Sawah Cina: Solusi Ketahanan Pangan Indonesia?

Solusi atau kebijakan praktis yang diambil untuk mengatasi masalah pangan hanya bersifat sementara

Bantuan yang diberikan tidak cukup untuk mengentaskan masyarakat dari masalah inti


Penulis Nur Saleha, S.Pd

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman geografis, budaya, dan ekonomi, memiliki tantangan yang unik dalam mencapai ketahanan pangan yang optimal. Ketahanan pangan Indonesia menjadi isu sentral yang terus diperbincangkan di tengah dinamika global saat ini.


Konsep ketahanan pangan tidak hanya sekadar memastikan ketersediaan pangan bagi penduduk, tetapi juga melibatkan aspek keamanan pangan, aksesibilitas, ketersediaan, dan keberlanjutan sistem pangan nasional.


Dalam upaya meningkatkan produksi pangan, pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis, salah satunya adalah melalui Proyek Sawah Cina.


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa China akan mendukung pengembangan pertanian di Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan menyediakan teknologi untuk beras, dengan rencana memulai proyek ini pada bulan Oktober 2024. Menurut Luhut, Indonesia meminta China untuk berbagi teknologi mereka dalam produksi beras, mengingat kesuksesan mereka dalam mencapai swasembada beras. (voaindonesia, 27/04/2024)


Mengenai proyek ini mendapatkan tanggapan dari Khudori, seorang ahli pertanian dari AEPI, menyatakan bahwa adopsi teknologi pertanian dari luar negeri adalah langkah yang wajar. 


Namun, ia menekankan perlunya pemerintah memastikan kesesuaian dan kelayakan teknologi tersebut di dalam konteks domestik. Menurutnya, sebelum mengadopsi teknologi tersebut, konsultasi dengan ahli pertanian lokal penting untuk mengurangi risiko kegagalan, terutama mengingat perbedaan iklim dan musim antara Indonesia dan negara asal teknologi tersebut. 


Selain itu, Khudori menjelaskan bahwa sebenarnya ada hal lain yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan pertanian padi nasional. Salah satunya adalah biaya usaha tani yang tinggi, terutama biaya sewa lahan dan upah tenaga kerja. Hal ini menyebabkan harga beras/padi di Indonesia menjadi mahal dan tidak dapat bersaing dengan Thailand atau Vietnam," ungkapnya (voaindonesia, 27/04/2024)


Keterikatan Kapitalisme


Rencana proyek Sawah Cina diadakan sebagai solusi menyediakan lumbung pangan padahal banyak program serupa sebelumnya mengalami kegagalan.  Andaikan berhasil, siapa yang akan diuntungkan? 


Jika kita mencoba merenungkan kembali, Indonesia adalah negara yang kaya, baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Dengan kekayaan ini, seharusnya bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.


Namun pada faktanya, para petani di negara ini menghadapi tantangan yang besar dalam aktivitas bertani mereka. Meskipun ada bantuan dari pemerintah, tetapi jumlahnya terbatas dan masih belum mencukupi untuk membantu semua petani, terutama yang tidak memiliki modal besar. Sehingga, hanya petani dengan modal besar yang dapat mengambil keuntungan dari bantuan tersebut. Sayangnya, mayoritas petani di negara ini tidak termasuk dalam kategori petani kaya.


Semua tantangan ini disebabkan oleh keterikatan penerapan sistem kapitalisme. Sistem berbasis materialisme ini memberikan keleluasaan kepada para kapitalis untuk menguasai segala aspek usaha, termasuk dari hulu, distribusi, hingga hilir.


Di sisi lain, kapitalisme membatasi peran negara yang seharusnya bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat menjadi sekadar pengatur regulasi. Para pembuat kebijakan cenderung menghasilkan aturan yang pada kenyataannya lebih menguntungkan para kapitalis. 


Adapun, solusi atau kebijakan praktis yang diambil untuk mengatasi masalah pangan hanya bersifat sementara. Bantuan yang diberikan tidak cukup untuk mengentaskan masyarakat dari masalah inti. Para pembuat kebijakan cenderung menghasilkan aturan yang pada kenyataannya lebih menguntungkan para kapitalis. Banyak perusahaan swasta kini mendominasi industri minyak, seperti beras, makanan, ikan, dan sebagainya.


Berbeda dengan Sistem Islam


Islam mendorong pemimpin untuk mengimplementasikan sistem ekonomi Islam, yang mencakup kebijakan yang tepat dalam pengelolaan, pendapatan, dan semua transaksi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Islam menyelesaikan persoalan pangan dari akar masalah, dan tidak sekedar mewujudkan ketahanan pangan saja, tetapi juga kedaulatan pangan. 


Dalam hal ini, negara bertanggung jawab penuh membantu petani,  apalagi pertanian adalah persoalan strategis dan jika akan menjalin kerjasama  dengan asing politik luar negeri aturan Islam yang dijadikan sebagai pedoman. Negara tidak akan tergantung pada modal swasta atau asing dan negara tidak membiarkan juga seluruhan rantai ekonomi berjalan secara mandiri atau sepenuhnya diserahkan kepada sektor swasta.


Semua ini hanya bisa terwujud jika negara memilih Islam sebagai solusi mendasar. Islam menawarkan jawaban melalui sistem pemerintahan yang menggunakan prinsip-prinsip Islam sebagai dasar pengambilan keputusan. Wallahualam bissawab. []

Sawah Cina: Solusi Ketahanan Pangan Indonesia?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.