Mengentaskan Penyakit TBC Dalam Sistem Kapitalis, Mampukah?


Indonesia masuk rangking ke dua di dunia dengan kasus penderita TB terbanyak

Kita masih harus berjuang mengentaskan Penyakit tersebut


Penulis Rosmawati 

Pemerhati Masyarakat


Matacompas.com, ANALISIS --  Kesehatan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Oleh karena itu fasilitas kesehatan dijadikan sebagai tolak ukur, untuk menjaga nyawa setiap manusia. Namun mirisnya, pelayanan kesehatan dalam sistem kapitalis dirasa belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Apalagi untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah.


Dunia sebentar lagi akan memperingati hari TBC sedunia jatuh pada setiap tanggal 24 maret. Penyakit ini sedang menjadi perbincangan hangat dalam kancah internasional, karena masih menjadi ancaman serius bagi setiap negara termasuk Indonesia.


Saat ini Indonesia masuk rangking ke dua di dunia dengan kasus penderita TB terbanyak. Kita masih harus berjuang mengentaskan Penyakit tersebut.


TBC (Tuberculosis), merupakan salah satu penyakit menular yang bisa menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri bernama mycobacterium tuberculosis, sasaran utamanya adalah organ paru-paru. Selain itu TBC bisa menginfeksi kelenjar getah bening, usus, tulang, dan selaput otak.


Kuman TBC  menyebar ketika seseorang dengan penyakit TB paru aktif batuk ataupun bersin. Percikan dahak dan air liur yang dibawa udara merupakan media penularannya, serta bakteri ini mampu bertahan dalam ruangan lembab dan kurang sinar matahari.


Tanda dan gejala umumnya berupa batuk lebih dari 2 minggu disertai darah, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas. Demam lebih dari 38 derajat celcius dan penurunan berat badan secara drastis.


Indonesia menyumbang 8,4 persen kasus TB global pada tahun 2023, tercatat kasus ini terus melonjak tinggi hingga 1.060.000  per tahun dengan angka kematian  mencapai 140. 700. Maka setiap 1 jam ada 16 orang Indonesia meninggal karena TB (Liputan6, 17-02-2024).


Pasalnya penyakit TBC sudah terdeteksi dari zaman kolonial, hingga saat ini masih ada di Indonesia. Bahwasannya penyakit ini bisa dicegah, bisa disembuhkan dengan cara memutuskan rantai penularan dan ada obatnya. Sebetulnya bukan penyakit baru tetapi sungguh disayangkan tidak menjadi fokus perhatian yang serius. Bahkan, penderita TB enggan mengakui dan memeriksakan kesehatannya. Selain itu mereka terus menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya.


Kementerian kesehatan menargetkan eliminasi TBC pada 2030 dengan anggaran yang ada hanya 29 persen dari ideal. Namun yang menjadi pertanyaannya apakah negara akan mampu mencapai tujuannya dalam pola kapitalis?


Banyak faktor dari kenapa penyakit ini terus menerus menyebar, dibutuhkan solusi yang komprehensif. Kurangnya pemerintah mengedukasi masyarakat bagaimana cara untuk pencegahannya dan memutus penularannya.


Pertama faktor kemiskinan yang terus mengikis mental masyarakat. Rendahnya kesadaran akan kesehatan lingkungan tempat tinggal yang kumuh, sanitasi yang buruk menyebabkan bibit-bibit penyakit ini tumbuh.Tidak terjaminnya kebutuhan dasar dan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan untuk masyarakat menengah kebawah. Masih banyak yang tidak mempunyai rumah, mereka bertempat tinggal di gubuk-gubuk yang jauh dari kata layak.


Serta buruknya pemenuhan gizi masyarakat karena terus melambungnya harga kebutuhan pokok, sementara pemasukan mereka hanya sedikit. Tentunya makanan yang baik berprotein tinggi sangat penting dikonsumsi bagi penderita TBC. Di mana makanan-makanan tersebut merupakan sumber nutrisi, untuk kekebalan tubuh dan juga membantu menghambat pertumbuhan bakteri didalam paru-paru.


Kedua pengelolaan tata ruang kota yang masih harus dibenahi, buruknya kualitas oksigen yang kita hirup adalah efek dari polusi udara. Banyaknya alih fungsi lahan yang tadinya ruang terbuka hijau kini jadi padat pemukiman. Dan banyaknya limbah industri sehingga karbondioksida tidak terserap dengan baik. Alhasil bakteri ini terus bersarang, hakikatnya oksigen yang bersih sendiri dibutuhkan oleh setiap sel dan jaringan tubuh untuk berfungsi optimal terutama menjaga paru-paru agar tetap sehat.


Ketiga dari segi pelayanan kesehatan, pada faktanya pelayanan kesehatan hari ini selalu dijadikan lahan komersial oleh pihak kapital, tak apa rakyat menderita asalkan ada keuntungan yang didapat.


Pengobatan TB perlu dilakukan selama minimal 6 bulan, memerlukan waktu yang cukup panjang dari mulai skrining dan tahap penyembuhan tentunya membutuhkan biaya yang cukup mahal juga.


Meskipun ada layanan BPJS dan obat gratis di puskesmas, tetap saja masyarakat tidak bisa mengakses secara efektif. Karena pelayanan BPJS pun masih dimintai biaya administrasi dan obat yang didapatkan obat generik dengan dosis 3 kali seminggu. Jika ingin pelayanan kesehatan yang memadai rakyat harus membayar sendiri biaya kesembuhannya. Inilah gambaran pelayanan kesehatan dengan skema kapitalis dimana semua hal dinilai dengan untung dan rugi


Sungguh ironis, negara masih abai dalam menjalankan perannya. Masih banyak rakyat yang belum terpenuhi hak-haknya. Bukankah segala kebutuhan dasar (kesehatan, pendidikan, keamanan) dan kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) merupakan tanggung jawab negara yang wajib diberikan secara gratis?


Oleh karena itu upaya eliminasi tuberculosis yang diharapkan bisa memutus rantai penularan, dirasa tidak akan terwujud dalam sistem kapitalis.


Berbeda halnya apabila sistem Islam yang diterapkan, dalam Islam pemimpin atau imam adalah orang yang kompeten dan berlaku adil dalam jabatannya serta bertanggungjawab atas seluruh persoalan umat. Melindungi hak-hak yang ditetapkan oleh syariat bagi mereka, serta mengimplementasikan segala sesuatu yang ditetapkan Allah Swt..


Negara Islam akan melakukan langkah-langkah yang efektif dalam memutus rantai penularannya, di antaranya negara akan menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai, terjangkau, bahkan gratis. Diikuti tindakan preventif yang dilakukan pada kalangan terkecil yaitu keluarga, masyarakat, dan negara.


Melakukan pencegahan seperti menjalankan protokol kesehatan, memastikan makanan benar-benar matang, bersih serta bernutrisi tinggi, tidak kontak langsung dengan penderita TB, hingga masyarakat dipastikan sudah teredukasi dengan jelas. Alhasil akan tumbuh kesadaran masyarakat terhadap kesehatannya dan mau memeriksakan dirinya ke layanan kesehatan.


Adapun terkait edukasi dan penyediaan fasilitas kesehatan serta kebersihan di tempat-tempat umum, maka itu adalah tugas negara. Selain itu negara pun wajib untuk menjamin keberlangsungan aktivitas ekonomi maupun pendidikan rakyat melalui identifikasi dini atas masyarakat. Apakah mereka telah tertular ataukah tidak. Setelah diketahui secara jelas, mereka yang sudah tertular dan dinyatakan positif TB akan langsung diberikan pengobatan serta diberlakukannya isolasi sampai pasien benar-benar sembuh dari penyakit tersebut.


Selain itu negara Islam akan mengupayakan untuk memberikan pelayanan medis dengan kualitas terbaik, negara akan membiayai secara penuh. Mulai dari biaya dokter, obat-obatan, rumah sakit, dan semua alat kesehatan penunjang lainnya. Serta negara akan mendorong pengembangan teknologi mutakhir dan ilmu pengetahuan untuk menemukan obat-obatan yang lebih efektif. 


Semua hasil pengembangannya tersebut, sepenuhnya akan dipergunakan untuk kemaslahatan dan kemajuan umat. Begitu pula negara akan memperbaiki tata kelola ruang kota, memperbanyak ruang terbuka hijau dan lebih memperhatikan lagi analisis dampak lingkungan hidup.


Sejatinya Islam akan menjamin kebutuhan pokok masyarakat, negara berkewajiban mendirikan rumah yang layak serta lingkungan yang bersih. Memastikan masyarakat tidak berada lagi pada jurang kemiskinan melainkan masyarakat bisa benar-benar terpenuhi kesejahteraannya.


Seperti itulah hakikat sistem Islam, penerapannya membawa rahmat untuk seluruh alam. Semua kebutuhan dasar dan kebutuhan pokok masyarakat akan dijamin sepenuhnya oleh negara melalui berbagai regulasi yang keluar berdasarkan syariat Islam. Serta terus menuntun dan membimbing mereka dengan berlandaskan akidah yang kuat.

Wallahualam bissawab. []

Mengentaskan Penyakit TBC Dalam Sistem Kapitalis, Mampukah?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.