Live Bullying: Bukti Kejahatan Makin Genting


Islam memiliki aturan yang bisa menjaga bahkan mencegah terjadinya bullying

Islam mewajibkan orang tua berperan penuh dalam pengasuhan anak


Penulis Hasna 

Ibu Rumah Tangga


Matacompas.com, OPINI -- Beberapa waktu yang lalu, beredar video aksi bullying atau perundungan yg terjadi di wilyah Mekarwangi, Kota Bandung. Video tersebut viral di media sosial. Video diawali dengan tiga pelaku remaja yang membangunkan korban berinisial DNS yang tengah tertidur di teras TPU Ciseureh. Tak disangka, perlawanan yang diberikan korban memicu emosi pelaku hingga tega menendang wajah dan memukul kepalanya dengan botol kaca. Hal ini, berlanjut dengan ungkapan pelaku yang disiarkannya di live tiktok miliknya. (Kompas,28/4/2024)


Mengetahui hal ini, Rohman Hidayat selaku kakak korban langsung melaporkan kejadian yang menimpa adiknya tersebut. Begitu mengetahui laporan ini, petugas langsung pergi ke tempat kejadian perkara (TKP) dan mendapati korban yang masih di bawah umur. Kasi Humas Polrestabes Bandung, Nurindah Murdiani menyatakan Polrestabes Bandung melalui Jatanras (direktorat kejahatan dan kekerasan) masih melakukan upaya penangkapan. (Idntimes, 27/4/2024) 


Tak terduga, kini bullying dilakukan secara terbuka bahkan secara live. Ini menggambarkan kejahatan tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk, bahkan wajar dan keren. Sikap semacam  ini menunjukkan bahwa ada kesalahan dalam memandang keburukan, yang mengindikasikan adanya gangguan mental. Di sisi lain, bullying hari ini makin parah dan marak. Di balik makin parah dan maraknya bullying ini, ada peran negara yang lalai dalam periayahan rakyat. Dan ini menyebabkan akibat yang serius, di antaranya :

1. Lemahnya pengasuhan terhadap anak yang diakibatkan dari berkurangnya waktu orang terutama ibu karena harus turut mencari nafkah karena tuntutan ekonomi yang tinggi. Akibatnya kasih sayang dan oerhatian yang kurang menjadi pemicu bagi anak mencari kasih sayang di luar tanpa memahami benar atau salah.


2. Gagalnya sistem pendidikan di mana gagal mencetak generasi yang berakhlakul karimah, akibat dari dipisahkannya agama dari kehidupan sebagai poros pendidikan.


3. Gagal menciptakan lingkungan yang baik. Banyak orang-orang yang individualis, egois dan apatis tanpa peduli sekitarnya berbuat maksiat atau tidak.


4. Tidak terkontrolnya tontonan dan hiburan seperti game, film yang banyak menampilkan adegan kekerasan, pornografi yang merusak pemikiran generasi dan menciptakan mindset bahwa masalah bisa terselesaikan dengan kekerasan dalam bentuk apapun.


Hal di atas, mengingatkan kita bahwasanya Islam memiliki aturan yang bisa menjaga bahkan mencegah terjadinya bullying. Islam mewajibkan orang tua berperan penuh dalam pengasuhan anak. Ibu sebagai guru pertama dan utama bagi anak-anaknya dan ayah sebagai penopang nafkah keluarga. Selain itu, Islam melalui peran negara menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan memberikan pelayanan pendidikan gratis, kesehatan, harga-harga kebutuhan pokok yang murah dan terjangkau sehingga para suami tidak perlu mati-matian bekerja demi menafkahi keluarganya. Selain itu negara juga akan menciptakan lingkungan di mana amar makruf nahi mungkar senantiasa berjalan, sehingga semua orang saling menasihati dan mencegah terjadinya kemaksiatan. Pun bagi pelaku kemaksiatan seperti perundungan dengan sanksi yang membuat jera dan setimpal bagi yang sudah masa balighnya.


Allah Swt. berfirman: "Kami telah menetapkan bagi mereka didalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishasnya (balasan hang sama)." (QS. Al-Maudah: 45)


Begitulah, gambaran negara yang baik. Yang mengayomi dan menjamin rakyatnya tanpa meminta imbalan apapun kecuali hanya karna ingin mendapat rida dari Rabbnya. Karena sepatutnya negara tidak memanfaatkan rakyatnya sebab kewajiban negara adalah menjamin rakyatnya aman, sejahtera dan bahagia. 

Wallahualam bissawab. []


Live Bullying: Bukti Kejahatan Makin Genting

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.