Satu Syariat Saja Bisa Mendorong Pergerakan Ekonomi, Apalagi Semuanya?

 


Syariat Islam mengajarkan untuk saling berbagi terutama pada sanak saudara dan juga kaum muslimin secara umum

Semuanya dilakukan dalam rangka ibadah harta dan menyucikan diri



Penulis Verawati S.Pd

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Bagi pemudik lebaran pasti pengeluaran uang jauh lebih besar. Untuk biaya bekal, oleh-oleh, ongkos perjalanan, dan juga menyiapkan THR/uang ampau bagi sanak saudara. ditambah jika ada agenda liburan ke salah satu tempat pariwisata. Pastinya pengeluaran sangat tinggi. Ada istilah, cari uang di kota, ngabisin di desa.


Maka tidak heran jika hasil survei yang dilakukan oleh kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengatakan bahwa diperkirakan perputaran ekonomi mencapai 276,1 triliun pada periode lebaran kali ini. Angka yang cukup fantastis, dalam sektor ekonomi yakni kenaikannya hingga 15% dari tahun lalu. Hal ini ditandai dengan dua hal yaitu konsumsi yang tinggi dan peningkatan pergerakan masyarakat. (katadata, 12/04/2024)


Indikator konsumsi yang tinggi yaitu besarnya kebutuhan uang tunai dan pergerakan masyarakat yaitu banyaknya pemudik dan pengunjung tempat-tempat pariwisata. Hal ini didukung oleh adanya libur lebaran yang cukup panjang, pemberian Bansos dan BLT serta THR untuk para ASN. (Kemenparekraf, 01/04/2024)


Tingginya perputaran ekonomi saat lebaran menunjukkan bahwa syariat Islam mampu mendongkrak perekonomian di tengah kondisi sedang lesu. Perputaran uang dari kota ke desa membuat semua sektor ekonomi bergerak dan hidup. Tak ada penjual yang sepi dari pembeli. Baik kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan, maupun kebutuhan sekunder dan tersier banyak pembelinya.


Lihat saja toko emas dipadati oleh kaum hawa, toko elektronik seperti hp dipenuhi oleh kaum muda. Apalagi kebutuhan sembako terutama beras laris manis. Swalayan-swalayan pun barangnya banyak diborong. Semuanya bergerak dan lancar, tak ada yang menahan uang.


Hal ini disebabkan syariat Islam mengajarkan untuk saling berbagi terutama pada sanak saudara dan juga kaum muslimin secara umum. Kemudian ada beberapa syariat Islam yang lainnya seperti zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah wajib atas setiap kepala yang pelaksanaannya menjelang Idul Fitri. Adapun zakat mal diwajibkan bagi orang yang kaya (Muzaki), ini pun biasanya dilakukan di bulan Ramadan.


Semuanya dilakukan dalam rangka ibadah harta dan menyucikan diri. Sebagaimana firman Allah Swt. "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (At-Taubah: 103)


Satu saja hukum Islam diterapkan dampaknya luar biasa. Mendorong laju perekonomian bangsa. Bagaimana jika hukum Islam diterapkan secara keseluruhan dalam semua aspek kehidupan? Tentu akan membawa pada tingginya laju pergerakan ekonomi bagi bangsa sendiri dan juga dunia. Hingga tidak ada lagi orang yang layak menerima zakat.


Sebagaimana yang pernah terjadi di masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Kesejahteraan dirasakan oleh seluruh masyarakat. Sehingga kekayaan yang dimiliki disalurkan ke negara lain yang membutuhkan. Artinya  kesejahteraan ini tidak hanya dirasakan oleh umat Islam saja, melainkan oleh seluruh manusia. Baik muslim maupun non-muslim. 


Kondisi ini terjadi karena pada saat itu Islam dipakai sebagai sistem kehidupan. Diterapkan di semua aspek kehidupan dalam sebuah bingkai Islam yaitu daulah khilafah Islamiyyah. Inilah berkah atau kebaikan Islam. Semuanya merasakan dan mendapatkan kelancaran dan juga kebahagiaan. Penulis sendiri mendapatkan cerita bahwa salah satu tetangga non-muslim kebanjiran pesanan kue lebaran. 

Lalu masihkah ragu dengan penerapan Islam secara Kafah?

Wallahualam bissawab. []

Satu Syariat Saja Bisa Mendorong Pergerakan Ekonomi, Apalagi Semuanya?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.