Kasus Kumba dan Joki Nilai, Wajah Buruk Dunia Pendidikan

 


Kuatnya liberalisasi di perguruan tinggi menyebabkan sistem pendidikan kita kehilangan standar integritas akademik

Kampus tidak lagi menjadi tempat membangun mental kepribadian manusia, melainkan menjadi pasar bisnis industrialisasi


Penulis Bunda Hanif 

Pendidik


Matacompas.com, OPINI -- Wajah dunia pendidikan kembali tercoreng dengan adanya dua kasus yang mencuat beberapa hari terakhir, yaitu kasus plagiarisme oleh seorang dekan di Jakarta, serta joki mahasiswa oleh seorang dosen di Pontianak. 


Kasus pertama adalah dugaan plagiarisme yang dilakukan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional (FEB Unas) Jakarta, Kumba Digdowiseiso yang sudah melakukan plagiarisme berat dalam publikasi ilmiah di Journal of Social Science (JSS) pada 2024. Dugaan tersebut datang dari sejumlah dosen di Universitas Malaysia Terengganu (UMT) yang namanya dicatut Kumba tanpa izin untuk artikel ilmiahnya. (Tirto, 16-4-2024)


Kumba telah memublikasikan 160 artikel ilmiah sepanjang 2024. Hal yang sangat tidak masuk akal, menerbitkan jurnal sebanyak itu dalam kurun waktu kurang dari setahun. Sebagai bentuk pertanggungjawaban akademis atas kasus yang ia hadapi, Kumba mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Dekan FEB Unas. (Tempo, 19-4-2024)


Saat ini, Indonesia menduduki peringkat kedua dalam menghasilkan jurnal predator. Kasus Kumba tidak bisa dianggap sebagai persoalan individu, melainkan sistemis. Sistem insentif yang dibuat pemerintah telah membuat dosen mengejar target jumlah jurnal yang dipublikasikan. Inilah yang memengaruhi dosen melakukan berbagai cara demi mengejar target. (Tempo, 19-4-2024).


Lain lagi dengan apa yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Abdul Haris, menurutnya kasus Kumba berkaitan dengan integritas individu bukan disebabkan tingginya tuntutan kuantitas publikasi jurnal ilmiah dari pemerintah. (Tempo, 15-4-2024)


Menurut data dari Retraction Watch, penulis Indonesia yang diretraksi meningkat dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 72 artikel bermasalah diduga merupakan plagiat atau mengandung kesalahan etik berat dalam publikasi sehingga memperburuk reputasi pendidikan tinggi Indonesia di mata Internasional. (Tempo, 18-4-2024)


Kasus kedua adalah dugaan dosen Untan yang menjadi joki nilai mahasiswa Program Magister (S2) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Dosen tersebut memanipulasi nilai mata kuliah di Sistem Informasi Akademik atau SIAKAD seorang mahasiswa, padahal mahasiwa tersebut tidak pernah mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kuliah. (Tempo, 16-4-2024)


Kedua kasus tersebut telah menunjukkan betapa lemahnya integritas individu pengajar (dosen). Hal tersebut terjadi tidak pada ranah personal saja, melainkan sistemis, melihat begitu maraknya kasus plagiarisme dan joki nilai mahasiswa


Kuatnya liberalisasi di perguruan tinggi menyebabkan sistem pendidikan kita kehilangan standar integritas akademik. Kampus tidak lagi menjadi tempat membangun mental kepribadian manusia, melainkan berubah menjadi pasar bisnis industrialisasi. 


Kuatnya liberalisasi pendidikan bisa kita lihat dari tujuan mahasiswa saat ini dalam menempuh perkuliahan, yaitu semata demi memperoleh gelar dan ijazah. Demi gelar dan ijazah, orang akan menempuh berbagai cara, termasuk cara-cara kotor, seperti penipuan, manipulasi, suap dan sebagainya. Gelar dan ijazah telah dikultuskan sebagai azimat dalam menentukan masa depan pemiliknya, oleh karenanya tidak jarang gelar dan ijazah dijadikan ajang bisnis di kampus. 


Untuk menyelesaikan karut marut pendidikan ini, butuh perubahan sistemis. Tidak cukup hanya dengan mengusut individu pelaku kejahatan. Yang jauh lebih penting dan sangat menentukan nasib pendidikan kita pada masa depan adalah koreksi terhadap sistem pendidikan kita. Caranya adalah dengan mengganti sistem pendidikan hari ini yang bertujuan materialistis menjadi sistem pendidikan Islam yang bertujuan membentuk sosok berkepribadian Islam.


Sistem pendidikan Islam menetapkan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia berkepribadian Islam. Allah swt berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat: 56)


Tujuan yang berdimensi ukhrawi ini menyebabkan manusia menggunakan cara-cara halal demi meraih target pendidikan. Cara-cara haram seperti plagiarisme, manipulasi, penipuan tidak akan pernah bisa mengantarkan kepada tujuan yang membentuk kepribadian Islam. 


Tujuan pendidikan Islam tidak terpaku pada gelar dan ijazah. Pola pikir yang cemerlang, pola sikap yang luhur, dan perilaku yang islami, menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut tentu saja tidak bisa ditempuh dengan cara-cara curang.


Adapun dari sisi kurikulum pendidikan, diterapkannya kurikulum berbasis akidah Islam sehingga akan meluruskan niat setiap peserta didik bahwa tujuan menuntut ilmu haruslah relate dengan posisinya sebagai hamba Allah. 


Materi ajar dalam kurikulum pendidikan Islam bersumber dari tsaqafah Islam sehingga akan membentuk pemikiran dan pemahaman yang Islami. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter dan identitas muslim. 


Proses pendidikan dalam Islam, tidak sekedar transfer pengetahuan melainkan transfer karakter. Guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik sehingga murid memiliki kepribadian yang mulia. 


Profil pengajar dalam sistem Islam baik itu guru maupun dosen harus menggambarkan profil muslim yang berkepribadian Islam. Mereka harus menjadi teladan dalam kebaikan dan takwa bagi murid-muridnya. Selain harus kompeten di bidangnya, sosok pengajar juga harus punya karakter muslim yang bertakwa. 


Tujuan dan kurikulum pendidikan ini disediakan oleh negara (Khilafah) secara gratis sehingga murid leluasa belajar tanpa terbebani biaya. Pengajar diberi upah/gaji yang layak serta jaminan kesejahteraan sehingga mereka bisa fokus dalam mendidik dan mengajar. Dengan demikian mereka tidak akan terbebani dengan tuntutan kebutuhan hidup hingga mengejar insentif dengan segala cara. 


Demikianlah sistem pendidikan Islam yang mengagumkan. Sistem ini telah terbukti efektif dalam mencetak SDM berkualitas yang akan membangun peradaban Islam yang gemilang. 

Wallahualam bissawab. []

Kasus Kumba dan Joki Nilai, Wajah Buruk Dunia Pendidikan

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.