Bahaya Tersembunyi Moderasi Beragama: Racun di Balik Madu


Sehingga patut agar kita mewaspadai paham moderasi beragama

Paham tersebut benar-benar dapat merusak akidah umat Islam dengan ajarannya sendiri


Penulis Ratih Fitriandani

Aktivis Dakwah


Matacompas.com, OPINI -- Hangatnya pemberitaan yang akhir ini ramai menjadi kontroversi yaitu dikutip dari salah satu media online INILAHKORAN, Soreang- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bandung tak keberatan jika Kantor Urusan Agama (KUA) mencatatkan pernikahan warga non muslim, dan aulanya digunakan sementara untuk peribadatan mereka. Karena memang, sudah seharusnya KUA itu melayani semua warga negara tak hanya umat Islam saja. Seperti inilah yang diungkapan oleh MUI Kabupaten Bandung "Secara formal yah memang KUA itu untuk melayani semua agama yang ada di Indonesia. Dan mereka juga mempunyai hak yang sama sebagai warga negara. Jadi enggak masalah kalau pernikahan warga non muslim dicatatkan di KUA," kata Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Kabupaten Bandung Aam Muamar, Rabu 28 Februari 2024.


Sejatinya selama ini jika kita cermati peran dan aktivitas KUA dalam melayani keagamaan hampir keseluruhannya adalah menyangkut urusan umat Islam, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Selama peran aktivitas ini berlangsung, agama lain pun tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Berikut penjelasan Kamaruddin menjelaskan bahwa KUA setidaknya memiliki sepuluh layanan utama, yaitu:

 1. Pelaksanaan dalam melayani, mengawasi, mencatat, dan juga pelaporan nikah rujuk

2. Penyusunan statistik layanan dan bimbingan masyarakat Islam

3. ⁠Pengelolaan dokumentasi dan sistem informasi manajemen KUA

4. ⁠Pelayanan bimbingan keluarga sakinah

5. ⁠Pelayanan bimbingan kemasjidan

6. ⁠Pelayanan bimbingan hisab rukyat dan pembinaan syariat 

7. ⁠Pelayanan bimbingan dan penerangan agama Islam

8. ⁠Pelayanan bimbingan zakat dan wakaf

9. ⁠Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KUA

10. Terakhir yaitu pelayanan dalam memberikan bimbingan manasik haji untuk para jemaah haji reguler.


Jelas kita dapati semua bahwa peran dan aktivitas KUA menyangkut pelayanan urusan umat Islam. Maka pastinya ide dan lontaran Menag untuk menjadikan KUA untuk semua agama akan menuai berbagai respons, salah satunya dari Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas. Pada akhirnya beliau meminta kepada Kemenag agar mengkaji ulang ide tersebut agar menghindari adanya keributan di tengah masyarakat.


Terbukti dari fakta di atas bahwa derasnya dan semangatnya yang begitu tinggi untuk menyukseskan adanya moderasi beragama di negeri ini. Sebab mereka menganggap bahwa moderasi agama merupakan solusi dari segala permasalahan yang ada. 


Adapun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 Kementrian Perencanaan Pembangunam Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjadikan moderasi beragama merupakan salah satu proyek besar yang telah disusun. 


Maka hal ini sungguh sangat berbahaya, jika paham moderasi beragama makin gencar pergerakannya, nasib umat Islam akan makin jauh dari ajaran Islam. Seperti kita ketahui, bahwa sesungguhnya umat Islam sudah memiliki jalan hidup yang jelas dan terarah. Yakni harus selalu terikat dengan hukum-hukum syarak, sesuai dengan apa yang dicontohkan tauladan bagi kita semua umat Islam Baginda Rasulullah saw..


Saat ini umat Islam dijaukan pemikirannya dan dibuat bertentangan dengan hukum-hukum Islam. Sudah saatnya umat Islam kembali pada jalan hidup yang sudah Allah atur dalam wahyu-wahyu yang diturunkan.


Sehingga patut agar kita mewaspadai paham moderasi beragama, karena paham tersebut benar-benar dapat merusak akidah umat Islam dengan ajarannya sendiri. Sehingga akan menjauhkan umat Islam dalam memahami Islam secara kaffah, dan muncul rasa takut belajar Islam, serta ragu terhadap Islam sebagai agama dan aturan hidup. Hal ini merupakan salah satu usaha Barat untuk terus melanjutkan penjajahannya dengan moderasi beragama.


Sudah saatnya kembali pada Islam karena seperti dalam kandungan Surat Ar-Rum ayat 41, bahwa Islam merupakan sebagai rahmat bagi seluruh alam jika umatnya memegang teguh syariat Islam yang mulia. Ketika terjadi kerusakan dan kemudharatan, sudah selayaknya untuk kembali kepada syariat Allah. Oleh karena itu, solusi untuk semua masalah adalah dengan diterapkannya hukum Islam secara kaffah, bukan moderasi beragama. Karena narasi moderasi beragama yang beredar selama ini menyimpan bahaya di balik penampilannya yang ramah, sehingga umat Islam didorong untuk memahami dan menerima paham tersebut. Padahal seharusnya umat Islam memperjuangkan Islam kaffah, serta meninggikan kalimat Allah dalam berdakwah demi kemaslahatan seluruh manusia dan alam semesta.

Wallahualam bissawab. []

Bahaya Tersembunyi Moderasi Beragama: Racun di Balik Madu

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.