Cuti Ayah, Dapatkah Memperbaiki Kualitas Generasi?

Cuti untuk ayah tidak menjadi solusi tuntas 

Menciptakan generasi yang berkualitas diperlukan integrasi dari berbagai aspek secara sistemis


Penulis Rahmi Nur Fadhilah

Aktivis Muslimah


Matacompas.com, OPINI -- Ramai diperbincangkan di jagat media sosial mengenai Indonesia yang menempati posisi ketiga sebagai negara tanpa ayah atau fatherless country. Pengertian fatherless menurut Diana Setiyawati, Psikolog, yaitu tekanan emosional yang diakibatkan dari kehilangan sosok ayah, baik secara fisik maupun psikis. Sedangkan Fatherless Country adalah suatu negara dengan masyarakatnya minim peran atau keterlibatan sosok ayah dalam kehidupan anak.


Peran ayah dalam pengasuhan diperlukan sebab turut serta orang tua akan memengaruhi tumbuh kembang, perilaku, masa depan anak yang kelak membentuk generasi pada masa mendatang. Ketiadaan ayah dalam pengasuhan akan menimbulkan dampak, misalnya anak laki-laki yang tidak memahami sosok ayah sebagai pemimpin sehingga tidak bisa menjalankan perannya di masa depan  sebagai seorang pemimpin. 


Bagi anak perempuan, hilangnya peran ini akan menimbulkan rasa kurang percaya diri dan memengaruhi kondisi emosional sehingga mengidolakan sosok lain yang menjerumuskan misalnya terjebak pada hubungan haram.


Beberapa penelitian juga menyatakan salah satu yang menjadi penyebab adanya LGBT karena tidak ada memori yang baik mengenai ayah. Ingatan tentang ayah hanyalah sebagai sosok buruk tak bertanggung jawab atau bahkan ayah yang melakukan kekerasan.


Menjalani kehidupan dalam sistem kapitalis sekuler menempatkan ayah pada kondisi sulit. Kondisi upah minimum yang didapatkan dari hasil bekerja tidak sebanding dengan biaya kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Belum lagi hal-hal yang seharusnya menjadi hak warga negara seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dibebankan pada tiap individu. 


Keadaan menempatkan seorang ayah agar mencari kerja ke sana kemari dan perlu memutar otak untuk memenuhi kebutuhan. Ayah kehabisan waktu dan energi untuk mendidik anak dan membuat ayah harus mengabaikan fungsinya dalam peran mendidik generasi menempatkan anak pada kondisi yatim, tetapi berayah.


Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengusulkan rancangan undang-undang baru sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas di Indonesia. Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) mengusulkan mengenai adanya cuti bagi ayah selama 40 hari untuk mendampingi istri yang melahirkan, dan cuti maksimal 7 hari untuk mendampingi istri yang mengalami keguguran. 


Hal ini bukan sesuatu yang baru bagi negara-negara lain seperti lain Jepang, Lituania, Swedia, Irlandia, Estonia dan spanyol telah lebih dulu menerapkan peraturan cuti ayah. (Tempo, 19/03/2024)


Namun, upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas apakah akan menjadi jalan paling efektif untuk membentuk generasi terbaik masa mendatang? Sejatinya kualitas generasi dipengaruhi banyak faktor, yang mengiringi perjalan hidup seorang anak.  


Oleh karena itu, pembentukan generasi yang berkualitas membutuhkan supporting system yang kuat dan berkualitas sepanjang hidup anak, termasuk ayah berkualitas yang memahami peran dan fungsinya.


Islam memandang bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, meskipun ayah mencari nafkah, tetapi tidak meniadakan kewajiban sebagai pendidik anak. Terlebih setiap kepala keluarga adalah pemimpin yang mana akan dimintai pertanggungjawaban setiap urusannya, salah satunya tentang bagaimana keluarga mengasuh dan mendidik anak.


Cuti untuk ayah memang dibutuhkan, tetapi tidak menjadi solusi tuntas yang akan menyelesaikan permasalahan yang hadir akibat penerapan sistem yang salah. Menciptakan generasi yang berkualitas diperlukan integrasi dari berbagai aspek secara sistemis misalnya pengaturan dalam sistem pergaulan, pendidikan, dan tatanan masyarakat. Sebab, mendidik generasi bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga tanggungjawab negara.


Negara harus memiliki regulasi yang dapat memastikan bahwa setiap pasangan yang akan menikah sudah memiliki kesiapan ilmu bagaimana menjalankan fungsi dalam keluarga serta memastikan kestabilan ekonomi dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Selain itu, negara harus memenuhi kewajibannya sebagai penyedia layanan pendidikan, kesehatan, dan keamanan sehingga tidak lagi menjadi beban kepala keluarga.

Wallahualam bissawab. []

Cuti Ayah, Dapatkah Memperbaiki Kualitas Generasi?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.