Jalanan Rusak dan Berlubang, Islam Solusinya

Pelayanan pemenuhan semacam ini hanya mampu terpenuhi jika sistem ekonominya diganti dan diatur oleh sistem ekonomi Islam

Islamlah yang akan memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat


Penulis Yuni Irawati 

Ibu Rumah Tangga


Matacompas.com, OPINI -- Jalan rusak dan berlubang di jalur Cicalengka Majalaya begitu parah. Kerusakan akses jalan menuju Stasiun Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC) Tegalluar, Whoosh yang berlokasi di wilayah Desa Cibiruhilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung mulai diperbaik. Ketika hujan turun, jalan yang berlubang terendam air sehingga dapat membahayakan pengguna jalan. Sementara mobilitas kendaraan di jalan tersebut begitu padat dan menjadi jalan utama bagi kendaraan bermuatan besar seperti truk dan tronton. (JabarEkspres, 9/4/2024) 


Oleh sebab itu, jalur yang dilintasi kendaraan dengan tonase tinggi, tentunya makin memperparah kerusakan jalan. Walaupun kerusakan tersebut sudah beberapa kali diperbaiki oleh pemerintah, akan tetapi, kondisi tambalan yang hanya alakadarnya membuat jalanan yang ditambal hanya bisa bertahan beberapa bulan saja dan sebentar kemudian rusak kembali.


Kerusakan jalan yang terjadi, bisa diakibatkan oleh beberapa faktor, di antaranya disebabkan drainase yang tidak berfungsi/tidak adanya drainase, mutu asphalt hotmix yang tidak bagus, overtonase (terjadinya kelebihan beban tonase) kendaraan, kesalahan dalam perencanaan tebal perkerasan jalan, lapis pondasi agregat yang tentu tidak padat, kondisi konstruksi tanah dasar yang tidak datar, faktor dari adanya bencana alam, pelaksanaan pekerjaan pengaspalan yang tidak baik, dan tidak dilakukan perawatan jalan secara terus-menerus. Dan di dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat saat ini, infrastruktur seperti jalan merupakan kebutuhan yang sangat vital. Oleh sebab itu, seharusnya pemerintah lebih fokus lagi untuk membangun infrastruktur yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat guna memudahkan aktivitas perekonomian masyarakat. 


Namun, jika kita melihat fakta hari ini, pemerintah begitu jor joran membangun infrastruktur yang minim digunakan oleh rakyat menengah ke bawah seperti pembangunan jalan tol yang dibangun dengan kualitas bagus, aman dan nyaman, sementara pembangunan jalan yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat terkesan diabaikan. Peran pemerintah hanya sebatas regulator bagi para korporator yang melakukan perniagaan dan ataupun bisnis demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.


Semua itu disebabkan oleh sistem yang diterapkan saat ini, sistem yang menjadikan penguasa tidak bertanggung jawab sepenuhnya atas permasalahan dan urusan rakyat termasuk dengan kerusakan jalan, yakni sistem kapitalisme sekularisme, sistem yang melahirkan hak kebebasan, diantaranya adalah kebebasan kepemilikan tanpa bersandar kepada halal dan haram.


Sementara, jika kita mau memahami bahwa hanya dengan sistem Islamlah segala urusan rakyat akan terselesaikan dan mampu memenuhi segala yang menjadi kebutuhan masyarakat termasuk keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan infrastruktur jalan umum.


Pelayanan pemenuhan semacam ini hanya mampu terpenuhi jika sistem ekonominya diganti dan diatur oleh sistem ekonomi Islam. Islamlah yang akan memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat. Juga fasilitas-fasilitas umum yang dibangun juga dikelola oleh negara dan dimanfaatkan semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Rasulullah saw. bersabda yang artinya

 “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Ibnu Majah dan Abu Nuaim)


Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. juga bersabda,

 “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Bukhari)


Adapun tinta emas peradaban Islam mencatat pada masa Kekhilafahan Umayyah dan Abbasiyah, yaitu di sepanjang perjalanan Iran dan Syam ke Hijaz. Khalifah membentuk banyak pondokan gratis sangat lengkap dengan persediaan air, makanan dan tempat tinggal untuk membantu perjalanan para pelancong. Pada masa Khilafah Utsmani juga diberikan jasa transportasi secara gratis kepada masyarakat yang akan bepergian dengan berbagai keperluan menggunakan kereta api yang sudah disiapkan.


Inilah yang sepantasnya seorang penguasa lakukan. Mereka tidak akan memikirkan diri sendiri dan keuntungan pribadi atau kelompok. Akan tetapi, pemerintah dalam sistem Islam akan berpikir bagaimana caranya agar dapat melayani dengan baik rakyatnya. Sayangnya, kehidupan saat ini sangatlah jauh dari pemahaman nilai dan aturan Islam. Hal ini memang menyebabkan para penguasanya menganggap kekuasaan itu sebagai keuntungan yang tidak boleh disia-siakan.


Selain itu, mereka menganggap kekuasaan menjadi lebih penting dari sekadar memikirkan tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Para penguasa seperti inilah, bisa merenungi sabda Rasulullah saw. berikut,

 “Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan dan akhirnya adalah azab pada hari kiamat” (HR. Ath-Thabrani)

Wallahualam bissawab. []

Jalanan Rusak dan Berlubang, Islam Solusinya

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.