Puasa Jalan, Pinjol Makin Lancar, Kenapa?

Inilah dampak buruk dari kehidupan yang diatur oleh sistem kapitalisme-sekular

Masyarakat dimiskinkan, dijauhkan dari agama, hingga merusak diri, keluarga dan masyarakat


Penulis Verawati S.Pd

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Sabda Nabi Muhammad saw. bahwa kemiskinan mendekati pada kekufuran. Kekufuran bermakna bisa jadi keluar dari agama Islam, atau tetap beragama Islam tapi perilakunya sudah menyimpang dari Islam. Seperti yang hari ini menyelimuti kita yaitu muamalah yang bersifat ribawi seperti pinjaman online. Bahkan pelanggannya tambah banyak, meski di tengah bulan Ramadan.


Sebagaimana dilansir media Tirto. id (03/05/2024), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi pertumbuhan utang pada perusahaan P2P lending atau pinjaman online (pinjol) akan meningkat pada saat Ramadan sampai Lebaran 2024. Hal ini diproyeksi lantaran adanya demand atau permintaan terhadap kebutuhan masyarakat yang juga naik saat bulan suci tersebut. 


Padahal sudah sangat jelas bahwa bunga atau riba dalam Islam  hukumnya adalah haram. Pengharamannya bersifat mutlak. Tidak ada uzur bagi siapa pun. Bahkan orang-orang  yang terlibat di dalamnya termasuk pencatat dan saksi ikut adalah orang yang berdosa.


Sebagaimana sabda Nabi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598)


Memang, tak bisa dimungkiri, kondisi hari ini sangat mudah sekali untuk meminjam secara online. Didorong oleh kebutuhan hidup yang terus meningkat, terlebih saat puasa atau Ramadan. Harga-harga barang terus meningkat terutama sembako ditambah berbagai kebutuhan  idul Fitri dan mudik lebaran.


Sisi lain, munculnya gaya hidup yang selangit. Hari ini gaya hidup glamor tidak hanya dimiliki oleh orang berduit, masyarakat secara umum yang mayoritas kelas ekonomi rendah pun didorong  hidup glamor. Misal makan dan minum di restoran yang viral akan merasa keren, nongkrong di kafe sudah dianggap kebutuhan dan lain sebagainya. Intinya food, fashion, fun dan film harus mengikuti tren jika tidak ingin dianggap kuno.


Semua ini berpangkal  pada sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan. Sistem ini melahirkan kesenjangan yang sangat jauh. Sebab kapitalisme mengukuhkan para pemilik modal, kekayaan berkumpul hanya pada mereka saja. Sedangkan sebagian besar masyarakat hidup dalam kondisi miskin. Sebab sumber-sumber kekayaan sudah dikelola oleh modal. Sedangkan rakyat rebutan bubuknya saja.


Dengan kondisi seperti ini, banyak masyarakat yang menghalalkan segala cara. Tak heran banyak anak-anak yang bercita-cita  ingin jadi Youtuber, tiktoker, dan selebriti. Tidak hanya itu kasus kejahatan seperti banyak dilakukan demi meraih cuan, mulai dari jual diri hingga jual ginjal.


Karena kapitalisme memanjakan nafsu, memfasilitasi nafsu untuk dipuaskan. Padahal nafsu itu harusnya diatur dan ditundukkan.  Maka tak heran, meski berada dalam bulan Ramadan, puasa jalan, pinjol lancar. Sebab bukan lagi agama yang dijadikan standar, tapi sudah kenikmatan duniawi.


Apakah pinjol solusi? Banyak contoh orang yang pinjol mendapatkan teror di media sosial, diumumkan di grup-grup What's App. Selain malu, banyak juga yang hancur rumah tangganya (bercerai) hingga bunuh diri.


Salah satu contohnya yaitu aksi nekat dilakukan seorang pemuda di Kota Kediri. Ia ditemukan tewas gantung diri di dapur rumahnya. Dia diduga nekat mengakhiri hidupnya diduga gegara terjerat utang pinjaman online (pinjol) akibat game. (Detik com,14/12/2023)


Inilah dampak buruk dari kehidupan yang diatur oleh sistem kapitalisme-sekular. Masyarakat dimiskinkan, dijauhkan dari agama, hingga merusak diri, keluarga dan masyarakat. Jadi, sudah selayaknya kita meninggalkan sistem ini dan berganti dengan sistem Islam.


Sebab hanya dalam Islam, jaminan kehidupan yang benar dan baik itu bisa diwujudkan. Dalam Islam kekayaan dibagi menjadi tiga bagian. Ada kekayaan milik pribadi, milik umat dan milik negara. Barang-barang seperti air, listrik, BBM, hutan adalah milik umum. Pengelolaannya diserahkan pada pemerintah dan hasilnya akan dikembalikan pada rakyat.


Islam pun mendorong untuk saling membantu antar sesama yaitu dengan saling memberikan pinjaman (tabaru) tanpa bunga. Negara juga akan memberikan pinjaman atau harta secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak diperbolehkan adanya transaksi ribawi. Sebab jelas keharamannya.  Masih banyak hukum-hukum Islam yang mampu menjamin kehidupan ini lebih baik lagi. Lebih dari itu, ketika aturan Islam diterapkan, keberkahan akan hadir.


Sebagaimana Firman-Nya "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raaf: 96)

Wallahualam bissawab. []

Puasa Jalan, Pinjol Makin Lancar, Kenapa?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.