan dana. Tentu saja tanpa riba karena Islam mengharamkan riba. 


Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur'an;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." (TQS. Ali Imran [3]: 130)


Kontrol negara tentu saja benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok.

 

Negara juga seharusnya bertanggung jawab agar masyarakatnya tidak terjebak dalam utang yang menjerumuskan dan mengandung praktik haram ribawi. Akar permasalahannya tentu adalah karena sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem sekuler yang menjauhkan Islam dari aturan kehidupan. Sistem pemerintahan juga mengadopsi sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individu terutama bagi para pemilik modal. Sehingga tradisi meminjam uang dengan sistem ribawi justru dipelihara dan didorong untuk terus dilakukan oleh masyarakat dan pada akhirnya kembali masyarakat yang akan makin sulit hidupnya dan terbebani.


Tentu saja tidak ada jalan lain untuk memecahkan persoalan ini selain dengan menerapkan sistem Islam kafah agar terwujud tata kehidupan yang sejahtera dengan pengaturan negara yang bertanggung jawab untuk setiap kebutuhan individu masyarakat secara menyeluruh tanpa kecuali. 

Wallahualam bissawab. []

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.