Ketika KUA Disulap Menjadi Arena Lintas Agama

Pluralisme sangat bertentangan dengan syariat Islam

Dalam ajaran Islam, agama yang diridai Allah Swt. adalah Islam, bukan yang lain


Penulis Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik


Matacompas.com, OPINI -- Akan seperti "gado-gado" yang campur aduk menjadi satu, mungkin kurang lebih seperti itulah wujud Kantor Urusan Agama (KUA) di masa mendatang, apabila wacana dari Menteri agama Republik Indonesia (RI), Yaqut Cholil Qoumas jadi direalisasikan. Beliau melontarkan pertanyaan bahwa KUA akan menjadi pusat menikah bagi semua agama. Padahal, selama ini masyarakat mengenal KUA sebagai tempat pengaturan pencatatan pernikahan umat muslim. Ada apa di balik wacana kontroversial ini?


Yaqut juga mendorong agar KUA bertransformasi, dan tidak hanya mengurus dan mencatat pernikahan umat muslim saja. Pernyataan beliau disambut pro dan kontra oleh masyarakat. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Bandung, Aam Muamar, justru mendukung ide tersebut. Kepada wartawan Beliau mengaku tidak keberatan, KUA mencatat pernikahan warga non muslim. Beliau mengatakan, "KUA memang seharusnya melayani semua warga negara, secara regulasi ide ini tidak ada masalah, akan tetapi tidak boleh memantik permasalahan sosial, sehingga perlu persetujuan masyarakat sekitar," ucapnya. (media online inilahkoran, Rabu, 18-2-2024)


Wacana bahwa KUA akan melayani semua agama, secara tidak langsung menyulut kontroversi di tengah masyarakat, terutama bagi umat Islam yang merupakan umat mayoritas di negeri ini. Bagaimana tidak? Selama ini masyarakat memahami bahwa KUA adalah identik dengan dengan tempat pencatatan pernikahan muslim. Bahkan Kemenko menjelaskan secara gamblang, bahwa KUA merupakan kantor yang bertugas melaksanakan sebagian tugas kementerian Agama dalam urusan pencatatan pernikahan, rujuk, mengurus, dan membangun masjid, wakaf, zakat, kependudukan, dan pengembangan keluarga sakinah, dan lain-lain. Bagi umat muslim, KUA seolah menjadi barometer peribadatan dan muamalah, khususnya yang mencakup prosesi ibadah pernikahan. 


Fakta lain, banyak kantor KUA yang didirikan di atas tanah wakaf milik umat Islam, dan keberadaannya selama ini berada di bawah Direktorat Jenderal Bimas Islam, yang menangani berbagai urusan umat.


Tidak heran wacana tak lazim yang digulirkan oleh Menang ini pun mendapat "kritik" dari berbagai pihak. Hidayat, salah seorang politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengomentari, "Menurut amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945, pengaturan pembagian pencatatan nikah yang berlaku sejak Indonesia merdeka yaitu muslim di KUA, sedangkan non Muslim di Pencatatan Sipil." tuturnya.


Bahkan dari tokoh nonmuslim sendiri telah mengakui bahwa KUA adalah "milik umat Islam", sebagaimana yang disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian di Persatuan Gereja-gereja Indonesia, Pendeta Henrek Lokra, yang menyebut bahwa dalam ajaran kristen perkawinan dianggap sah jika pemberkatannya dilakukan di Gereja, adapun legalitasnya dilakukan di kantor catatan sipil.


Wacana dari Kemenag ini sepertinya tidak lepas dari proyek moderasi Islam, yang sedang digencarkan oleh pemerintah. Proyek yang bertujuan menciptakan muslim yang moderat. Adapun karakter muslim moderator yaitu muslim yang menyebarluaskan dimensi-dimensi kunci peradaban demokrasi, termasuk di dalamnya mengusung gagasan (ide) tentang Hak Asasi Manusia (HAM), kesetaraan gender, pluralisme, serta menerima sumber-sumber hukum nonsektarian. Padahal, proyek-proyek yang berasal dari Barat ini sesungguhnya merupakan proyek yang sangat berbahaya.


Perubahan atau alih fungsi KUA yang awalnya mengurus dan mencatat pernikahan warga muslim, berubah melayani semua agama, dikhawatirkan dapat mengarah kepada pernikahan beda agama. Ini akan mirip "gado-gado", ketika semua catatan pernikahan dari berbagai agama tumplek di KUA. Nanti secara otomatis KUA akan menjadi arena lintas agama. Jika hal ini terjadi, tentu akan menjadi masalah besar bagi umat, karena dapat merusak akidah mereka.


Kebijakan kontroversial ini terlahir dari penerapan sistem sekularis, yakni pemahaman yang memisahkan agama dari kehidupan. Hal ini perlu diwaspadai sebab sekularisme mendukung penuh paham "pluralisme", yaitu paham yang menganggap semua agama adalah sama. 


Pluralisme sangat bertentangan dengan syariat Islam. Dalam ajaran Islam, agama yang diridai Allah Swt. adalah Islam, bukan yang lain.


Firman Allah Swt., "Sesungguhnya agama di sisi (yang diridai) Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungannya.” (TQS. Ali-Imran [3]:19)


Wacana KUA melayani semua agama ini berasal dari ide sekularisme yang diusung oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam. Proyek ini nantinya akan makin menjauhkan umat Islam dari kehidupan. Orang yang telah terpapar paham pluralisme akan mudah bergonta-ganti agama. Keimanannya rapuh, tidak kokoh, mudah berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kehidupan akhirat terlupakan, sementara dunia dikejar mati-matian.


Sabda Rasulullah saw., "Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi beriman, di waktu sore ia telah kafir, dan di waktu sore beriman di waktu pagi menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No 4894)


Sistem kapitalis-liberalis yang diterapkan di negeri ini telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang sekuler. Kebijakan yang diambil bukan berasal dari Islam, tetapi mengekor kepada peradaban Barat yang rusak dan merusak. Oleh karena itu tidak ada lagi sistem (hukum) yang layak diterapkan, selain sistem Islam. Sebab hanya Islam yang memiliki ajaran yang mulia. Salah satunya adalah menjaga akidah umat, agar umat tetap istikamah melaksanakan syariah secara kafah.

Wallahualam bissawab. []

Ketika KUA Disulap Menjadi Arena Lintas Agama

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.