Articles by "Analisis"

Tampilkan postingan dengan label Analisis. Tampilkan semua postingan

Prinsip sekularisme dalam pendidikan tidak kalah memprihatinkan

Disorientasi, tidak memiliki visi hidup jelas, merupakan hasil dari sistem pendidikan yang gagal menanamkan keimanan dan ketaatan


apt. Siti Nur Fadillah, S.Farm

Pegiat Literasi 

 

Matacompas.com, ANALISIS -- Rangkaian Kasus yang Tidak Kunjung Usai


Belum usai dengan kasus penganiayaan anak di pesantren, publik kini dikagetkan dengan kasus penganiayaan anak selebgram Aghnia Punjabi oleh pengasuhnya. Terungkap, pengasuh menganiaya balita 3 tahun tersebut hingga babak belur dikarenakan pengasuh kesal sebab korban tidak mau minum obat. Selain itu, Kasat Reskrim Polresta Malang, Danang Yudanto, mengungkapkan ada satu anggota keluarga pengasuh yang sedang sakit, sehingga memicu kekesalan pengasuh dan berakhir pada penganiayaan korban. Kepolisian juga menyebutkan saat peristiwa penganiayaan terjadi, kedua orang tua korban sedang berada di luar kota. Pengasuh yang terbukti bersalah dijerat dengan pasal 80 (1) sub (2) UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah (Liputan6, 30/03/2024).


Kasus penganiayaan ini merupakan satu bongkahan kecil dari besarnya gunungan masalah kekerasan pada anak. Berdasarkan laman resmi SIMFONI-PPA, sejak Januari 2024 hingga hari ini terdapat 5.462 kasus kekerasan. Dimana kekerasan rumah tangga menempati urutan pertama jumlah kasus berdasarkan tempat kejadian, yaitu 3.347 kasus. Tren kasus kekerasan pada anak juga cenderung meningkat setiap bulan. Kondisi ini sangat miris, mengingat 10 tahun sudah perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disahkan. Maka tidak heran, kapabilitas pemerintah dalam menjamin keamanan warga negaranya kembali dipertanyakan.

 

Menyoal Jaminan Keamanan dalam Sistem Sekuler


Jika meninjau UU Perlindungan Anak, bisa dipahami bahwa pemerintah hanya berfokus pada penanggulangan dibandingkan pencegahan. Pengaduan, bantuan hukum, rehabilitasi, maupun pendampingan tokoh agama. Padahal faktor penyebab perilaku kekerasan berkisar pada pemahaman orang tua atau pengasuh; tekanan ekonomi; dan lingkungan, yang pada dasarnya dapat dicegah sedini mungkin. Dalam kasus anak Aghnia Punjabi misalnya, lantaran pengasuh kurang memahami bahwa pengasuhan anak memerlukan kesabaran, ditambah adanya permasalahan keluarga, emosi yang tidak terbendung akhirnya menguasai akal sehat dan melampiaskannya pada anak.


Pencegahan perilaku kekerasan merupakan hal yang harus dilakukan secara sistemis, sebab akar masalahnya pun sistemis. Solusi yang diberikan pun tidak jauh dari perbaikan sistem ekonomi dan pendidikan. Namun, melihat kondisi saat ini dimana sistem sekuler menguasai sendi-sendi negara, sangat skeptis rasanya jika mengharapkan perubahan. Sistem sekuler yang berwujud demokrasi ini memiliki prinsip menihilkan peran Allah Swt. sebagai pembuat hukum, serta memberikannya kepada manusia. Dengan kata lain, menghapus kedaulatan Allah, serta menggantinya dengan kedaulatan rakyat. Dalam hal ekonomi, kedaulatan rakyat menyebabkan aturan dasar kepemilikan yang sudah diatur dalam Islam dibuang jauh-jauh. Sumber daya alam yang seharusnya menjadi kepemilikan bersama justru berakhir dikuasai oligarki. Menyisakan rakyat kecil yang harus mati-matian mencari nafkah agar dapat bertahan hidup di tengah mahalnya pangan. Stress, tertekan, depresi bukan hal yang baru dalam sekularisme.


Prinsip sekularisme dalam pendidikan juga tidak kalah memprihatinkan. Disorientasi, tidak memiliki visi hidup jelas, merupakan hasil dari sistem pendidikan yang gagal menanamkan keimanan dan ketaatan. Agama tidak lagi dijadikan landasan dan filosofi pendidikan, tapi hanya salah satu mata pelajaran saja. Itupun dengan porsi yang sangat sedikit. Lalu bagaimana bisa menghasilkan individu yang cerdas, memahami agama, dan taat syariat. Padahal calon ibu shalihah yang berkualitas lahir dari pendidikan Islam yang mendalam. Selain kurangnya pemahaman agama, kerasnya hidup dalam sistem sekularisme juga menyebabkan ibu harus ikut mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan maupun gaya hidup. Meninggalkan kewajiban pengasuhan anak pada orang lain yang kasih sayangnya tentu tidak sebesar kasih sayang ibu.

 

Mewujudkan Keamanan Hakiki dengan Islam


Melihat betapa meragukannya sistem sekuler dalam mengelola negara, maka mengganti sistem adalah solusi utama dan satu-satunya. Dan di antara tiga mabda yang ada di dunia, Islam adalah mabda satu-satunya yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia. Tidak seperti tiga mabda lain, Islam bukan mabda buatan manusia yang lemah dan serba kurang. Islam adalah mabda yang berasas pada keyakinan akan adanya Allah Swt., Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Maka aturan yang terpancar tentu akan sesuai dengan fitrah manusia, sebab Sang pemilik mabda paham betul karakter manusia dan apa yang dibutuhkan manusia.


Dalam hal jaminan perlindungan terhadap kekerasan anak, Islam memiliki mekanisme terbaik yang tidak hanya berfokus pada penanggulangan, tetapi juga pencegahan. Dalam hal pencegahan Islam akan menjamin tercapainya kualitas pendidikan terbaik dan sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan rakyat secara menyeluruh. Serta dalam hal penanggulangan, Islam akan menjamin adanya sistem peradilan yang memutuskan perkara berdasarkan syariat Islam.


Jika kita melihat masa-masa awal kejayaan Islam, maka kita akan menemukan betapa Islam sangat memperhatikan pendidikan. Sebab dalam Al-Qur'an dan Hadis secara jelas Islam mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Selain sebagai kewajiban, Islam juga memandang pendidikan adalah media penting dalam penanaman tsaqofah Islam. Yaitu pengetahuan yang menempatkan akidah sebagai induk pembahasan, pengetahuan yang akan membentuk aqliyah (pola pikir) dan kecenderungan seorang individu, di mana selanjutnya akan mempengaruhi jiwa dan perilakunya. Maka individu maupun masyarakat yang sudah mengemban tsaqofah Islam akan selalu taat syariat, serta terikat dengan aturan Allah apapun kondisinya. Dan hal ini tentu menjadi sebuah jaminan kuat terbentuknya masyarakat yang aman dan jauh dari aksi kekerasan. Dari pendidikan yang berkualitas, juga akan terbentuk calon ibu yang memahami bahwa pengasuhan anak adalah tugas utamanya sebagai ibu.


Sistem ekonomi merupakan salah satu pilar penting dari sebuah negara. Dan sistem ekonomi yang baik adalah yang mampu mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan yang hanya memperkaya si kaya dan memiskinkan si miskin. Berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem sekuler yang membebaskan individu untuk mengeksploitasi SDA, Islam secara tegas mengatur kepemilikan umum akan dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada seluruh rakyat secara adil. Ekonomi dalam Islam juga hanya bertumpu pada sektor riil dan tegas mengharamkan riba, sehingga ekonomi lebih stabil dan nyata mensejahterakan. Ekonomi yang sejahtera tentu tidak akan membuat rakyat tertekan, stress karena banting tulang dari pagi hingga malam. Juga tidak akan mengorbankan para ibu untuk ikut mencari nafkah. Sehingga ibu akan fokus pada tanggung jawab utamanya sebagai ibu rumah tangga dan sekolah pertama anak. Karena sesungguhnya tidak ada pengasuhan terbaik kecuali pengasuhan ibu. Maka apa yang bisa diharapkan dari pengasuhan seorang pekerja yang hanya mengharapkan imbalan.


Selain pencegahan, Islam juga menjamin keamanan melalui sistem peradilan. Sistem peradilan Islam akan memeriksa, mengadili, dan memutus perkara berdasarkan syariat Islam. Yaitu berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan kitab KUHP peninggalan Belanda seperti sekarang. Dalam peradilan Islam berbagai jenis pelanggaran beserta sanksinya sudah ditetapkan secara jelas dan spesifik. Seperti pembunuhan, penganiayaan, perzinaan, perampokan, dll. Peradilan Islam juga tidak flexible dan tidak negotiable, sehingga tidak akan menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan. Putusan hukuman juga jelas, tegas, dan tidak dapat diubah. Peradilan Islam tidak mengenal banding, sehingga siapapun dapat kepastian hukum dengan cepat dan efisien. Dengan sistem peradilan yang tegas dan tidak pandang bulu seperti ini, pelaku kejahatan akan jera dan tidak akan mau mengulanginya lagi.


Seluruh mekanisme tersebut tidak akan bisa diterapkan kecuali dengan adanya institusi yang mau mengemban mabda Islam secara menyeluruh. Institusi yang memiliki prinsip menyatukan agama dan negara, institusi yang mau mengembalikan kedaulatan Allah sebagai pembuat hukum, dan institusi tersebut adalah Khilafah. Khilafah bukan berasal dari pemikiran seseorang, Khilafah juga bukan hasil eksperimen sosial yang bersifat trial and error. Khilafah bersumber dari wahyu Allah melalui lisan Rasulullah, yaitu “Akan kembali Khilafah atas jalan kenabian” (HR. Ahmad dari Hudzaifah r.a.)

Wallahualam bissawab. []

 



Indonesia masuk rangking ke dua di dunia dengan kasus penderita TB terbanyak

Kita masih harus berjuang mengentaskan Penyakit tersebut


Penulis Rosmawati 

Pemerhati Masyarakat


Matacompas.com, ANALISIS --  Kesehatan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Oleh karena itu fasilitas kesehatan dijadikan sebagai tolak ukur, untuk menjaga nyawa setiap manusia. Namun mirisnya, pelayanan kesehatan dalam sistem kapitalis dirasa belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Apalagi untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah.


Dunia sebentar lagi akan memperingati hari TBC sedunia jatuh pada setiap tanggal 24 maret. Penyakit ini sedang menjadi perbincangan hangat dalam kancah internasional, karena masih menjadi ancaman serius bagi setiap negara termasuk Indonesia.


Saat ini Indonesia masuk rangking ke dua di dunia dengan kasus penderita TB terbanyak. Kita masih harus berjuang mengentaskan Penyakit tersebut.


TBC (Tuberculosis), merupakan salah satu penyakit menular yang bisa menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri bernama mycobacterium tuberculosis, sasaran utamanya adalah organ paru-paru. Selain itu TBC bisa menginfeksi kelenjar getah bening, usus, tulang, dan selaput otak.


Kuman TBC  menyebar ketika seseorang dengan penyakit TB paru aktif batuk ataupun bersin. Percikan dahak dan air liur yang dibawa udara merupakan media penularannya, serta bakteri ini mampu bertahan dalam ruangan lembab dan kurang sinar matahari.


Tanda dan gejala umumnya berupa batuk lebih dari 2 minggu disertai darah, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas. Demam lebih dari 38 derajat celcius dan penurunan berat badan secara drastis.


Indonesia menyumbang 8,4 persen kasus TB global pada tahun 2023, tercatat kasus ini terus melonjak tinggi hingga 1.060.000  per tahun dengan angka kematian  mencapai 140. 700. Maka setiap 1 jam ada 16 orang Indonesia meninggal karena TB (Liputan6, 17-02-2024).


Pasalnya penyakit TBC sudah terdeteksi dari zaman kolonial, hingga saat ini masih ada di Indonesia. Bahwasannya penyakit ini bisa dicegah, bisa disembuhkan dengan cara memutuskan rantai penularan dan ada obatnya. Sebetulnya bukan penyakit baru tetapi sungguh disayangkan tidak menjadi fokus perhatian yang serius. Bahkan, penderita TB enggan mengakui dan memeriksakan kesehatannya. Selain itu mereka terus menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya.


Kementerian kesehatan menargetkan eliminasi TBC pada 2030 dengan anggaran yang ada hanya 29 persen dari ideal. Namun yang menjadi pertanyaannya apakah negara akan mampu mencapai tujuannya dalam pola kapitalis?


Banyak faktor dari kenapa penyakit ini terus menerus menyebar, dibutuhkan solusi yang komprehensif. Kurangnya pemerintah mengedukasi masyarakat bagaimana cara untuk pencegahannya dan memutus penularannya.


Pertama faktor kemiskinan yang terus mengikis mental masyarakat. Rendahnya kesadaran akan kesehatan lingkungan tempat tinggal yang kumuh, sanitasi yang buruk menyebabkan bibit-bibit penyakit ini tumbuh.Tidak terjaminnya kebutuhan dasar dan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan untuk masyarakat menengah kebawah. Masih banyak yang tidak mempunyai rumah, mereka bertempat tinggal di gubuk-gubuk yang jauh dari kata layak.


Serta buruknya pemenuhan gizi masyarakat karena terus melambungnya harga kebutuhan pokok, sementara pemasukan mereka hanya sedikit. Tentunya makanan yang baik berprotein tinggi sangat penting dikonsumsi bagi penderita TBC. Di mana makanan-makanan tersebut merupakan sumber nutrisi, untuk kekebalan tubuh dan juga membantu menghambat pertumbuhan bakteri didalam paru-paru.


Kedua pengelolaan tata ruang kota yang masih harus dibenahi, buruknya kualitas oksigen yang kita hirup adalah efek dari polusi udara. Banyaknya alih fungsi lahan yang tadinya ruang terbuka hijau kini jadi padat pemukiman. Dan banyaknya limbah industri sehingga karbondioksida tidak terserap dengan baik. Alhasil bakteri ini terus bersarang, hakikatnya oksigen yang bersih sendiri dibutuhkan oleh setiap sel dan jaringan tubuh untuk berfungsi optimal terutama menjaga paru-paru agar tetap sehat.


Ketiga dari segi pelayanan kesehatan, pada faktanya pelayanan kesehatan hari ini selalu dijadikan lahan komersial oleh pihak kapital, tak apa rakyat menderita asalkan ada keuntungan yang didapat.


Pengobatan TB perlu dilakukan selama minimal 6 bulan, memerlukan waktu yang cukup panjang dari mulai skrining dan tahap penyembuhan tentunya membutuhkan biaya yang cukup mahal juga.


Meskipun ada layanan BPJS dan obat gratis di puskesmas, tetap saja masyarakat tidak bisa mengakses secara efektif. Karena pelayanan BPJS pun masih dimintai biaya administrasi dan obat yang didapatkan obat generik dengan dosis 3 kali seminggu. Jika ingin pelayanan kesehatan yang memadai rakyat harus membayar sendiri biaya kesembuhannya. Inilah gambaran pelayanan kesehatan dengan skema kapitalis dimana semua hal dinilai dengan untung dan rugi


Sungguh ironis, negara masih abai dalam menjalankan perannya. Masih banyak rakyat yang belum terpenuhi hak-haknya. Bukankah segala kebutuhan dasar (kesehatan, pendidikan, keamanan) dan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) merupakan tanggung jawab negara yang wajib diberikan secara gratis?


Oleh karena itu upaya eliminasi tuberculosis yang diharapkan bisa memutus rantai penularan, dirasa tidak akan terwujud dalam sistem kapitalis.


Berbeda halnya apabila sistem Islam yang diterapkan, dalam Islam pemimpin atau imam adalah orang yang kompeten dan berlaku adil dalam jabatannya serta bertanggungjawab atas seluruh persoalan umat. Melindungi hak-hak yang ditetapkan oleh syariat bagi mereka, serta mengimplementasikan segala sesuatu yang ditetapkan Allah Swt..


Negara Islam akan melakukan langkah-langkah yang efektif dalam memutus rantai penularannya, di antaranya negara akan menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai, terjangkau, bahkan gratis. Diikuti tindakan preventif yang dilakukan pada kalangan terkecil yaitu keluarga, masyarakat, dan negara.


Melakukan pencegahan seperti menjalankan protokol kesehatan, memastikan makanan benar-benar matang, bersih serta bernutrisi tinggi, tidak kontak langsung dengan penderita TB, hingga masyarakat dipastikan sudah teredukasi dengan jelas. Alhasil akan tumbuh kesadaran masyarakat terhadap kesehatannya dan mau memeriksakan dirinya ke layanan kesehatan.


Adapun terkait edukasi dan penyediaan fasilitas kesehatan serta kebersihan di tempat-tempat umum, maka itu adalah tugas negara. Selain itu negara pun wajib untuk menjamin keberlangsungan aktivitas ekonomi maupun pendidikan rakyat melalui identifikasi dini atas masyarakat. Apakah mereka telah tertular ataukah tidak. Setelah diketahui secara jelas, mereka yang sudah tertular dan dinyatakan positif TB akan langsung diberikan pengobatan serta diberlakukannya isolasi sampai pasien benar-benar sembuh dari penyakit tersebut.


Selain itu negara Islam akan mengupayakan untuk memberikan pelayanan medis dengan kualitas terbaik, negara akan membiayai secara penuh. Mulai dari biaya dokter, obat-obatan, rumah sakit, dan semua alat kesehatan penunjang lainnya. Serta negara akan mendorong pengembangan teknologi mutakhir dan ilmu pengetahuan untuk menemukan obat-obatan yang lebih efektif. 


Semua hasil pengembangannya tersebut, sepenuhnya akan dipergunakan untuk kemaslahatan dan kemajuan umat. Begitu pula negara akan memperbaiki tata kelola ruang kota, memperbanyak ruang terbuka hijau dan lebih memperhatikan lagi analisis dampak lingkungan hidup.


Sejatinya Islam akan menjamin kebutuhan pokok masyarakat, negara berkewajiban mendirikan rumah yang layak serta lingkungan yang bersih. Memastikan masyarakat tidak berada lagi pada jurang kemiskinan melainkan masyarakat bisa benar-benar terpenuhi kesejahteraannya.


Seperti itulah hakikat sistem Islam, penerapannya membawa rahmat untuk seluruh alam. Semua kebutuhan dasar dan kebutuhan pokok masyarakat akan dijamin sepenuhnya oleh negara melalui berbagai regulasi yang keluar berdasarkan syariat Islam. Serta terus menuntun dan membimbing mereka dengan berlandaskan akidah yang kuat.

Wallahualam bissawab. []


Kemiskinan akan memicu masalah lainnya seperti, meningkatnya angka putus sekolah karena biaya pendidikan makin mahal

Rakyat rentan terserang penyakit karena layanan kesehatan yang sangat minim, gizi buruk hingga kelaparan


Penulis Bunda Hanif 

Pendidik Generasi


Matacompas.com, Analisis -- Problem kemiskinan sampai saat ini masih menjadi problem kronis di berbagai belahan dunia. Yang terkena imbas akibat masalah menahun ini bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Terdapat sekitar 1,4 miliar anak di dunia hidup tanpa perlindungan sosial. Menurut data PBB dan badan amal Inggris, Save the Children International, miliaran anak ini merupakan anak di bawah usia 16 tahun. Banyak anak-anak yang terpapar penyakit, gizi buruk dan kemiskinan akibat tidak adanya akses perlindungan sosial. 


Dikutip dari laman Antara pada Kamis (15-2-2024), Direktur Global Kebijakan Sosial dan Perlindungan Sosial UNICEF Natalia Winder Rossi mengatakan bahwa secara global, terdapat 333 juta anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Mereka harus berjuang untuk bertahan hidup dengan pendapan kurang dari USD2,15 (Rp33.565) per hari. 


Natalia menyampaikan bahwa pencapaian target kemiskinan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) masih di luar jangkauan. Oleh karena itu, cakupan perlindungan sosial bagi anak-anak yang sangat penting dalam pengentasan kemiskinan perlu diperluas. Salah satunya dengan memberikan tunjangan anak berupa uang tunai atau kredit pajak untuk mengurangi kemiskinan serta mengakses layanan kesehatan, nutrisi, pendidikan berkualitas, air, hingga sanitasi.


Ancaman kemiskinan ekstrem, gizi buruk, hingga kelaparan yang dihadapi anak-anak sebenarnya disebabkan karena penerapan sistem kapitalisme. Sebagai contoh, di negara-negara dengan pendapan rendah, tingkat cakupan tunjangan masih sangat rendah, yaitu sekitar 9%. Sementara itu, di negara-negara berpendapatan tinggi, 84,6 % anak-anak telah tercakup dalam program tunjangan tersebut. 


Lalu apakah dengan perlindungan sosial (perlinsos) dan tunjangan anak, kemiskinan dapat diselesaikan dengan tuntas? Jelas tidak! Di dalam sistem kapitalisme, jurang sosial akan tetap menganga. Inilah sebabnya ada istilah negara dengan berpendapatan tinggi dan rendah. Ada pula julukan negara maju dan negara berkembang. Negara maju selalu mengatur ekonomi global, sedangkan negara berkembang mengikuti aturan main yang diterapkan negara maju.


Di dalam sistem kapitalisme, ada negara berpendapatan rendah dan berpendapatan tinggi yang mempengaruhi kemiskinan di negara tersebut. Sistem ini bersifat eksplosif dan destruktif. Disebut eksplosif lantaran eksistensi ideologi ini tidak bisa dilepaskan dari cara penyebarannya, yakni penjajahan atau imperialisme. Ditambah nilai kebebasan yang digaungkan menjadi pembenar atas eksploitasi yang mereka (negara adidaya) lakukan pada negeri-negeri yang memiliki kekayaan SDA yang melimpah. 


Destruktif artinya sistem ini memiliki daya rusak yang sangat dahsyat. Atas nama kebebasan kepemilikan dan liberalisasi pasar, satu atau dua individu bisa menguasai satu negara. Inilah yang disebut oligarki kapitalis. Liberalisasi dan eksploitasi inilah yang sering kali merusak ekosistem alam yang berpengaruh pada perubahan iklim secara ekstrem. Coba kita lihat, berapa bannyak hutan, yang dibabat demi industrialisasi? Berapa banyak tambang mineral bumi yang dikeruk demi kesenangan materi? Dan sudah berapa banyak bencana alam terjadi akibat kerakusan dan keserakahan kapitalis juga korporasi?


Pada sistem kapitalisme, negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator. Ini merupakan konsekuensi dari reinventing government, yang artinya mewirausahakan birokrasi, yakni mentransformasikan semangat wirausaha ke dalam sektor publik. Negara diurus layaknya mengurus sebuah perusahaan. Dalam perusaahan pasti ada unsur bisnis dan profit. Adapun dalam penerapan reinventing government ada tiga prinsip yang begitu kental dengan nilai-nilai kapitalisme. 


Prinsip pertama, pemerintahan katalis (catalytic government), yakni negara berperan sebagai pengarah bukan pelaksana dalam melayani urusan rakyat. Yang berperan sebagai pelaksana adalah swasta atau melalui privatisasi. 


Kedua, pemerintahan milik rakyat (community government). Makna dari prinsip ini adalah pemerintah memberdayakan atau memberi wewenang ketimbang melayani. Artinya, pemerintah berharap agar rakyat berdaya sendiri dengan memberi wewenang kepada masyarakat agar terselenggara pelayanan efektif dan efisien. Cara ini dilakukan agar rakyat menjadi mandiri, tidak bergantung pada pemerintah. Dengan kata lain, negara lepas tangan dari kewajibannya sebagai pelayan rakyat. 


Ketiga, pemerintahan kompetitif (competitive government). Arti dari pemerintahan kompetitif adalah pemerintah menjadi pesaing bagi organisasi bisnis lainnya. Pihak swasta diberikan peluang untuk bermain di banyak sektor strategis. Bisa kita lihat pada hari ini semakin banyak sekolah swasta dan rumah sakit swasta berdiri untuk mengakomodasi pelayanan dan fasilitas-fasilitas publik yang masih kurang pada sekolah dan rumah sakit yang berstatus negeri. Akibatnya, rakyat yang hidupnya pas-pasan harus merasa berpuas diri mendapat layanan publik yang ala kadarnya 


Kondisi ini tentunya sangat membahayakan generasi pada masa mendatang. Kemiskinan akan memicu masalah lainnya seperti, meningkatnya angka putus sekolah karena biaya pendidikan makin mahal. Rakyat rentan terserang penyakit karena layanan kesehatan yang sangat minim, gizi buruk hingga kelaparan. 


Untuk menyelamatkan generasi dari ancaman kemiskinan ekstrem, tentunya kita tidak bisa berharap banyak pada sistem kapitalisme, lalu dengan cara apa generasi dapat terselamatkan dari masalah ini?


Islam adalah Solusi Satu-satunya Mengatasi Kemiskinan Ekstrem


Islam adalah agama yang paripurna, berasal dari Zat yang Maha Sempurna. Karenanya, Islam memiliki solusi sistemis dalam mengatasi kemiskinan ekstrem sekaligus menjaga generasi dari dampak kemiskinan. 


Pertama, pembagian kepemilikan secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam. Ada tiga, yaitu kepemilikan individu, umum dan negara. Pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi dominasi ekonomi, yakni pihak yang kuat menindas yang lemah. 


Dominasi ekonomi terjadi lantaran penguasaan sektor kepemilikan umum yang tidak semestinya dimiliki oleh individu atau perusahaan swasta. Contoh yang telah terjadi adalah penguasaan atas barang tambang, gas, minyak bumi, kehutanan, sumber daya air, jalan umum, pelabuhan, bandara dan sebagainya. Inilah yang menyebabkan ekonomi mereka semakin kuat, meluas hingga mendominasi kekayaan. 


Kedua, pengaturan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar yang bertumpu pada pembangunan sektor riil bukan nonriil.


Ketiga, distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat dan negara, Pada sistem ekonomi Islam, negara menjamin semua rakyat terpenuhi kebutuhannya. Baik itu kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder dan tersier. 


Keempat, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok masyarakat seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Untuk mendapatkan kebutuhan sandang, pangan dan papan, negara harus memberikan kemudahan bagi rakyatnya semisal dengan harga yang terjangkau. Negara juga membuka kesempatan bagi laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan guna memenuhi  kebutuhan hidup keluarganya. 


Begitu juga dalam bidang lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan, negara memberikan secara gratis tanpa dipungut biaya. Negara juga memberikan jaminan keamanan setiap warga negara. 


Namun semua itu hanya dapat diwujudkan manakala penerapan Islam secara kafah ditegakkan. Kemiskinan bukanlah masalah serius tanpa solusi. Hanya Islamlah yang mampu mengatasi kemiskinan ekstrem. Kalaupun masih ada penduduk miskin, jumlahnya sangat sedikit dan itu bisa diatasi dengan sedekah dan zakat dari penduduk yang mampu.

Wallahualam bissawab. []

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.