Tekanan Ekonomi, Merampas Fitrah Wanita


Para ibu jadi jarang di rumah, berkurang kelembutannya, berkurang perhatiannya, tidak lain karena jiwanya telah terkuras, tenaga dan fikirannya

Di rumah lelah dengan seabrek pekerjaan, di luar pun demikian. Ia menjadi pribadi yang bingung, harus berpegang ke mana, sementara di mana-mana ia dituntut untuk sempurna, menunaikan amanahnya yang dobel


Oleh Sumiati

Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif


Matacompas.com, OPINI -- Kini, tugas perempuan dalam kancah kehidupan makin berat. Dulu, fitrahnya wanita itu senang mengatur rumah tangga di rumah. Namun, kini berbalik, kondisinya memaksa para wanita harus keluar rumah. 


Di akhir Rajab menjelang Sa'ban ini, di mana umat Islam sedang melewati masa berlomba dalam kebaikan dan ketaatan. Untuk meraih sebanyak-banyaknya pahala, hilir mudik manusia sungguh beragam. Ada yang fokus pada dunia, ada juga yang fokus pada akhirat, tetapi yang fokus pada keduanya pun banyak. Pada dasarnya semua berlomba-lomba sesuai dengan prioritas yang mereka inginkan. 


Kondisi kehidupan hari ini, di mana sistem kehidupan tak menerapkan hukum Islam. Bagaimana pergaulan dalam Islam tidak tampak. Yang ada adalah kebebasan dalam berbagai aspek kehidupan. Tak ketinggalan dalam hal ekonomi yang dikuasai oleh para oligarki. Rakyat pada umumnya dalam kondisi terhimpit ekonominya. Berbagai pekerjaan, semuanya dalam kondisi melemah. Hingga hari ini, belum ditemukan solusi terbaik untuk mengatasi kesulitan ekonomi. 


Para buruh banyak yang di rumahkan, pemilik kontrakan menjerit, karena penghuninya meninggalkan, akibat mereka dihentikan bekerja. Hal ini berimbas pada para pedagang, langganan mereka pun menghilang. Pasar tumpah yang biasanya ramai oleh orang belanja, tetiba sepi karena daya beli masyarakat semakin berkurang. Keluh kesah menghiasi setiap kepala manusia dalam menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Semuanya menjadikan ketidakwarasan menggerogoti jiwa manusia. 


Tingginya tingkat pengangguran bagi laki-laki, berkurangnya penghasilan dari para suami, mendorong para istri untuk mencari solusi bagi membaiknya ekonomi. Namun, ketika wanita melawan fitrahnya, tentu tak semulus yang diharapkan. Dan tentunya akan ada masa kosong dari keluarga itu sosok ibu yang anak-anaknya dambakan. Selalu ada, ramah, full senyum dan sayang. Tetapi, tuntutan hidup telah merubah karakternya. Para wanita, mengejar apa yang mungkin bisa meningkatkan tarap ekonomi keluarga mereka. 


Para ibu jadi jarang di rumah, berkurang kelembutannya, berkurang perhatiannya, tidak lain karena jiwanya telah terkuras, tenaga dan fikirannya. Di rumah lelah dengan seabrek pekerjaan, di luar pun demikian. Ia menjadi pribadi yang bingung, harus berpegang ke mana, sementara di mana-mana ia dituntut untuk sempurna, menunaikan amanahnya yang dobel. Tak jarang ia menjadi pendiam, sering menyendiri dan menangis sendiri. Terkadang di bibirnya tertawa, padahal hatinya menjerit meronta. Menangis pun ia berkelid, ini bukan menangis, hanya kelilipan istilahnya. 


Tak jarang ia pun dikuras penghasilannya oleh pasangan mereka. Diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika istri berpenghasilan, harusnya menjadi pecut bagi suami agar lebih giat mencari nafkah, bukan malah leha-leha dan mengandalkan keringat istri, naudzubillah min dzaalik. Namun, faktanya demikian, buka menyeka air matanya yang deras mengalir, tetapi malah menambah deras air mata yang tumpah dengan segala keegoisan lelaki. Sungguh malang nasibmu wahai wanita, dalam sistem kapitalis ini. 


Bukan hanya itu, ia pun sering disalahkan dengan alasan tidak sempurna pelayanannya, sementara tidak ada yang bertanya padanya, apakah lelah, apakah ingin istirahat, apakah uang belanjanya habis, apakah sudah tidak punya pakaian yang layak, apakah bisa membeli skincare sederhana untuk menyenangkan suami? Nyaris tidak mendapatkan perhatian, bahkan dari pasangannya sendiri, yang ia bantu ekonominya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.


Padahal Islam begitu memuliakan wanita, sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa ayat 19;


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا


Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.


Apa yang tercantum di dalam ayat di atas, tentu tidak akan terealisasi, tanpa penerapan hukum yang jelas dan tegas. Hukum yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hal itu, akan terwujud jika diterapkan oleh negara. Mengelola sumber daya alam dengan tepat untuk kesejahteraan masyarakat. Membuat lapangan pekerjaan yang tepat untuk para lelaki dewasa, hingga layak menjadi seorang kepala keluarga nantinya. Yang mampu menafkahi keluarganya. Dibina agamanya dan berikan fasilitas oleh negara, untuk bekerja yang hasilnya dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. 

Wallahualam bissawab. []

Tekanan Ekonomi, Merampas Fitrah Wanita

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.