KDRT Terus Berulang, Buruknya Fungsi Perlindungan Keluarga Hilang

Kasus KDRT masih terus berulang dengan tingkat keparahan yang mengkhawatirkan

Ini menunjukkan fungsi perlindungan keluarga oleh pemerintah belum optimal


Penulis Nur Saleha, S.Pd

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan masalah serius yang terus menghantui masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di Depok, istri mantan petugas Brimob mengalami KDRT sejak 2020. Kekerasan yang dilakukan suami sudah berulang kali hingga kejadian terakhir pada 3 Juli 2023 menjadi yang paling signifikan.​​


Akibat KDRT ini, korban mengalami luka fisik dan psikis.​ Luka yang diderita oleh korban meliputi lecet pada kepala dan tangan serta memar pada wajah, dada, dan punggung. Selain itu, korban juga mengalami keguguran dan perdarahan akibat tindakan suaminya.​​​ (Kompas, 22-03-2024)


Selain itu, kasus KDRT terjadi di Deli Serdang, Sumatera Selatan. Seorang laki-laki tega membacok ibu mertuanya karena kesal saat sang ibu mertua menegurnya, karena ia melakukan KDRT kepada istrinya. (Kumparan, 22-03-2024)


Menurut data terbaru yang diperoleh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), kasus KDRT di Indonesia masih cukup tinggi. Pada tahun 2023, terdapat peningkatan jumlah laporan kasus KDRT sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan belum mampu mengurangi angka kekerasan dalam rumah tangga secara signifikan.


Faktor Penyebab KDRT


Faktor-faktor yang menjadi penyebab tingginya angka KDRT di Indonesia sangatlah kompleks. Salah satunya adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menghormati dan melindungi anggota keluarga. Budaya patriarki yang masih kental juga menjadi salah satu pemicu terjadinya KDRT, di mana dominasi pria dalam keluarga seringkali menjadi alasan untuk menggunakan kekerasan terhadap pasangan atau anak-anak. Adapun, faktor ekonomi juga turut berperan dalam meningkatnya KDRT, di mana ketidakmampuan ekonomi seringkali menjadi pemicu pertengkaran dan kekerasan dalam keluarga.


Selain itu, lemahnya penegakan hukum dan kurangnya sanksi yang tegas bagi pelaku KDRT juga turut memperburuk situasi ini. Banyak korban KDRT yang tidak mendapatkan keadilan karena ketidakmampuan sistem hukum dalam memberikan perlindungan yang memadai. Ini menunjukkan bahwa peran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada keluarga masih belum optimal.


Meskipun telah ada berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai lembaga, tetapi kasus KDRT masih terus berulang dengan tingkat keparahan yang mengkhawatirkan. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi perlindungan keluarga oleh pemerintah belum sepenuhnya optimal.


Masalah KDRT tidak terlepas dari sistem yang diterapkan dari negeri yakni sistem sekularisme. Dalam sistem ini telah menjadi lahan subur bagi masyarakat untuk berbuat tanpa terikat aturan Allah Taala. Ini tidak perlu dibantah lagi.  Sekularisme memiliki cara pandang kehidupan yang dapat berpengaruh terhadap sikap dan pandangan setiap individu termasuk dalam hubungan keluarga, yang harusnya penuh kasih sayang dan memberi jaminan perlindungan. Samara tidak terwujud dalam keluarga. 


Solusi dalam Islam


Lain halnya dengan sistem Islam. Islam memiliki aturan paripurna yang datang langsung dari Sang Pencipta, terkait kehidupan berumah tangga sekaligus solusi terhadap berbagai masalah yang menimpa. 


Dalam Islam perlindungan terhadap keluarga memiliki kedudukan yang sangat penting. Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah pondasi masyarakat yang harus dijaga dan dilindungi. Rasulullah Muhammad saw. bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku."(HR. Tirmidzi). 


Selain itu, sebagai solusi terhadap masalah KDRT, tidak terlepas dari peran negara dan juga butuh kontrol dari masyarakat karena penerapan hukum Islam dalam keluarga tidak bisa hanya oleh individu-individu keluarga muslim.


Peranan negara dalam Islam penting, pemimpin dalam hal ini menerapkan syariat Islam secara menyeluruh ke setiap aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aturan keluarga. Sistem hukum Islam memiliki sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku kejahatan, termasuk KDRT. 


Ketika terjadi tindakan kekerasan di dalam rumah tangga seperti kekerasan suami terhadap istri yang mengancam keselamatan ini merupakan perlanggaran syariat ini merupakan tindakan kejahatan maka di sinilah peran negara. Negara menerapakan sistem sanksi Islam yang akan menghukum para pelaku sehingga jera, dan saksi dalam Islam mencegah siapa pun yang ingin melakukan hal yang sama. Selain itu, negara akan menjamin penuh semua kebutuhan hidup mereka.


Adapun, kontrol masyarakat akan terwujud dengan cara mendakwahkan Islam kepada keluarga keluarga muslim yang ada di sekitar kita agar mereka paham dan mau menjalankan aturan tersebut. Jika terjadi pertengkaran, saudara atau masyarakat bisa menasihati pasangan (suami-istri) agar menjadikan Islam sebagai acuan dalam menyelesaikan semua problem rumah tangga.


Dalam sistem Islam untuk mengatasi masalah KDRT, tidak hanya dengan kerjasama yang kuat, kita dapat mewujudkan keluarga yang harmonis dan terhindar dari kekerasan, sehingga fungsi perlindungan keluarga dapat terpenuhi dengan baik. Hal itu dapat dicapai dengan menerapkan hukum Islam secara menyeluruh yang diterapkan dalam sebuah negara karena keimanan yang akan mampu menyelesaikan persoalan KDRT. Wallahualam bissawab. []

KDRT Terus Berulang, Buruknya Fungsi Perlindungan Keluarga Hilang

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.