Kapitalisme Bikin Mudik Tak Asyik


Di sisi lain masyarakat seolah sudah terbiasa dengan kemacetan dan menganggap lumrah hal ini terjadi

 Sehingga bertambah abai pemerintah dalam mitigasi


Penulis Santika 

Aktivis Dakwah


Matacompas.com, OPINI -- Macet lagi.. macet lagi... 

Gara-gara sikomo lewat

Pak polisi jadi bingung, orang-orang ikut bingung


Itulah sepenggal lagu yang diciptakan oleh kak Seto Mulyadi yang berjudul “Si Komo” yang pernah legendaris pada zamannya. Namun kali ini kemacetan yang terjadi di Indonesia tentu bukan ulah si Komo melainkan karena tradisi mudik yang biasa dilakukan oleh orang Indonesia ketika menjelang Idulfitri. Salah satunya tercatat waktu tempuh yang terjadi dari Jakarta dan sekitarnya menuju pelabuhan Merak naik secara signifikan selama periode mudik lebaran tahun 2024. Sebelum masuk pelabuhan Merak kemacetan sudah mulai mejalar dari Tol Tangerang-Merak di KM 95. Kendaraan yang melintas bahkan sempat berhenti beberapa saat tidak bergerak. Sehingga waktu tempuh yang biasanya 1 jam 30 menit menjadi 7 jam perjalanan. Belum lagi antrean calon penumpang dalam tiga kantong antrean ketika hendak naik kapal laut, bisa mencapai 3-4 jam.  Pantauan pada tanggal 6 April 2024. (cnbcindonesia)


Mudik merupakan sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh penduduk Indonesia. pasalnya para urban yang bekerja di kota-kota besar memanfaatkan momen Idulfitri untuk kembali ke kampung halaman guna bersilaturahmi dengan sanak saudara dan orang tua. Namun di tengah suasana suka cita gembira, lagi dan lagi, di setiap tahunnya harus merasakan horor kemacetan yang luar biasa. Ibarat buah simalakama mudik macet tidak mudik menanggung rindu sanak saudara dan orang tua yang amat berat.


Problem kemacetan yang berulang setiap tahunnya merupakan bukti gagalnya negara dalam mitigasi. Karena pada prinsipnya negara memberikan pelayanan transportasi berdasarkan prinsip bisnis. Tentu bukan hal yang asing terjadi, karena sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem kapitalisme. Di mana sistem ini tegak berdasarkan kepada materi, yang penting mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa harus mengindahkan kepentingan publik atau kepentingan masyarakatnya. Di sisi lain masyarakat seolah sudah terbiasa dengan kemacetan dan menganggap lumrah hal ini terjadi. Sehingga bertambah abai pemerintah dalam menyiapkan mitigasi yang seharusnya dipersiapkan guna menunjang dan memfasilitasi masyarakatnya untuk melakukan tradisi mudik. 


Mudik akhirnya menjadi tradisi yang mengorbankan kepentingan akhirat, seharusnya umat Islam di hari-hari terakhir Ramadan harus lebih khusuk dalam ibadah justru harus berada dalam situasi yang penuh emosional. Berpanas-panasan, berdesak-desakan dan bahkan tidak sedikit orang-orang yang mudik menjadi korban kriminalitas pencopetan. Di tengah kesulitan yang terjadi pemerinrah hanya memberikan solusi yang parsial, seperti memberikan diskon tiket, kebijakan one way, penerapan ganjil-genap dan sejenisnya. Solusi ini tentu bukanlah solusi yang hakiki sampai kepada akar permasalahannya. Buktinya kemacetan terus berulang setiap tahunnya.


Hal ini jelas jauh berbeda jika sistem Islam yang diterapkan. Mudik bukan lagi menjadi tradisi horor tetapi menjadi perjalanan ibadah yang tidak sedikitpun mengurangi kekhusyuan ibadah di hari-hari terakhir Ramadan. Karena negara sebagai raa’in (pelayan umat) sebagaimana hadis Riwayat Bukhari: 

"Imam atau penguasa adalah raa’in dan penanggung jawab urusan rakyatnya.” 


Berdasarkan hadis tersebut tentunya penguasa haruslah memberikan fasilitas mitigasi dengan baik dan benar sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Sehingga rasa aman dan nyaman akan didapatkan oleh rakyatnya, tanpa memperhitungkan untung rugi. Semua itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab penguasa kepada rakyatnya. Negara akan membangun dan memperbaiki jalan secara totalitas dari hulu hingga hilir. Termasuk fasilitas penerangan jalan di malam hari. Negara pun akan memberikan tarif kendaraan yang murah dan terjangkau, bahkan gratis dalam mode transportasi baik darat, laut maupun udara. Tentunya semua itu dilakukan bukan dengan berorientasi bisnis tetapi bertujuan sebagai layanan sosial kepada masyarakatnya. Begitulah sistem Islam, jika ditegakkan di muka bumi ini maka rasa aman dan nyaman akan terasa diberbagai sendi kehidupan termasuk dibidang mitigasi. Sejatinya umat muslim haruslah mengganti sistem kapitalis ini dengan sistem Islam yang sudah jelas datangnya dari wahyu Allah Swt. agar rahmatan lil’alamiin akan terwujud di dalamnya. Wallahualam bissawab. []

Kapitalisme Bikin Mudik Tak Asyik

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.