Merayakan Valentine’s Day: Rugi dong!


Ironisnya, perayaan VD seringkali diwarnai dengan seks bebas. Terbukti penjualan kondom meningkat setiap kali pada hari perayaan Valentine’s Day yang mayoritas digunakan oleh remaja yang belum menikah

Bahkan pihak kepolisian seringkali merazia puluhan pasangan di luar nikah di hari VD. Selain itu, prostitusi online juga meningkat pada hari VD


Penulis Kiki Zaskia, S. Pd 

Pemerhati Media


Matacompas.com, TEENAGER -- Hari Valentine berawal pada abad kekuasaan Romawi. Saat itu agama Romawi menganut Paganisme (penyembahan patung, berhala) bahkan dewa-dewi. Di antara nama dewa, ada yang bernama Juno Februata yang tugasnya sebagai dewa wanita atau perkawinan. Dewa Juno selalu disembah setiap tanggal 13 hingga 18 atau yang disebut dengan perayaan Lupercalia. 


Kemudian, lahirlah nabi Isa a.s. yang masih dalam kekuasaan kerajaan Romawi. Nabi Isa a.s. menyebarkan risalah Injil di Nazare, Syam. Sampai nabi Isa a.s diangkat ke langit kemudian pengikutnya semakin bertambah-tambah. 


Sehingga penguasa Romawi yang sedang berkuasa mengetahui bahwa rakyatnya mayoritas sudah menjadi pengikut agama nabi Isa a.s.


Lalu, untuk menjaga keberlangsungan kerajaannya maka diresmikan agama Kerajaan Romawi yaitu Nasrani. Mereka pun mengumumkan hal tersebut pada masyarakat sehingga terdapat asimilasi antara paganisme dan ajaran Nasrani. Salah satu yang diasimilasi yaitu, perayaan setiap bulan Februari yaitu Lupercalia. 


Agar masyarakat bisa menerima perayaan di setiap tanggal tiga belas hingga delapan belas februari, maka dikisahkan legenda di masa romawi sekitar tahun 250-an M. Pada masa Kerajaan Romawi ada seorang panglima Romawi membuat aturan bahwa prajurit tidak boleh untuk menikah bahkan tidak boleh ada pemuda yang menikah dengan alasan jika mereka menikah maka kemenangan peperangan sangat kecil. 


Sebab keberanian berperang seorang pemuda yang belum menikah lebih memuncak sedangkan yang telah menikah cenderung lebih lemah. Sebab, prajurit yang telah menikah akan banyak memikirkan keluarganya, yaitu istri dan anak-anaknya. 


Namun, ada seorang suci di masa Romawi yang bernama Santo Valentine yang tidak sepakat dengan aturan panglima Romawi tersebut. Kemudian ia membantu agar prajurit dan pemuda romawi untuk bisa berpasangan dan menikah. 


Akan tetapi hal ini diketahui oleh panglima Romawi sehingga St. Valentine di penjara. Rupanya masyarakat romawi malah bersimpati pada St. Valentine. 


Pada akhirnya meskipun banyak di dukung oleh masyarakat, pihak militer kerajaan tetap mengeksekusi mati St. Valentine. Eksekusi St. Valentine pada 14 Februari 269 M. Momen ini dimanfaatkan oleh penguasa untuk menjadikan 14 Februari sebagai peringatan Valentine’s Day yang bermotif asimilasi budaya paganisme yaitu Lupercalia dan budaya nasrani. Inilah awal mula perayaan Valentine’s Day


Mengapa Valentine’s Day menjadi tradisi?


Secara historis perayaan Valentine’s Day adalah budaya paganisme, tetapi kini menjadi tradisi dengan dalih merayakan hari kasih sayang. 


Di Eropa pada abad ke-17, Valentine’s Day sudah menjadi tradisi umum di Dunia. Adapun untuk di Indonesia budaya Valentine’s Day (VD) sudah mulai di kenal sekitar tahun 1970-an dengan banyaknya film-film dengan tema VD. Kemudian, makin digandrungi pada tahun 1980-an. 


Bahkan tak terlepas dari kaum muslim sendiri yang kini sudah banyak merayakan hari VD padahal ini adalah bentuk perayaan kaum paganisme dan Nasrani sekaligus. Tentu ini amat mengherankan. 


Fenomena sebagian kaum muslim yang merayakan VD adalah bentuk dari sekularisme. Sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan manusia. Termasuk kaum muslim. Kini banyak yang terlahir sebagai seorang muslim bahkan di Indonesia di mana sekitar 270 juta orang penduduknya mayoritas pemeluk agama Islam justru ikut-ikutan arus tren perayaan VD.

 

Ironisnya, perayaan VD seringkali diwarnai dengan seks bebas. Terbukti penjualan kondom meningkat setiap kali pada hari perayaan Valentine’s Day yang mayoritas digunakan oleh remaja yang belum menikah. Bahkan pihak kepolisian seringkali merazia puluhan pasangan di luar nikah di hari VD. Selain itu, prostitusi online juga meningkat pada hari VD. 


Sekularisme yang diidap kaum muslim kini membawa dampak buruk yang nyata. Sehingga menganggap Islam sebagai identitas semata. Seolah pilihannya sebagai seorang muslim tidak berpengaruh terhadap tindakannya.


Baik dalam perkara muamalah, sosial, kebudayaan bahkan kebijakan politik yang dia jalani. Saat ini agama hanya dijalankan oleh orang yang disebut fanatik saja, bukan oleh setiap individu atau bahkan mengerdilkan Islam hanya agama spiritual semata, bukan agama yang memiliki peraturan sistem kehidupan yang utuh. Padahal Islam adalah agama yang sempurna pengaturannya. 


Sebagaimana Firman Allah Swt.:

“… Pada hari ini telah telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu” (QS. Al-Maidah: 3)


Betapa ruginya kaum muslim yang kini tanpa arah. Hanya asal saja dalam mengikuti sebuah tradisi yang sama sekali tak ada jejaknya dalam Islam.


Bahkan tradisi Lupercalia adalah tradisi yang praktiknya amat merendahkan perempuan kala itu. Sebab, wanita-wanita diundi kemudian jika nama di antara wanita tersebut keluar maka wanita tersebut akan melayani laki-laki untuk kepuasan nafsunya semata. Nauzubillahi mindzallik


Fenomena ini adalah tanda-tanda akhir zaman yang telah Rasulullah saw. wanti-wanti agar kaum muslim senantiasa berhati-hati. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:


Dari Abu Hurairah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda


Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah saw., “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka lantas siapa lagi?”


Bagaimana Islam memandang Valentine’s Day?


Berdasarkan dalil nas dan sunnah tentu saja perayaan VD adalah haram. Merayakan VD adalah bentuk tasyabbuh pada kebiasaan orang-orang kafir. Jadi, bagi siapa saja kaum muslim yang merayakan apakah sudah menikah dan lebih parah lagi jika belum menikah karena itu adalah bentuk maksiat atau zina. 


Sebab amalan tersebut adalah tertolak. Meskipun dengan niat untuk merayakan kasih sayang tetapi Rasulullah saw. tidak pernah mencontohkan untuk merayakan VD. Sebab amalam akan diterima jika dengan niat yang benar dan ittiba pada Rasulullah saw.. 


Adapun berkasih sayang dalam Islam itu bukanlah pada hari-hari tertentu saja dan bahkan telah disebutkan dalam Al-Qur’an cinta atau kasih sayang bagi seorang  muslim mula dan akhirnya. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-Isra ayat 3. Bahwa yang paling utama adalah mencintai atau menyembah Allah swt, kemudian kedua orang tua setelahnya. 


Kemudian, sabda Rasulullah saw. bahwa “Sesunggunya Allah swt berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, kemudian berwasiat kepada bapak-bapakmu, dan kemudian berbuat baik kepada sanak kerabatmu.” 


Sebab, Rasa kasih dan cinta adalah fitrah dari Allah swt yang telah memberikan pada manusia potensi tersebut. Maka dari itu untuk menyalurkannya dengan aturan Allah Set. bukan dengan mengikuti aturan kehidupan ala westernisasi atau bahkan liberalisme dengan seks bebas. Atau bahkan yang lebih munafik lagi yaitu dengan balutan pacarana syar’i tanpa ikatan pernikahan. Sebab, Allah swt yang lebih mengetahui tentang ciptaannya dalam QS. Al-Isra ayat 32 bahwa mendekati zina dilarang. Mendekati saja di larang, apatah lagi melakukan zina. 


Hal ini tidak terlepas pula dari sistem rusak dan merusak yaitu, kapitalisme sehingga manusia menjadi tak bisa mengendalikan materi: yaitu harta, tahta, dan wanita. Namun kini manusia yang dikendalikan oleh materi yang membuat manusia merugi menjadi budak-budak materi.

Wallahualam bissawab. []

Merayakan Valentine’s Day: Rugi dong!

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.