Horor Kemacetan Mudik hingga Ancaman Maut, Islam Solusinya!

Daulah Islam bertanggung jawab terhadap keselamatan, kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat untuk menggunakan sarana transportasi, terutama saat mudik

Daulah menghadirkan mitigasi optimal sebagai bentuk pemeliharaan (riayah) negara atas umat


Penulis Sri Yana, S.Pd.I.

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Mudik lebaran adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Mudik dalam bahasa Jawa, mulih dilik yang artinya pulang sebentar sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia pada liburan lebaran, terutama pada Idulfitri. Namun, menjadi momok yang horor karena lonjakan para pemudik yang cukup tinggi di setiap tahun. Selain kemacetan, kecelakaan pun kerap terjadi. Menurut pengamatan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, Irjen. Aan Suhanan, mengungkapkan bahwa data kecelakaan lalu lintas pada mudik lebaran 2024, yaitu kecelakaan kendaraan motor masih paling tinggi sebanyak 73%, bus sebanyak 12%, dan mobil pribadi 2%. (news.detik, 12/4/2024).


Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mencermati bahwa mudik lebaran faktanya merupakan migrasi terbanyak di Indonesia. Sehingga dikhawatirkan karena umumnya macet akan terjadi akibat sebagian besar para perantau akan mudik setelah libur kerja dengan waktu yang bersamaan, yaitu H-7 sebelum lebaran. Diperkirakan pada 5-7 April adalah puncak arus mudik, sedangkan puncak arus balik sekitar 14-16 April.


Menurut pantauan cnbcindonesia, 6/4/2024, bahwa mudik tahun 2024 kali ini mencatat perjalanan dari Jakarta dan sekitarnya ke Merak waktu tempuh hingga naik ke atas kapal mencapai 7 jam. Waktu yang lumayan melelahkan bagi para pemudik dengan antrean yang pasti cukup panjang. Meskipun begitu tidak menyurutkan antusias pemudik karena momen-momen inilah banyak dimanfaatkan untuk bertemu sanak keluarga sekaligus bersilahturahmi. Momen lebaran ini juga libur kurang lebih seminggu, di kalender sudah ditandai dengan warna merah yang merupakan cuti bersama sekitar tanggal 6-15 April. Oleh karenanya mudik lebaran sayang untuk disia-siakan.


Menurut peninjau dari Kemenhub, arus mudik berasal dari Pulau Jawa sekitar 115,26 juta pemudik atau 59,54 %. Dikelompokkan dari yang tertinggi, yaitu Jawa Timur sebanyak 31,3 juta pemudik atau 16,2 %, kemudian Jabodetabek sebanyak 28,43 juta pemudik atau 14,7%, dan Jawa Tengah sebanyak 26,11 juta pemudik atau 13,5%. (berita.satu)


Problema Transportasi Mudik dalam Kapitalisme


Masalah kemacetan yang horor banyak dirasakan masyarakat. Sehingga menyebabkan ketidaknyamanan dalam perjalanan mudik, ditambah layanan transportasi yang tidak lancar menjadi masalah utama saat mudik lebaran tiba. Kendala tersebut membuktikan mitigasi tidak diupayakan dengan baik. Seharusnya dengan adanya kendala mudik yang terjadi setiap tahun, menjadikan negara dapat memperhitungkan langkah-langkah penyelesaiannya.


Sejatinya, mudik sudah dijadikan tradisi yang awalnya masyarakat desa pindah dari desa ke kota untuk mencari penghidupan yang layak, menyebabkan pembangunan infrastruktur yang tidak merata. Mereka berharap hidup di kota akan jauh lebih baik daripada di desa. Sehingga ketika mudik lebaran dijadikan hal yang sakral untuk mudik walaupun hanya beberapa hari saja. Padahal ancaman maut banyak juga terjadi. Niat bertemu sanak keluarga malah berakhir diperjalanan mudik. Sungguh miris masyarakat dihantui ancaman maut pada masa mudik lebaran.


Keadaan ini adalah buah getir dari diterapkannya sistem kapitalisme yang menaungi negeri ini. Kapitalisme menciptakan pelayanan transportasi sebagai objek untuk mengeruk keuntungan. Pengurusannya pun diberikan kepada para pemilik modal dengan prinsip mencari laba. Padahal tugas negara melayani rakyat, tetapi kenyataannya negara hanya sebagai pengatur yang lalai menangani rakyatnya. Terlebih lagi lalai menjaga keselamatan dan keamanan rakyatnya.


Akhirnya rakyat seakan-akan membiarkan pengabaian negara. Sehingga masyarakat menjadikan hal yang lumrah tanpa ada perbaikan bahkan menyelesaikan masalah rakyatnya. Walhasil jalan keluar yang diberikan adalah solusi sementara. Seperti menghadirkan diskon tiket, pelaksanaan sistem ganjil genap, dan sejenisnya. Sehingga solusi yang diberikan tidak sampai ke akarnya.


Islam Solusi Pelayanan Transportasi


Islam adalah solusi satu-satunya dalam menyelesaikan problema kehidupan, terutama pelayanan transportasi. Solusinya dengan penerapan Daulah Islam yang menempatkan negara adalah pelayan umat. Sebagaimana sabda Baginda Nabi saw., "Imam atau penguasa adalah pemelihara dan penanggung jawab perkara rakyatnya." (HR. Bukhari).


Sejatinya daulah Islam bertanggung jawab terhadap keselamatan, kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat untuk menggunakan sarana transportasi, terutama untuk mudik. Daulah menghadirkan mitigasi optimal sebagai bentuk pemeliharaan (riayah) negara atas umat, antara lain:


1) Mendirikan dan membenahi jalan raya secara keseluruhan baik jalan tol, dan arteri. Membenahi jalan di jalur utama maupun jalan-jalan kampung. Selain itu jalan diaspal menggunakan bahan terbaik dan kuat sesuai kontur alam wilayahnya. Sehingga jalan tidak mudah berlubang dan rusak. Ditambah lampu penerangan jalan supaya pengendara pada malam hari terhindar dari kecelakaan.


2) Menyediakan alat angkut transportasi misalnya kereta api, kapal laut, dan pesawat dengan harga murah sampai gratis, aman, dan nyaman. Sehingga tidak memberatkan warga masyarakat untuk mudik dengan alat angkut umum. Dengan begitu tidak akan ada horor kemacetan mudik yang panjang, apalagi menghabiskan waktu berjam-jam di jalan atau di antrean tiket.


3) Negara Daulah mempersiapkan fasilitas alat angkut atas asas sosial, bukan asas orientasi materi karena pelayanan transportasi merupakan hak warga negara yang bisa dinikmati masyarakat. Selain itu, negara mempersiapkan rest area yang nyaman di beberapa titik yang disinggahi bahkan untuk istirahat sesaat.


4) Menumbuhkan industri transportasi dengan teknologi canggih dan terkini. Alhasil, transportasi yang teruji dan bermutu, serta mengadakan observasi-observasi yang dilaksanakan agar perjalanan dengan transportasi aman dan nyaman sehingga minim kecelakaan terjadi. 


Begitulah bagaimana gambaran sarana transportasi yang disediakan pada masa Daulah Islam. Jelas memudahkan masyarakat untuk mudik. Tdak mengganggu ibadah Ramadan. Sebab, perjalanan mudik yang aman dan nyaman menjadikan ibadah lebih khusyuk untuk meraih ketakwaan. Keadaan ini niscaya akan segera dirasakan ketika daulah Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwah telah diterapkan. Wallahualam bissawab. []

Horor Kemacetan Mudik hingga Ancaman Maut, Islam Solusinya!

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.