Remaja Pelaku Pembunuhan, Potret Buram Generasi


Oleh karena itu bisa dikatakan negara dengan sistem aturannya ini telah gagal untuk mengatasi dan mencegah segala bentuk kejahatan di masyarakat. Bahkan sebaliknya makin menyuburkan perilaku-perilaku kejahatan

Hal ini karena aturan yang ditegakkan negara ini bersifat sekuler, tidak didasarkan kepada landasan yang benar dan kokoh yaitu akidah Islam


Penulis Ummu Hasna

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Pemuda merupakan aset dan calon pemimpin. Idealnya, masa muda digunakan untuk menuntut ilmu dan melakukan hal-hal yang produktif serta bermanfaat untuk masa depannya. Namun di zaman yang serba rusak sekarang ini potensi para pemuda ikut tergerus dan terbajak oleh kondisi yang sistemik. Ironis, banyak remaja termasuk pelajar terjerumus ke dalam perbuatan negatif dan merugikan. Bahkan tak sedikit yang menjadi pelaku kriminalitas.


Seperti baru-baru ini masyarakat kembali digegerkan dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang remaja laki-laki terhadap satu keluarga di Penajam Paser Utara Kalimantan Timur. Pelaku berinisial JND, yang berusia 17 tahun dan berstatus pelajar SMK itu dengan sadis menghabisi nyawa 5 orang yang terdiri dari suami, istri, dan 3 orang anak dengan menggunakan parang. Saat ditanya motifnya, pelaku mengaku sakit hati karena hubungan asmaranya dengan salah satu korban yang merupakan anak tertua di dalam keluarga itu, tidak direstui oleh orangtua korban. Tak cukup itu, pelaku juga mengakui setelah para korban meninggal, ia sempat memperkosa anak perempuan yang juga kekasihnya itu serta ibunya. Selain itu, dia juga sempat minum-minuman keras sebelum melakukan pembunuhan. Sungguh biadab dan di luar akal sehat daftar kejahatan yang telah dilakukan oleh pelaku. (Republika[dot]co[dot]id, 8/2/2024)


Peristiwa pembunuhan dengan pelaku remaja sudah sering terjadi. Motifnya beragam. Masalah percintaan, dendam, bahkan masalah sepele bisa memicu mereka untuk melakukan hal yang keji tersebut. Nyawa manusia seolah tidak ada nilainya saat ini.


Jika mencermati akar persoalan semua peristiwa tersebut, maka semuanya bermuara  kepada tiga hal. Pertama, aturan kehidupan yang tidak jelas dan serba bebas. Hal ini tercermin pada gaya hidup yang materialistik dan hedonis yang menjangkiti masyarakat saat ini. Halal haram tidak lagi menjadi standar kehidupan. Tayangan, konten-konten yang tidak layak dan merusak banyak berseliweran di media sosial yang sangat mempengaruhi perilaku masyarakat menjadi semakin bebas. Sistem pendidikan yang tidak jelas yang akhirnya hanya melahirkan para generasi yang tidak berkepribadian baik. Peredaraan miras, narkoba yang tidak terkendali semakin melengkapi rusaknya masyarakat. 


Kedua, lemahnya kontrol negara dan masyarakat. Negara sangat abai terhadap segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Buktinya persoalan-persoalan terus datang silih berganti tanpa ada ujung solusinya bahkan semakin banyak. Masyarakat juga semakin individualistik dan kurang peduli pada persoalan yang terjadi di tengah-tengah mereka. 


Ketiga, lemahnya sistem sanksi sehingga membuat para pelaku kejahatan tidak jera bahkan melahirkan pelaku-pelaku kejahatan yang lainnya.


Oleh karena itu bisa dikatakan negara dengan sistem aturannya ini telah gagal untuk mengatasi dan mencegah segala bentuk kejahatan di masyarakat. Bahkan sebaliknya makin menyuburkan perilaku-perilaku kejahatan. Hal ini karena aturan yang ditegakkan negara ini bersifat sekuler, tidak didasarkan kepada landasan yang benar dan kokoh yaitu akidah Islam. Dengan demikian, sistem ini sangat tidak layak untuk kita pertahankan karena hanya akan melahirkan berbagai persoalan dan penderitaan.


Bagaimana dengan Islam? Sangat berbanding terbalik. Islam sebagai sistem kehidupan memiliki landasan yang kokoh yaitu akidah Islam yang didasarkan pada keyakinan terhadap Al-Khaliq Allah Swt.. Berlandaskan pada keyakinan ini lahirlah aturan-aturan yang baik dan adil yang sesuai fitrah manusia. Dengannya, masyarakat tidak bisa hidup secara bebas karena harus memperhatikan halal dan haram. Seperti pengharaman khamar yang merupakan induk segala kejahatan, menjadi salah satu mekanisme Islam untuk mencegah berbagai bentuk kejahatan. Sistem pendidikan Islam juga terbukti mampu melahirkan generasi yang berkualitas dan berkepribadian baik.


Negara juga sangat berperan, tidak abai dan bertanggungjawab terhadap segala persoalan masyarakat. Anggota masyarakatnya pun memiliki kepedulian dan kontrol sosial yang sangat baik. Dengan demikian dapat bersama-sama mencegah segala kejahatan dan menciptakan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Sistem sanksi Islam yang tegas mampu membuat efek jera dan mencegah tindak kejahatan terulang. Bagaimana, apakah masih menolak Islam?

Wallahualam bissawab. []

Remaja Pelaku Pembunuhan, Potret Buram Generasi

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.