Sekularisme, Melanggengkan Keputus-asaan

Hilangnya peran negara dalam melindungi masyarakat dalam hal akidah

Justru mengarahkan masyarakat pada dunia sebagai destinasi terakhir sehingga mengejar kepuasan materialistik


Penulis Kiki Zaskia, S. Pd 

Pemerhati Media


Matacompas.com, OPINI -- Sedang viral lirik dari sebuah lagu “sa tra mau kasih cinta-cinta palsu”, tetapi bukan tentang penyanyinya yang menjadi soal. Melainkan, hal nahas yang telah terjadi akibat cinta palsu, yaitu bunuh dirinya seorang pro-player gamers yang berkewarganegaraan Cina bernama Liu Jie dengan julukan Fat Cat. 


Fat Cat, yang masih berusia muda ini yaitu usia 21 tahun yang memiliki kisah hidup yang cukup pelik, sebab di masa remajanya ia telah berusaha hidup mandiri, meninggalkan rumahnya. Namun, dengan bakat bermain gamenya yang mana kini telah menjadi industri e-sports telah berhasil membawanya pada kesuksesan di bidangnya. 


Anak muda ini mampu mengumpulkan uang miliaran dalam waktu dua tahun tahun. Namun, apadaya di balik itu semua, Fat Cat ternyata memiliki sisi kesepian sehingga ia memacari seorang wanita dan benar-benar mengorbankan semua kerja kerasnya. Membiayai wanitanya dengan mengirimkan semua penghasilan yang ia punya, hingga ia pun harus berhemat makanan. 


Singkat cerita, dua sejoli ini ternyata tidak sejalan lagi, si wanita telah mencari alasan untuk berpisah dengan Fat Cat setelah segala pengorbanan yang diberikan oleh Fat Cat. Dilanda kekecewaan yang dalam Fat Cat akhirnya mengakhiri hidupnya dengan lompat di sebuah jembatan Sungai Yangtze, Chongqing di Cina. (Dilansir, Kompas, 13/05/24)


Dengan, femonena itu, serta diviralkan oleh media sosial, banyak masyarakat yang bersimpati. Namun, sebenarnya Fat Cat hanya potret dari beberapa fenomena serupa yang pernah terjadi. Bunuh diri (bundir). Putus asa atas segala ujian hidup yang melanda. 


Pada dasarnya, hal ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab, yang banyak dikejar oleh masyarakat umum, seperti kekayaan, popularitas, bahkan kasih sayang lantas tak memberikan ketenangan dalam jiwa mereka. Itulah konsekuensi ketika menjadikan materi sebagai tujuan. Hasilnya, adalah berujung pada keputus-asaan. 


Tentu orang yang melakukan bundir sudah tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup. Sebab, kehidupan yang dijalani tidak memiliki ruh dalam mengisi waktunya. Tidak menjadikan kehidupan ini sebagai sarana untuk beramal salih, tetapi hanya eksploitasi diri demi sebuah nama. 


Hal ini hadir bukan semata sebab individu yang lemah akidahnya. Namun, telah hilangnya peran negara dalam melindungi masyarakat dalam hal akidah. Tidak mengkondisikan masyarakat memandang bahwa kehidupan dunia hanyalah sebentar. Namun, justru mengarahkan pada dunia sebagai destinasi terakhir sehingga mengejar kepuasan materialistik. 


Padahal, masih terdapat kehidupan ukhrowi yang abadi, yang telah menunggu dengan pasti, dengan tuntutan membawa amal salih. Ironis pula, dalam pandangan sekularisme-liberalisme berpacaran hanya dipandang persoalan privasi sehingga negara dianggap telah melanggar ketentuan privasi bahkan hak asasi apabila mengaturnya. Miris. 


Berbeda dengan masyarakat yang memiliki akidah Islam. Kekuatan akidah ini tercermin sebagaimana kuat dan tangguhya masyarakat di Gaza. Mereka memiliki seribu alasan yang wajar bagi mereka untuk berputus-asa. Sebab, sulitnya masuk pertolongan dari pihak eksternal. Namun, dengan akidah yang kokoh maka terbentuk, anak-anak perempuan hingga lansia yang menerima segala ujian yang hadir dihadapkan pada mereka kini.  


Di sisi lain, masyarakat dengan akidah Islam ini tak bisa hanya terbentuk dari individu semata saja. Sebab, apabila hanya dari individu semata, maka hukum-hukum Islam lainnya hanya berlaku bagi yang berakidah Islam saja. Sementara, Al-Qur’an diturunkan Allah Swt. sebagai al-huda petunjuk bagi seluruh umat manusia. 


Sebagaimana kini, tidak sedikit orang yang mengemban akidah Islam dan mengamalkannya. Namun, penerapan aturan Islam hanya diterapkan sebagian-sebagian saja. Apabila atau bahkan seharusnya diterapkan secara total maka membutuhkan sebuah kekuatan yang berarti yaitu institusi Khilafah yang mampu menerapkan semua aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat. 

Wallahu ‘alam bisshawab

This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.