Cukupkah Boikot Produk Israel Untuk Membantu Palestina?

Boikot terhadap produk fisik Israel itu perlu, tetapi boikot pemikiran yang membuat negeri-negeri muslim diam dan hanya menjadi penonton itu lebih diperlukan

Produk pemikiran yang dimaksud adalah nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme


Penulis Yuli Ummu Raihan

Aktivis Muslimah Tangerang


Matacompas.com, OPINI -- Datangnya bulan Ramadan tidak membuat zionis Israel menghentikan genosida terhadap saudara kita di Palestina khususnya Gaza. Justru zionis makin membabi buta melakukan aksinya hingga menyebabkan jumlah korban telah lebih dari 30.000 orang, kehancuran bangunan, dan Gaza darurat kelaparan.


Sebagai bentuk dukungan terhadap Gaza, muncul seruan untuk memboikot produk-produk yang terindikasi berasal atau terafiliasi dengan Israel. Pada momen Ramadan ini kurma asal Israel menjadi salah satu produk yang diboikot.


Ketua PBNU, K.H. Yahya Cholil Staquf menekankan bahwa aksi boikot ini tidak cukup berpengaruh pada ekonomi mereka. Perlu usaha yang lebih besar dari Indonesia dan negara-negara di dunia untuk memaksa Israel menghentikan serangannya. (TVOne.News, 9/3/2024).


Sementara Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto mengatakan, produk kurma buatan Israel hukumnya haram. Hal ini tercantum dalam Fatwa Nomor 83 Tahun 2923 tentang Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina.


Ketua PBNU, Ahmad Fahrur Rozy (Gus Fahrur) ikut mendukung fatwa ini sebagai bentuk dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.


Israel adalah salah satu produsen kurma terbesar di dunia khususnya kurma jenis Medjool. Sepertiga dari total ekspor kurma produksi Israel dilakukan selama Ramadan. Namun sekarang mereka menghentikan iklan untuk mempromosikan kurma Medjool senilai USD 550.000. (Kumparan.com, 3/3/2024).


Boikot produk Israel sering dijadikan cara untuk mengekspresikan solidaritas terhadap Palestina. Boikot juga sebagai bentuk tekanan terhadap zionis untuk mengakhiri genosida.


Aksi boikot ini mungkin tidak bisa menghentikan kekejaman zionis, tetapi berhasil membuat mereka ketar-ketir. Setidaknya laporan Al Jazeera pada 2018 lalu mengungkapkan bahwa gerakan boikot berpotensi menimbulkan kerugian hingga US$11.5 miliar atau sekitar Rp180,48 triliun (asumsi kurs Rp15.694/US$) per tahun bagi Israel. (CNBC Indonesia, 19/11/2023).


Dalam beberapa waktu terakhir, misi prioritas diplomatik Israel adalah penanggulangan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang mendukung gerakan boikot. Sebab berpotensi meningkatkan pengangguran.


Melansir dari The Jerusalem Post, Israel membantah bahwa gerakan boikot dapat merugikan mereka.  Justru mereka mengatakan hal ini akan menambah penderitaan rakyat Palestina.


Palestina Masih Berduka


Meskipun masih berada dalam kondisi memprihatinkan masyarakat Palestina tetap bersukacita menyambut bulan suci Ramadan. Tarawih pertama sekitar 35.000 jemaah memadati Masjidilaqsa.


Sayangnya zionis terus melakukan pembatasan kepada kaum muslim untuk beribadah, mereka dipukuli, dan hanya laki-laki berumur 40 tahun ke atas serta wanita yang bisa masuk masjid. (Tribunnews.com, 12/3/2024).


Kondisi masyarakat Palestina kian hari makin memprihatinkan. Mereka menunggu antrian syahid akibat serangan tiada henti dan tanpa hati dari zionis serta akibat bencana kelaparan.


Mereka telah berpuasa sejak lima bulan lalu tanpa sahur dan berbuka. Kalau pun ada bantuan tidak seimbang dengan kebutuhan mereka.


Mirisnya dunia hanya mengecam dan melakukan perundingan. Bahkan lembaga dunia PBB tidak bisa berbuat apa pun.


Boikot terhadap produk fisik Israel itu perlu, tapi boikot pemikiran yang membuat negeri-negeri muslim diam dan hanya menjadi penonton itu lebih diperlukan. Produk pemikiran yang dimaksud adalah nasionalisme, liberalisme, demokrasi, dan kapitalisme. Semua ini muncul karena adanya sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan.


Akar masalah Palestina Israel dimulai ketika PBB yang dibidani Inggris mengizinkan entitas Yahudi  tinggal di Palestina. Sejak saat itu penderitaan rakyat Palestina terus terjadi. 


Paham nasionalisme berhasil mencerai-beraikan umat Islam. Tidak ada lagi umat Islam bagaikan satu tubuh. Sekat bangsa begitu kuat sehingga sesama muslim tidak bisa saling bantu. 


Kondisi Palestina dan umat Islam di belahan dunia mana pun tidak baik-baik saja sejak perisai mereka hilang. Umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Menjadi rebutan penjajah dan tidak punya daya apa pun layaknya buih di lautan. Jumlahnya yang banyak tidak bisa berbuat banyak karena Allah telah cabut rasa takut dari jiwa musuh-musuh Islam. Semua ini karena umat Islam hari ini cinta dunia, dan takut mati. 


Standar perbuatan manusia adalah materi dan keuntungan. Kebahagiaan mereka adalah ketika mendapatkan kesenangan dunia sebanyak-banyaknya. Tidak peduli apakah Allah rida atau murka.


Ketika menolong saudara seiman tidak memberikan manfaat, tetapi justru mendatangkan mudharat maka tidak akan dilakukan. Padahal umat Islam wajib saling tolong menolong apalagi dengan kondisi mereka saat ini.


Tidak ada solusi lain untuk Palestina kecuali mengembalikan perisai yang telah lama hilang. Hal ini tidak akan terwujud selama kaum muslimin belum menyadari pentingnya persatuan umat di bawah panji Islam.


Untuk mewujudkan kesadaran ini dibutuhkan institusi bernama Khilafah. Dakwah syariah dan khilafah sangat dibutuhkan agar umat sadar dan terdorong untuk segera menegakkan khilafah.


Semua ini hanya bisa ditempuh dengan dakwah pemikiran yang menjadikan Islam sebagai landasan. Ketika umat bersatu, khilafah akan terwujud dan pembebasan Palestina melalui jihad akan terlaksana.

Wallahualam bissawab. []

Cukupkah Boikot Produk Israel Untuk Membantu Palestina?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.