Rumah Tangga Tidak "Samara" Akibat Lumpuhnya Ketahanan Keluarga

Maraknya kasus KDRT di negeri ini menunjukkan rapuhnya ketahanan keluarga

Salah satunya karena fungsi perlindungan keluarga tidak terwujud


Penulis Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik


Matacompas.com, OPINI -- Perumpamaan indah "Baiti jannati" jelas tidak akan terwujud, ketika suami atau istri berbuat aniaya terhadap pasangan hidupnya. Padahal tujuan utama pernikahan adalah membentuk keluarga yang Samara (sakinah, mawadah, warahmah). Ironisnya, dalam sistem kapitalis, penganiayaan atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih marak terjadi.


Di Depok, seorang wanita berinisial RFB, menjadi korban penganiayaan atau KDRT oleh suaminya, MRF. yang merupakan mantan Perwira Brimob. Korban mengalami KDRT berulangkali, sejak tahun 2020. Kejadian paling parah yaitu pada tanggal 3 Juli 2023. Menurut kuasa hukumnya Renna A. Zulhasril, korban juga mengalami kekerasan di ruang kerja suaminya dan dilakukan dihadapan anaknya. RFB dipukul, dibanting, dan diinjak-injak. Akibat penyiksaan tersebut korban mengalami pendarahan dan keguguran. (Dikutip dari media online kompas, Jum'at, 22-3-2023)


Sudah bukan rahasia lagi, faktanya kasus KDRT telah mewabah di negeri ini. Baik yang dilakukan oleh rakyat biasa, publik figur, ataupun oleh para pejabat. Baik yang dilakukan oleh kaum laki-laki (suami), maupun oleh kaum perempuan (istri). Menurut data dari Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, angka kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2023 mencapai 401.975 kasus. (detiknews, Kamis, 7-3-2024). Pertanyaannya, mengapa jumlah kasus KDRT terus meningkat, dan bagaimana solusinya?


Pada umumnya KDRT terdiri dari dua jenis, yakni kekerasan fisik dan kekerasan psikis. Menurut penelitian, faktor-faktor pencetus KDRT di antaranya, perselingkuhan, masalah ekonomi, budaya patriarki, adanya campur tangan pihak ketiga, pasangan bermain judi, perbedaan prinsip, dan lain sebagainya.


Adapun maraknya kasus KDRT di negeri ini menunjukkan rapuhnya ketahanan keluarga, salah satunya karena fungsi perlindungan keluarga tidak terwujud. Ketahanan keluarga adalah kemampuan menghadapi dan mengelola masalah dalam situasi sulit, agar fungsi keluarga tetap berjalan dengan harmonis. Tujuan dari ketahanan keluarga adalah untuk mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin anggotanya. Seorang kepala keluarga berkewajiban menjaga dan mengayomi seluruh anggota keluarganya dari segala gangguan yang datang dari pihak lain.


Penyebab lainnya yaitu adanya cara pandang kehidupan sekulerisme di tengah masyarakat yang berpengaruh terhadap sikap dan pandangan setiap individu keluarga. Sekularisme adalah pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Kehidupan keluarga yang jauh dari nilai-nilai islami akan berakibat fatal. Dimana setiap individu keluarga dapat berbuat dan bertindak semaunya sendiri, tidak takut dengan dosa atau ancaman siksa. Adanya ketidakpahaman terkait fungsi dari setiap individu keluarga juga dapat memicu terjadinya KDRT. Oleh karena itu, hendaknya setiap anggota keluarga harus mengetahui dan melaksanakan perannya masing-masing. Apakah ia berperan sebagai seorang ayah, ibu, suami, istri, anak, atau yang lain. Jika setiap anggota keluarga telah melakukan tugasnya masing-masing sesuai dengan tuntutan syariat, maka akan terwujud keluarga yang harmonis.


Dalam Islam, negara harus hadir dalam mengurus urusan rakyat, salah satunya yaitu mewujudkan ketahanan keluarga. Islam memandang bahwa keluarga adalah institusi terkecil yang strategis dalam membentengi negara. Setiap pasangan suami istri wajib menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarganya, terutama bagi seorang suami yang merupakan "qawwam" (pemimpin) keluarga. Suami diperintahkan untuk berbuat baik kepada istri-istrinya.

Firman Allah Swt.,

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih, adalah mereka yang taat kepada Allah, dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan "nusyuz", hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) mereka pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (TQS. An-Nisa [4]:34)


Ajaran Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memuliakan perempuan. Sebab, suami adalah pelindung dan pembimbing istri dan anak-anaknya. 


Islam mengharuskan bahwasanya negara menjamin terwujudnya fungsi keluarga, melalui berbagai sistem kehidupan berakidah Islam. Yakni dengan cara menerapkan sistem ekonomi Islam, politik Islam, pendidikan Islam, dan seluruh aspek kehidupan diatur dengan menggunakan aturan (hukum) Islam. Sehingga akan tercipta keluarga yang "samara", sejahtera, berkepribadian Islam, dan memiliki ketahanan keluarga yang kuat.


Semua ini dapat terwujud apabila negara meninggalkan sistem kapitalis, dan menerapkan sistem Islam. Dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh, maka individu-individu masyarakat menjadi lebih baik akhlaknya. Sebab, pola pikir dan pola sikap mereka akan dibina dengan syaqafah Islam. Hanya Islam yang mampu mewujudkan ketahanan keluarga secara sempurna. Inilah yang membedakan pendidikan sekuler ala kapitalis dengan pendidikan atau pembinaan Islam. Saatnya kembali kepada syariat Islam kafah.

Wallahualam bissawab. []

Rumah Tangga Tidak "Samara" Akibat Lumpuhnya Ketahanan Keluarga

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.