Kekerasan Terhadap Anak Terus Berulang Bukti Lemahnya Jaminan Perlindungan Negara

Prinsip sekularisme dalam pendidikan tidak kalah memprihatinkan

Disorientasi, tidak memiliki visi hidup jelas, merupakan hasil dari sistem pendidikan yang gagal menanamkan keimanan dan ketaatan


apt. Siti Nur Fadillah, S.Farm

Pegiat Literasi 

 

Matacompas.com, ANALISIS -- Rangkaian Kasus yang Tidak Kunjung Usai


Belum usai dengan kasus penganiayaan anak di pesantren, publik kini dikagetkan dengan kasus penganiayaan anak selebgram Aghnia Punjabi oleh pengasuhnya. Terungkap, pengasuh menganiaya balita 3 tahun tersebut hingga babak belur dikarenakan pengasuh kesal sebab korban tidak mau minum obat. Selain itu, Kasat Reskrim Polresta Malang, Danang Yudanto, mengungkapkan ada satu anggota keluarga pengasuh yang sedang sakit, sehingga memicu kekesalan pengasuh dan berakhir pada penganiayaan korban. Kepolisian juga menyebutkan saat peristiwa penganiayaan terjadi, kedua orang tua korban sedang berada di luar kota. Pengasuh yang terbukti bersalah dijerat dengan pasal 80 (1) sub (2) UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah (Liputan6, 30/03/2024).


Kasus penganiayaan ini merupakan satu bongkahan kecil dari besarnya gunungan masalah kekerasan pada anak. Berdasarkan laman resmi SIMFONI-PPA, sejak Januari 2024 hingga hari ini terdapat 5.462 kasus kekerasan. Dimana kekerasan rumah tangga menempati urutan pertama jumlah kasus berdasarkan tempat kejadian, yaitu 3.347 kasus. Tren kasus kekerasan pada anak juga cenderung meningkat setiap bulan. Kondisi ini sangat miris, mengingat 10 tahun sudah perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disahkan. Maka tidak heran, kapabilitas pemerintah dalam menjamin keamanan warga negaranya kembali dipertanyakan.

 

Menyoal Jaminan Keamanan dalam Sistem Sekuler


Jika meninjau UU Perlindungan Anak, bisa dipahami bahwa pemerintah hanya berfokus pada penanggulangan dibandingkan pencegahan. Pengaduan, bantuan hukum, rehabilitasi, maupun pendampingan tokoh agama. Padahal faktor penyebab perilaku kekerasan berkisar pada pemahaman orang tua atau pengasuh; tekanan ekonomi; dan lingkungan, yang pada dasarnya dapat dicegah sedini mungkin. Dalam kasus anak Aghnia Punjabi misalnya, lantaran pengasuh kurang memahami bahwa pengasuhan anak memerlukan kesabaran, ditambah adanya permasalahan keluarga, emosi yang tidak terbendung akhirnya menguasai akal sehat dan melampiaskannya pada anak.


Pencegahan perilaku kekerasan merupakan hal yang harus dilakukan secara sistemis, sebab akar masalahnya pun sistemis. Solusi yang diberikan pun tidak jauh dari perbaikan sistem ekonomi dan pendidikan. Namun, melihat kondisi saat ini dimana sistem sekuler menguasai sendi-sendi negara, sangat skeptis rasanya jika mengharapkan perubahan. Sistem sekuler yang berwujud demokrasi ini memiliki prinsip menihilkan peran Allah Swt. sebagai pembuat hukum, serta memberikannya kepada manusia. Dengan kata lain, menghapus kedaulatan Allah, serta menggantinya dengan kedaulatan rakyat. Dalam hal ekonomi, kedaulatan rakyat menyebabkan aturan dasar kepemilikan yang sudah diatur dalam Islam dibuang jauh-jauh. Sumber daya alam yang seharusnya menjadi kepemilikan bersama justru berakhir dikuasai oligarki. Menyisakan rakyat kecil yang harus mati-matian mencari nafkah agar dapat bertahan hidup di tengah mahalnya pangan. Stress, tertekan, depresi bukan hal yang baru dalam sekularisme.


Prinsip sekularisme dalam pendidikan juga tidak kalah memprihatinkan. Disorientasi, tidak memiliki visi hidup jelas, merupakan hasil dari sistem pendidikan yang gagal menanamkan keimanan dan ketaatan. Agama tidak lagi dijadikan landasan dan filosofi pendidikan, tapi hanya salah satu mata pelajaran saja. Itupun dengan porsi yang sangat sedikit. Lalu bagaimana bisa menghasilkan individu yang cerdas, memahami agama, dan taat syariat. Padahal calon ibu shalihah yang berkualitas lahir dari pendidikan Islam yang mendalam. Selain kurangnya pemahaman agama, kerasnya hidup dalam sistem sekularisme juga menyebabkan ibu harus ikut mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan maupun gaya hidup. Meninggalkan kewajiban pengasuhan anak pada orang lain yang kasih sayangnya tentu tidak sebesar kasih sayang ibu.

 

Mewujudkan Keamanan Hakiki dengan Islam


Melihat betapa meragukannya sistem sekuler dalam mengelola negara, maka mengganti sistem adalah solusi utama dan satu-satunya. Dan di antara tiga mabda yang ada di dunia, Islam adalah mabda satu-satunya yang benar dan sesuai dengan fitrah manusia. Tidak seperti tiga mabda lain, Islam bukan mabda buatan manusia yang lemah dan serba kurang. Islam adalah mabda yang berasas pada keyakinan akan adanya Allah Swt., Sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Maka aturan yang terpancar tentu akan sesuai dengan fitrah manusia, sebab Sang pemilik mabda paham betul karakter manusia dan apa yang dibutuhkan manusia.


Dalam hal jaminan perlindungan terhadap kekerasan anak, Islam memiliki mekanisme terbaik yang tidak hanya berfokus pada penanggulangan, tetapi juga pencegahan. Dalam hal pencegahan Islam akan menjamin tercapainya kualitas pendidikan terbaik dan sistem ekonomi yang mampu menyejahterakan rakyat secara menyeluruh. Serta dalam hal penanggulangan, Islam akan menjamin adanya sistem peradilan yang memutuskan perkara berdasarkan syariat Islam.


Jika kita melihat masa-masa awal kejayaan Islam, maka kita akan menemukan betapa Islam sangat memperhatikan pendidikan. Sebab dalam Al-Qur'an dan Hadis secara jelas Islam mewajibkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu. Selain sebagai kewajiban, Islam juga memandang pendidikan adalah media penting dalam penanaman tsaqofah Islam. Yaitu pengetahuan yang menempatkan akidah sebagai induk pembahasan, pengetahuan yang akan membentuk aqliyah (pola pikir) dan kecenderungan seorang individu, di mana selanjutnya akan mempengaruhi jiwa dan perilakunya. Maka individu maupun masyarakat yang sudah mengemban tsaqofah Islam akan selalu taat syariat, serta terikat dengan aturan Allah apapun kondisinya. Dan hal ini tentu menjadi sebuah jaminan kuat terbentuknya masyarakat yang aman dan jauh dari aksi kekerasan. Dari pendidikan yang berkualitas, juga akan terbentuk calon ibu yang memahami bahwa pengasuhan anak adalah tugas utamanya sebagai ibu.


Sistem ekonomi merupakan salah satu pilar penting dari sebuah negara. Dan sistem ekonomi yang baik adalah yang mampu mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan yang hanya memperkaya si kaya dan memiskinkan si miskin. Berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem sekuler yang membebaskan individu untuk mengeksploitasi SDA, Islam secara tegas mengatur kepemilikan umum akan dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada seluruh rakyat secara adil. Ekonomi dalam Islam juga hanya bertumpu pada sektor riil dan tegas mengharamkan riba, sehingga ekonomi lebih stabil dan nyata mensejahterakan. Ekonomi yang sejahtera tentu tidak akan membuat rakyat tertekan, stress karena banting tulang dari pagi hingga malam. Juga tidak akan mengorbankan para ibu untuk ikut mencari nafkah. Sehingga ibu akan fokus pada tanggung jawab utamanya sebagai ibu rumah tangga dan sekolah pertama anak. Karena sesungguhnya tidak ada pengasuhan terbaik kecuali pengasuhan ibu. Maka apa yang bisa diharapkan dari pengasuhan seorang pekerja yang hanya mengharapkan imbalan.


Selain pencegahan, Islam juga menjamin keamanan melalui sistem peradilan. Sistem peradilan Islam akan memeriksa, mengadili, dan memutus perkara berdasarkan syariat Islam. Yaitu berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah, bukan berdasarkan kitab KUHP peninggalan Belanda seperti sekarang. Dalam peradilan Islam berbagai jenis pelanggaran beserta sanksinya sudah ditetapkan secara jelas dan spesifik. Seperti pembunuhan, penganiayaan, perzinaan, perampokan, dll. Peradilan Islam juga tidak flexible dan tidak negotiable, sehingga tidak akan menimbulkan diskriminasi dan ketidakadilan. Putusan hukuman juga jelas, tegas, dan tidak dapat diubah. Peradilan Islam tidak mengenal banding, sehingga siapapun dapat kepastian hukum dengan cepat dan efisien. Dengan sistem peradilan yang tegas dan tidak pandang bulu seperti ini, pelaku kejahatan akan jera dan tidak akan mau mengulanginya lagi.


Seluruh mekanisme tersebut tidak akan bisa diterapkan kecuali dengan adanya institusi yang mau mengemban mabda Islam secara menyeluruh. Institusi yang memiliki prinsip menyatukan agama dan negara, institusi yang mau mengembalikan kedaulatan Allah sebagai pembuat hukum, dan institusi tersebut adalah Khilafah. Khilafah bukan berasal dari pemikiran seseorang, Khilafah juga bukan hasil eksperimen sosial yang bersifat trial and error. Khilafah bersumber dari wahyu Allah melalui lisan Rasulullah, yaitu “Akan kembali Khilafah atas jalan kenabian” (HR. Ahmad dari Hudzaifah r.a.)

Wallahualam bissawab. []

 


Kekerasan Terhadap Anak Terus Berulang Bukti Lemahnya Jaminan Perlindungan Negara

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.