Kekerasan Anak Terus Berulang, Mengapa Bisa Terjadi?

Berulangnya kasus kekerasan terhadap anak mengindikasikan anak tidak mendapat jaminan keamanan

Di wilayah terdekat, yaitu keluarga pun tak menjamin terbebasnya anak dari kekerasan


Penulis Hasriyana, S. Pd

Pemerhati Sosial Asal Konawe


Matacompas.com, OPINI -- Kasus kekerasan terhadap terus berulang. Bak fenomena gunung es, yang terekspose hanya segelintir kasus, tetapi sesungguhnya di lapangan jauh lebih banyak terjadi. Dalam tataran kehidupan hari ini banyak ibu yang begitu mudah stres ketika menghadapi pola tingkah laku anak. Belum lagi mereka dihadapkan dengan banyaknya persoalan hidup. Misalnya, kebutuhan pokok yang terus naik harganya.


Sebagaimana dikutip dari Liputan6, 30-03-2024, berita tentang pengasuh berinisial IPS (27) yang menganiaya JAP, balita 3 tahun, anak dari selebgram Hifdzan Silmi Nur Emyaghnia atau biasa disapa Aghnia Punjabi. Pengasuh wanita asal Jawa Timur tersebut begitu bengis menganiaya balita tak berdosa hingga babak belur.


Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang, Komisaris Polisi (Kompol) Danang Yudanto mengungkapkan bahwa pelaku merasa kesal terhadap korban karena menolak obat untuk menyembuhkan luka cakar. Penolakan balita itu lantas memancing rasa kesal pelaku, dan kemudian terjadilah penganiayaan keji. Selain rasa kesal akibat korban tidak mau diberi obat, kata Danang, ada beberapa faktor lain yang menjadi pendorong peristiwa penganiayaan


Berulangnya kasus kekerasan terhadap anak mengindikasikan anak tidak mendapat jaminan keamanan. Di wilayah terdekat, yaitu keluarga pun tak menjamin terbebasnya anak dari kekerasan. Banyak korban kekerasan anak yang terjadi di masyarakat justru yang menjadi pelakunya adalah orang terdekat atau orang tua sendiri. Kalau sudah seperti itu faktanya, lalu di mana anak harus mencari perlindungan dan keamanan, jika di tengah keluarganya sendiri dirinya menjadi korban kekerasan.


Pun, kondisi keluarga saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, dengan naiknya berbagai macam kebutuhan pokok menjadi beban tambahan bagi orang tua khususnya. Terlebih jika mereka hidup dalam ekonomi menengah ke bawah. Jangankan untuk membeli kebutuhan sekunder, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja susah. Dalam kondisi sempit seperti ini tidak jarang orang tua justru melampiaskan kemarahannya terhadap anak.


Selanjutnya, tidak jarang orang tua dan calon orang tua pun masih minim ilmu mendidik anak sesuai tuntunan agama. Di mana pendidikan mestinya akan disesuaikan dengan level berpikir anak tersebut. 


Sementara di masyarakat terkadang ada orang tua menuntut bahkan memaksa anak untuk bisa cepat memahami apa yang mereka sampaikan, tanpa tahu apakah anak ini sudah bisa mengerti atau tidak. Sehingga terkadang ibu memarahi anak, bahkan memukul.


Hal ini justru berbeda dengan sistem Islam, di mana dalam tataran keluarga akan diberikan edukasi berkaitan pemahaman Islam. Terlebih basic akidah akan diperkuat sehingga melahirkan masyarakat yang memiliki pemahaman Islam yang benar. Keyakinan itu pun yang akan memperkuat keimanan seseorang termasuk orang tua dalam mendidik anak-anaknya di dalam keluarga. Dari itu akan sangat minim ditemukan orang dewasa atau orang tua yang menganiaya anak.


Selain itu, dalam tataran negara akan memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok bagi masyarakat, jikapun tidak gratis tetapi harganya akan bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah khususnya. Beban hidup dalam keluarga akan terasa lebih ringan, jika negara hadir dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat. Untuk itu, kecil kemungkinan terjadi kekerasan orang tua terhadap anak karena pengaruh beban hidup atau ekonomi.


Dengan demikian, kita tidak bisa berharap banyak pada sistem saat ini yang notabene belum bisa menyelesaikan persoalan kekerasan terhadap anak. Olehnya itu, kita hanya bisa berharap pada sistem yang berasal dari pencipta, yaitu Allah Swt. yang diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahualam bissawab. []

Kekerasan Anak Terus Berulang, Mengapa Bisa Terjadi?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.