Kemaksiatan Pornografi Makin Tinggi, Mampukah Dituntaskan dengan Ala Kapitalisme?


Kemaksiatan tersebut dipandang sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi

Ada yang menginginkan maka disediakan meskipun itu haram


Penulis Verawati S.Pd

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Bak bola salju yang terus menggelinding, kejahatan pornografi kian hari terus membesar. Para pelakunya bukan lagi orang dewasa, melainkan banyak dari anak di bawah umur. Bukan lagi wanita dengan laki-laki tetapi dengan  sesama jenis. Bukan lagi ngumpet-ngumpet tetapi sudah terang-terangan. Efeknya jelas, merusak masyarakat dari berbagai sisi kehidupan.


Mengetahui fakta terkait kemaksiatan pornografi ini membuat miris dan perasaan bercampur aduk. Ada rasa khawatir, takut, marah, benci, jijik atas perilaku bejat mereka. Berapa banyak anak-anak yang teracuni pornografi ini? Hingga pada akhirnya mereka bukan lagi korban tetapi menjadi pelaku. Bukan cuma puluhan bahkan mungkin jutaan hingga menjadi rangking dunia.


Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Menteri Polhukam Hadi Tjahjanto pada saat pembentukan satgas pornografi. "Kalau kita lihat dari laporan yang dihimpun dari National Centre for Missing Exploited Children bahwa temuan konten kasus pornografi anak di Indonesia selama 4 tahun sebanyak 5.566.015 juta kasus. Indonesia masuk peringkat empat secara internasional dan peringkat dua dalam regional ASEAN," ungkapnya.(SINDOnews.com, 18/04/2024) 


Barangkali bisa jadi ranking pertama. Sebab kasus kejahatan pornografi banyak yang tidak dilaporkan dengan alasan aib. Kasus ini pun pada akhirnya sudah menjadi biasa terjadi di tengah masyarakat tanpa ada tindakan nyata yang membuat jera. Bahkan sebaliknya kejahatan ini banyak yang menikmati sebab kucuran cuan begitu deras mengalir.


Kasus pencabulan terhadap 8 anak yang terjadi di Tangerang, menegaskan bahwa pornografi memang menguntungkan.  terungkap bahwa para pelaku sengaja mendekati anak-anak laki-laki di bawah umur dengan pendekatan main game online, selanjutnya mereka dicabuli dan dibuat videonya secara sadar. Video adegan seksual tersebut diperjualbelikan di grup percakapan media sosial lintas negara (Telegram) dengan harga 50-100 dollar AS per konten. Dari hasil penjualan konten pornografi anak ini, pelaku mendapat keuntungan lebih kurang Rp 100 juta (kompas.id, 27/02/2024)


Saking banyaknya kasus ini pada akhirnya pemerintah membuat satgas anti pornografi. Sebagaimana yang dibicarakan oleh Menteri Polhukam Hadi Tjahjanto. Beberapa kementrian pun ikut dilibatkan yaitu Kemendikbud Ristek, Kemenag, Kemensos, Kominfo, dan Kemenkumham. Juga melibatkan anak lembaga di antaranya yaitu Kejaksaan Agung dan Komisi Perlindungan Anak (KPAI),(SINDOnew.com Kamis, 18 April 2024). Pertanyaannya adalah mampukah program ini dijalankan?


Makin banyak kasus kemaksiatan pornografi dan turunannya mencerminkan gagalnya sistem saat ini dalam melindungi masyarakat. Hal ini disebabkan banyak faktor. Faktor utama adalah sistem itu sendiri. Saat ini yang dipakai adalah sistem kapitalisme-sekularisme. Sistem ini memuja kebebasan. Termasuk di dalamnya kebebasan berperilaku. Maka ketika ada individu yang melakukan kemaksiatan seperti gay, perzinaan, dan pornografi akan dibiarkan. 


Selain itu, ternyata aktivitas kemaksiatan tersebut dipandang sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi. Hukum ekonomi berlaku, ada permintaan maka ada penawaran. Ada yang menginginkan maka disediakan meski pun itu yang haram. Seperti pornografi, perzinaan, dan narkoba.


Kedua, untuk di negeri ini sendiri payung hukum yang ada tidak tegas. Tidak ada aturan yang secara tegas yang melarang pornografi,  kaum pelangi, perzinaan, atau hal-hal lain yang merugikan masyarakat. Ditambah politik Will dari penguasa yang lemah. Menjadi hal yang mendorong laju bola salju kemaksiatan makin cepat. 


Untuk kasus pencabulan delapan anak di atas saja, pemerintah dinilai lambat dan tidak bertindak tegas. Padahal jika mau, pemerintah bisa memburu penjahat internasional tersebut dengan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya Cyber pemerintah.


Jadi untuk mengangkat kasus kemaksiatan apapun termasuk pornografi dibutuhkan sistem dan penguasa yang baik. Jangankan untuk kuratif, untuk preventif saja sistem saat ini tidak punya. Sistem kapitalisme saat ini justru memuja kebebasan. Termasuk kebebasan berperilaku, yang di dalamnya ada kebebasan seksual, melihat  tayangan porno, dan pornoaksi. Bahkan difasilitasi karena menghasilkan uang.


Berbeda dengan sistem Islam, dalam Islam ada seperangkat aturan yang mengatur kehidupan agar terwujud masyarakat yang damai dan adik. Hal ini ditegaskan oleh tiga pilar yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan penegakkan hukum yang tegas dan ketegasan dan keadilan oleh penguasa. Ketakwaan individu akan mampu mencegah seseorang untuk melakukan kejahatan. Allah akan menghisab setiap amal, keimanan, dan ketakwaan manusia.


Dengan keimanan dan ketakwaannya yang tinggi akan memunculkan perasaan diawasi oleh Allah. Sehingga akan mampu mencegah seseorang untuk melakukan kemaksiatan sekalipun orang lain tidak melihatnya.


Kedua, yaitu kontrol masyarakat, masyarakat Islam akan saling mengingatkan satu sama lainnya. Hal ini dilakukan atas dasar keimanan dan cinta terhadap sesama terutama sesama muslim. Juga akan ada konsekuensinya bila kejahatan atau kemaksiatan dibiarkan yaitu dosa. Dosa jika dibiarkan akan membawa petaka di dunia dan juga akhirat 


Ketiga yaitu penguasa yang tegas dan adil. Penguasa Islam akan memberlakukan aturan secara tegas. Ketika aturan ini dijalankan maka aturan tersebut bersifat  preventif dan juga kuratif. Seperti aturan menutup aurat, menjaga pandangan, dilarang ber-khalwat, dilarang membuat dan menyebarkan video porno, bagi pezina akan diberikan hukuman rajam atau jilid, bagi pelaku sodomi akan dihukum dijatuhkan dari gedung yang tinggi hingga mati. 


Ditambah sejumlah aturan lainnya, sehingga memasyarakat terlindungi dari bahaya pornografi dan turunannya tersebut. Masyarakat hidup dalam kondisi yang sehat dari penyakit masyarakat. Sebab sistem dan penguasa menjalankan aturan yang benar. Aturan yang turun dari yang Maha Benar yaitu Allah Swt..

Wallahualam bissawab. []

Kemaksiatan Pornografi Makin Tinggi, Mampukah Dituntaskan dengan Ala Kapitalisme?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.