Investasi pada Perempuan, Berujung Eksploitasi pada Perempuan

Peran perempuan adalah ujung tombak dalam tatanan keluarga

Mereka adalah istri yang merawat rumah tangga suaminya, ibu yang mendidik anak-anaknya, anak yang wajib berbakti pada orang tuanya, hingga sebagai bagian dari anggota masyarakat yang memiliki peran aktif di dalamnya


Penulis Sri Nurhayati, S.Pd.I

Praktisi Pendidikan


Matakompas.com, OPINI -- Setiap 8 Maret menjadi hari peringatan perempuan sedunia. Pada tahun ini dalam peringatan Hari Perempuan PBB mengangkat tema, Invest in Wowen: Accelerate Progress (Berinvestasi pada Perempuan: Mempercepat Kemajuan). Pengambilan tema ini diharapkan dapat meningkatkan peran perempuan dalam membantu mewujudkan kesejahteraan dunia.


PBB menganggap investasi pada perempuan ini dapat membawa pada perubahan dan mempercepat transisi dunia. Hal ini karena perempuan memiliki jumlah populasi yang besar di dunia. Jumlah perempuan menurut data Bank Dunia pada akhir tahun 2022 49,68% penduduk dunia atau sekitar 3,95 miliar jiwa. Banyaknya jumlah perempuan ini menjadikan mereka tulang punggung perekonomian.


Di Indonesia sendiri, menurut Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan dan Rentan Kementerian PPPA Eni Widiyanti bahwa saat ini telah banyak capaian yang diraih oleh perempuan-perempuan Indonesia. Banyak perempuan yang berperan dalam berbagai bidang.


Namun, menurut beliau data masih menunjukkan adanya kesenjangan gender yang terbuka lebar. Untuk hal itu, Kemeterian PPPA menjadikan Hari Perempuan Internasional 2024 ini sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi, pentaheliks dengan akedemisi, dunia usaha, media, dan organisasi masyarakat sipil agar kesetaraan gender dapat terwujud.


Demi mewujudkan semua itu, segala upaya telah dilakukan demi memanfaatkan peran perempuan ini, agar dapat mempercepat kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Seperti program pengembangan UMKM merupakan salah satunya. Negara didorong untuk berinvestasi terus digalakan. Begitu pun perempuan terus didorong untuk mengambil bagian dalam bidang ekonomi.


Perempuan terus didorong dalam mengambil bagian ini dengan terus dituntut untuk berkarya yang sejatinya adalah bekerja untuk menjadi mesin pencetak uang. Mereka yang memiliki penghasilan dianggap memiliki kontribusi yang penting dalam kemajuan ekonomi sebuah negara.


Peran Perempuan yang Sesungguhnya   


Perempuan dituntut dalam memajukan perekonomian dunia sesungguhnya adalah bentuk eksploitasi perempuan yang berbalut kata kontribusi. Ibarat racun berbalut madu, eksploitasi perempuan dibalut dengan kata-kata manis, mereka dianggap berkontribusi ketika memiliki penghasilan sendiri. 


Pandangan semacam ini, sesungguhnya justru hal yang berbahaya. Ini akan mendorong perempuan lebih sibuk di luar demi mencari penghasilan alias uang daripada menjalankan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang menjadi kewajiban mereka. 


Karena sesungguhnya peran perempuan adalah ujung tombak dalam tatanan keluarga. Mereka adalah istri yang merawat rumah tangga suaminya, ibu yang mendidik anak-anaknya, anak yang wajib berbakti pada orang tuanya, hingga sebagai bagian dari anggota masyarakat yang memiliki peran aktif di dalamnya.


Islam telah menetapkan dua peran penting perempuan, yaitu sebagai ibu dan pengelola rumah. Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi para buah hatinya. Ibu adalah peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak. Ibu mempersiapkan anak menjadi generasi pejuang. 


Sebagai seorang pengurus rumah tangga, perempuan juga dimuliakan. Lihat bagaimana jawaban Rasulullah saw. saat Asma’ binti Yazid menyampaikan kebimbangannya apakah peran istri di rumah akan sama mulia dengan peran laki-laki.


Rasulullah saw. bersabda, “Pahamilah, wahai perempuan, dan ajarkanlah kepada para perempuan di belakang kamu. Sesungguhnya amal perempuan bagi suaminya, meminta keridaan suaminya dan mengikuti apa yang disetujui suaminya setara dengan amal yang dikerjakan oleh kaum lelaki seluruhnya.”


Namun, hal ini bukan berarti peran utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbah al-bayt) menjadikan dirinya tidak memiliki kiprah di tengah masyarakat. Karena, peran perempuan yang lain ini terdapat dalam firman Allah Swt. surat at-Taubah ayat 71. Bahwasannya Allah Swt. telah menetapkan bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam melakukan amar makruf nahi munkar atau aktivitas saling menasihati di tengah masyarakat. Mereka tolong-menolong (ta’awun) dalam menjalankan aktivitas yang menjadi pilar kehidupan bermasyarakat, termasuk keluarga di dalamnya. 


Allah Swt. telah memerintahkan bagi kaum laki-laki dan perempuan untuk melakukan aktivitas berdakwah, mengoreksi penguasa dan mengurusi urusan umat. Bagi perempuan, aktivitas ini merupakan wajib yang harus dilakukan di samping pelaksanaan kewajiban utama dan aktivitas pokoknya sebagai ibu dan pengatur urusan rumah.


Perempuan sebagai bagian dari anggota keluarga dan masyarakat mempunyai peran penting dalam menjaga keutuhan keluarga umat dari kerusakan akibat liberalisme yang telah membawa keluarga ke ambang kehancuran. Maka dari itu sudah seharusnya kita mengoptimalkan peran ini.


Peran Perempuan Sebagai Pembentuk Generasi


Pentingnya peran perempuan dalam sebuah peradaban sangat diperhatikan oleh Islam. Oleh karena itu, Islam memiliki aturan yang akan memudahkan seorang perempuan agar bisa berkontribusi dalam ranah publik tanpa meninggal fitrahnya sebagai seorang ibu dan menjalankan peran pentingnya, seperti, mewajibkan dan memerintahkan bagi seorang ayah untuk mencukupi nafkah ibu. Bahkan apabila ada seorang perempuan yang diceraikan dan pada saat yang sama ia sedang menyusui, maka wajib bagi ayah sang anak membayar upah penyusuannya (QS. Al-Baqarah ayat 234). 


Hal ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak anak mendapatkan penyusuan yang sempurna. Di sini pula menjadikan perempuan bisa mengembangkan potensinya tanpa terbebani dengan masalah mencari nafkah. Ketika dia menyusui anaknya, dia dapat melakukan aktivitas yang dia minati, seperti menuntut ilmu atau aktivitas yang ia minati. Selama hal itu tidak membuatnya melalaikan tugas utamanya.


Selain itu, untuk mengoptimalisasi peran ibu dalam menjalankan tugasnya mengasuh dan mendidik anak, ibu dibebaskan dari berbagai kewajiban seperti salat berjamaah di masjid, bekerja, berjihad, dan hukum-hukum lain yang akan menelantarkan fungsi keibuannya. Sehingga ia bisa menjalankan dan mengembangkan keahlian yang dimiliki.


Islam telah menetapkan aturan-aturan yang jelas terkait kehamilan, penyusuan, pengasuhan dan perwalian. Hal ini tak lain agar perempuan tetap dapat mengoptimalkan dan menjalankan peran utamanya dengan baik. Selain itu, Islam memiliki aturan yang sempurna dalam menjaga perempuan untuk tetap menjalankan kontibusi tanpa meninggalkan tugas utama mereka sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga. Islam menjadikan Negara memiliki peran yang sangat penting dalam menjaganya. 


Semua itu akan terwujud dalam penerapan aturan Islam kafah dalam bingkai khilafah. Peradaban kegemilang Islam yang akan kembali tegak di bumi ini. Wallahualam bissawab. []


Investasi pada Perempuan, Berujung Eksploitasi pada Perempuan

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.