KDRT Berulang, Sekularisme Rusak Fungsi Keluarga

Masyarakat dibuat fobia dengan agamanya sendiri

Sehingga banyak masyarakat enggan untuk mempelajari Islam


Penulis Sri Yana, S.Pd.I.

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Media sosial tak pernah lekang dari informasi-informasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Mulai dari kekerasan tak terencana sampai kekerasan berencana. Biasanya awalnya karena hal-hal sepele menjadi tingkat serius, hingga sakit hati.


Sejatinya di dunia tidak ada manusia yang sempurna. Manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hal tersebut adalah suatu kemustahilan. Apalagi sejatinya dalam biduk rumah tangga, percekcokan adalah hal yang umum yang pasti pernah dirasakan oleh insan manusia yang pernah berumah tangga.


Hal tersebut semestinya dijadikan pelajaran dan hikmah agar ke depannya kehidupan rumah tangga berjalan lebih baik. Sehingga suami dan istri akan berhasil mengarungi bahtera rumah tangga dengan berpegang kepada hukum syarak. Tidak saling mendahulukan ego semata. Sebab, ego yang berlebihan dapat merusak fungsi keluarga seutuhnya. Sehingga menyebabkan percekcokan dalam rumah tangga.


Sayangnya, berita KDRT seolah tiada habisnya. Dikutip dari kompas, 22/03/2024, seorang perwira Brimob dilaporkan oleh istrinya, melalui kuasa hukumnya, Renna A. Zulhasril, ke Kepolisian Resor (Polres) Metro Depok, karena telah menganiaya istrinya hingga keguguran.


Berita tersebut menjadi cerminan buruknya akhlak seorang suami. Tidak hanya menodai institusi tempatnya mengabdi, tetapi juga gagal menjadi perisai bagi istri dan keluarganya. Apalagi sejatinya suami adalah qawwam bagi istrinya, sebagaiman firman Allah Swt, "Laki-laki (suami) itu penjaga bagi istrinya." (TQS. An-Nisa: 34).


Nyata, bahwa dalam naungan sistem sekularisme-kapitalisme ini tatanan keluarga sudah hancur. Marwah seorang suami sudah hilang karena perilakunya. Memang banyak faktor yang menyebabkan terjadinya KDRT, yaitu agama yang kian hari memudar, bahkan masyarakat dibuat fobia dengan agamanya sendiri. Sehingga banyak masyarakat enggan untuk mempelajari Islam.


Islam dianggap hal yang menyeramkan dengan aturan sanksi potong tangan, rajam, dan sebagainya. Masyarakat belum mengetahui secara terperinci dan secara jelas tentang aturan Islam. Padahal Islam adalah agama yang adil, serta menjamin hak-hak umat. 


Sejatinya, Islam adalah agama yang paripurna, hukum Islam mengatur seluruh aspek kehidupan umatnya. Dengan adanya aturan Islam berarti fungsi keluarga akan berjalan dengan baik. Sehingga kehidupan suami istri akan berjalan dengan baik karena mereka menjalankan karena iman dan takwa seseorang. Walaupun ada permasalahan dapat dibicarakan antara pihak suami dan istri dengan baik-baik. Andai masalah dalam rumah tangga tidak dapat menemui jalan keluar, suami dan istri dapat mencari pihak mediasi. Bukan menghadapi masalah dengan ego, apalagi dengan adanya KDRT.


KDRT dalam Islam akan diberikan sanksi yang tegas agar tidak terulang lagi, serta mengantisipasi munculnya KDRT-KDRT yang lain. Sebab, kerap kali yang menjadi korban KDRT sebagian besar adalah perempuan. 


Sejatinya, Islam sangat memuliakan perempuan. Ditulis dengan emas bagaimana sistem Islam melindungi perempuan. Diceritakan bahwa ada seorang Muslimah yang sedang berbelanja ke pasar. Kemudian jilbabnya disingkap oleh seorang Yahudi Bani Qainuqa. Sehingga muslimah tersebut berteriak minta tolong. Seorang sahabat pun menolongnya, tetapi kemudian dibunuh oleh sekelompok Yahudi.


Akhirnya, berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw. dan beliau langsung mengumpulkan tentara untuk menyerbunya, kemudian mengepungnya selama 15 hari. Hal tersebut menyebabkan Yahudi menyerah dan keluar dari Madinah.


Sungguh mulia seorang muslimahl dalam naungan sistem Islam. Niscaya tidak akan ada kasus-kasus KDRT berulang karena para  akan memperlakukan perempuan sebaik mungkin. Begitu juga para qawwam akan dibina supaya dapat menghormati dan menghargai perempuan. Wallahualam bissawab. []

KDRT Berulang, Sekularisme Rusak Fungsi Keluarga

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.