Impor Sawah Cina, Kapitalisme Mendukung Investor Asing

Rencana proyek impor sawah Cina ini digadang-gadang sebagai solusi menyediakan lumbung pangan dalam negeri

Padahal seperti yang kita ketahui, banyak program serupa sebelumnya yang telah mengalami kegagalan


Penulis Ledy Ummu Zaid

Pegiat Literasi 

 

Matacompas.com, OPINI -- “Hutan gunung sawah lautan. Simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara. Merintih dan berdoa.” Sepertinya lagu ini yang cocok menggambarkan kondisi di tanah air hari ini. Negeri yang terkenal kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) ini ternyata masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan dan panjang untuk dilalui. Dalam hal pertanian saja, misalnya. Negeri kita terancam mengimpor sawah dari Cina. Bukan hanya beras saja yang telah lama diimpor dari Thailand dan Vietnam, tetapi sunter terdengar kabar bahwasanya pemerintah Indonesia akan mengimpor sawah padi Cina.  

 

Dilansir dari laman voaindonesia (27/04/2024), pemerintah akan mengajak Cina untuk bekerja sama dalam menggarap sawah di Kalimantan Tengah. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan setelah menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi dalam ajang High Level Dialogue and Cooperation Mechanism (HDCM) RI–RRC di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Jumat (19/4) yang akhirnya mencapai beberapa kesepakatan, salah satunya terkait proyek sawah Cina ini.

 

Adapun Luhut meyakini, jika proyek ini berhasil, maka Indonesia dapat mencapai swasembada beras di masa depan. Ia berharap alih teknologi dari Negeri Tirai Bambu tersebut bisa berhasil dengan baik. Pasalnya Indonesia selama ini masih saja mengimpor beras dari negeri tetangga hingga jutaan ton setiap tahunnya. Gambaran impor beras yang tak lain makanan pokok rakyat negeri ini menjadi bukti bahwasanya negara memang belum mampu independen dalam memenuhi kebutuhan pokok dalam negeri.


Ironi, negeri yang terkenal ‘ijo royo-royo’ ini masih banyak melakukan impor dalam bidang pertanian sendiri. Telah lama menjalin kerjasama dengan negara-negara tetangga untuk memenuhi pasokan dalam negeri, Indonesia telah jatuh-bangun dan masih gagal dalam mengelola lahan pertanian di tanah sendiri. Seperti yang disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa dalam wawancaranya bersama Tempo pada Selasa (23/4) melalui saluran telepon. Dilansir dari laman bisnis.tempo (23/04/2024), Andreas mengatakan berdasarkan pengalaman food estate sejak zaman pemerintahan Soeharto pada 25 tahun lalu, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo luas tanah yang dipakai juga berjuta hektare, tetapi akhirnya gagal. Menurutnya, pemerintah harus konsisten dalam melakukan pembenahan terlebih dahulu.


Menurut Guru Besar IPB tersebut, sejak zaman pemerintah Soeharto hingga sekarang yang menyebabkan food estate gagal adalah karena pemerintah melanggar kaidah akademik dan tidak konsisten soal kebijakan yang mana setiap ganti pemimpin maka ganti pula kebijakannya atau terlalu banyak pindah lokasi. Padahal pada permulaan setiap pemimpin langsung membuka lahan dengan skala besar.


Kemudian, tambah Andreas, yang perlu diperhatikan pemerintah jika ingin membuka lumbung pangan di Kalimantan Tengah adalah proses kelola airnya. Andreas  juga menyebutkan pengendalian hama dan penyakit serta kelemahan lahan di Kalimantan Tengah yang merupakan gambut juga berpengaruh pada pengairannya. Oleh karenanya, alangkah lebih baik pemerintah tidak langsung uji coba sawah padi Cina pada lahan yang luas bahkan sampai langsung satu juta hektar, melainkan bisa dimulai dari ribuan hektar terlebih dahulu baru kemudian jika berhasil ditambah dengan skala yang lebih besar.


Rencana proyek impor sawah Cina ini digadang-gadang sebagai solusi menyediakan lumbung pangan dalam negeri. Padahal seperti yang kita ketahui, banyak program serupa sebelumnya yang telah mengalami kegagalan.  Pertanyaannya, andaikan berhasil, maka siapa yang akan diuntungkan? Ya, jawabannya tidak lain adalah para investor asing alias pihak Cina sendiri. Bagaimanapun jika dikelola di dalam negeri, tetapi benih dan hasil penjualannya tak murni kembali kepada rakyat pribumi, maka sudah dapat dipastikan proyek ini sejatinya gagal mensejahterakan rakyat kita sendiri. Inilah ciri khas sistem ekonomi kapitalisme. Para kapital atau pemilik modal yang dalam hal ini adalah investor asing tentu tidak akan menyia-nyiakan peluang keuntungan dari proyek besar nan pokok ini. 

 

Sistem kapitalisme hadir dengan mengusung asas manfaat. Adapun proyek ini digarap tentunya akan membawa keuntungan bagi para pemilik modal dari Cina dengan memanfaatkan kelonggaran kebijakan dari pemerintah Indonesia. Rakyat sendiri harus sabar menunggu hasil proyek ini apakah benar berhasil atau gagal dan hanya menambah kerumitan persoalan beras mahal di negeri maritim ini. Sejauh ini, belum ada jaminan harga beras akan kembali murah seperti sebelumnya, bukan? 

 

Di sisi lain, menjadi pertanyaan juga, mengapa mitigasi kegagalan membangun lumbung pangan justru tidak dilakukan, dan kapan memberi solusi untuk petani lokal. Adapun banyak petani yang mengalami kegagalan dan meninggalkan lahannya, tak sedikit pula yang akhirnya dijual.  Akibatnya petani makin malas bahkan pensiun sebagai petani. Ini merupakan suatu kemunduran di bidang pertanian yang tak dapat terelakkan. Oleh karena itu, pemerintah sudah seharusnya mencarikan solusi terbaik atas persoalan di bidang pertanian ini.

 

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita percaya dan yakin bahwa Islam benar sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Islam sendiri sebenarnya dapat menyelesaikan persoalan pangan dari akar masalah, dan tidak sekedar mewujudkan ketahanan pangan saja, namun juga kedaulatan pangan. Negara atau daulah Islam akan bertanggung jawab penuh membantu petani, apalagi pertanian adalah persoalan strategis. Kemudian, jika memang akan menjalin kerjasama dengan asing, maka politik luar negeri daulah Islam dijadikan sebagai pedoman. Adapun daulah tidak akan tergantung pada modal swasta atau asing yang dapat mengancam kesejahteraan rakyat.

 

Dalam sistem Islam, para petani didorong untuk memanfaatkan lahan pertanian secara maksimal dan tidak diperbolehkan menelantarkannya. Adapun lahan yang tidak dimanfaatkan selama tiga tahun, maka kepemilikan atas lahan kosong tersebut hilang dan negara berhak memberikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Kemudian, negara Islam juga akan mendukung teknologi dan riset dalam bidang pertanian secara masif dan tepat guna sehingga keberhasilan kedaulatan pangan dapat tercapai. Teraturnya pengelolaan bidang ekonomi dan pertanian ini hanya dapat ditemui dalam pemerintahan Islam, yakni khilafah Islamiyah dengan pemimpinnya yang disebut khalifah.

 

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sejak khilafah terakhir, turki ustmani di Turki telah dihilangkan dan diganti dengan sistem kufur demokrasi, maka umat Islam di seluruh dunia mulai terpecah belah dan tersekat-sekat oleh nation state. Kondisi umat hari ini yang tidak terpelihara dengan baik oleh sistem kufur sekulerisme kapitalisme hari ini menunjukkan sebuah keprihatinan bersama. Banyak yang terjajah dari segi pemikiran hingga fisik. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok ini saja, misalnya. Di negeri mayoritas muslim ini, masih banyak umat yang kelaparan dan kesusahan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari mereka. Oleh karena itu, proyek sawah Cina ini tampaknya belum dapat menjadi solusi ketahanan pangan Indonesia. Impor sawah sekalipun mungkin hanya menambah penderitaan rakyat kecil karena sejatinya kapitalisme memang mendukung investor asing belaka. Wallahualam bissawab. []

Impor Sawah Cina, Kapitalisme Mendukung Investor Asing

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.