Indonesia, Negara Nomor 1 Kecanduan Ponsel di Dunia


Fakta yang sungguh memprihatinkan terkait Indonesia sebagai negara nomor satu kecanduan ponsel di dunia

Setiap harinya masyarakat negeri ini teracuni oleh begitu banyak informasi sampah yang diperoleh dari ponsel yang selalu berada di genggaman


Penulis Bunda Hanif

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Menurut laporan State of Mobile 2024, Indonesia merupakan negara paling kecanduan menggunakan ponsel atau tablet Android. Pada 2023, rata-rata warga Indonesia menggunakan perangkat tersebut 6,05 jam/hari. Durasi tersebut adalah yang paling lama bila dibandingkan dengan negara lain yang diriset, seperti Thailand (5,64 jam/hari), Argentina (5,33 jam/hari), Arab Saudi (5,28 jam/hari) dan Brasil (5,02 jam/hari). (Katadata, 22-1-2024)


Berdasarkan hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) berjudul Survei Penetrasi dan Perilaku Internet 2023, Indonesia diketahui sebagai negara dengan pengguna aplikasi judi online terbanyak di dunia. Selain itu, masyarakat Indonesia juga rawan mengakses situs pornografi. 


Pengguna aplikasi pinjaman judi online yang semakin marak di berbagai kalangan ternyata yang paling banyak dari kalangan guru. Dari hasil analisis percakapan media sosial, sebanyak 42% korban pinjol illegal berprofesi sebagai guru. 


Ternyata tidak hanya guru, ibu rumah tangga dan pelajar adalah kalangan yang juga terbanyak terjerat pinjol. Dampak dari hal tersebut, saat ini banyak anak muda yang sudah lulus kuliah, mengalami kesulitan mencari pekerjaan karena memiliki catatan buruk di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).


Sebagai seorang muslim, kita tentu sepakat bahwa judi adalah perbuatan yang dilarang Islam. Demikian juga dengan pinjol, karena praktiknya tidak lepas dari sistem bunga berbunga (riba). Begitupun dengan pornografi. Padahal Indonesia dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia. Tidak hanya soal jumlah penduduknya, bahkan Indonesia dikenal sebagai negara di dunia yang masyarakatnya paling percaya Tuhan.


Hanya dengan melihat aktivitas akses informasi negatif di dunia digital tersebut, kita bisa mengukur besaran keterikatan mereka terhadap aturan Islam. Dengan kata lain, disitulah sejatinya letak sekulerisme di negeri kita. Muslim tetapi sekuler. 


Fakta yang sungguh memprihatinkan terkait Indonesia sebagai negara nomor satu kecanduan ponsel di dunia. Setiap harinya masyarakat negeri ini teracuni oleh begitu banyak informasi sampah yang diperoleh dari ponsel yang selalu berada di genggaman. 


Fenomena lain yang tidak kalah viral adalah banyaknya pengguna Facebook yang berbondong-bondong mengaktifkan mode FB Pro atau Facebook Profesional. Melalui layanan ini, pengguna facebook dapat memonetisasi atau mendapatkan uang dari konten mereka. Tidak hanya Facebook, aplikasi media sosial lain yang juga bisa menjadi sarana monetisasi adalah Instagram, Tik Tok, YouTube, Twitter, Snapchat, dan Clubhouse.


Demikianlah gambaran masyarakat negeri ini. Cara berpikir mereka instan dan pragmatis. Tanpa disadari, mereka telah terjebak dalam arus besar kapitalisasi melalui konten-konten yang mereka buat di media sosial. 


Lebih dari itu, siapa yang bisa menjamin bahwa konten-konten tersebut dipastikan bersifat mendidik? Bagaimana jika konten tersebut justru malah menambah sampah digital bagi generasi? Kaum kapitalis tidak peduli dengan daya rusak pemikiran mereka terhadap pihak lain yang mengakses pemikiran tersebut.


Begitu banyak tekanan hidup di negeri ini akibat penerapan sistem sekulerisme. Karenanya banyak masyarakat yang mencari kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, salah satunya dengan mencarinya di dunia maya. Terlebih lagi, saat ini setiap individu memiliki ponsel pintar. 


Namun sebenarnya kebahagiaan yang mereka cari adalah kebahagiaan semu. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kita dapatkan jika tidak bersandar pada aturan Islam. Coba kita pikir, sejauh mana kebahagiaan yang didapat dari judi online? Saat mereka kalah dalam permainan judinya, semua kebahagiaan itu akan sirna berganti malapetaka. 


Pada dasarnya, masyarakat yang kecanduan ponsel akan selalu terikat dengan tempat mereka hidup berikut aturan hidup di dalamnya. Ketika aturan hidupnya masih sekuler, orang saleh pun bisa terjerumus akibat tidak memiliki komunitas yang saling menjaga dalam kebaikan dan mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan atau kemungkaran. 


Sebagaimana firman Allah Swt., “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)


Jika kecanduan ponsel tidak segera diatur menurut standar kebahagiaan yang syar’i, seseorang bisa terjerumus ke dalam perbuatan haram. Mereka akan sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang melenakan., padahal yang demikian itu seharusnya ditinggalkan. Arah pandang mengenai kebahagiaan seorang muslim semestinya dibangun bahwa standar kebahagiaan itu tidak lain adalah rida Allah Swt..


Pemanfaatan teknologi jika tidak dilandasi oleh akidah Islam akan menghancurkan. Sebaliknya umat Islam tanpa teknologi, akan terbelakang. Karenanya penting sekali penerapan aturan tegas dalam rangka merevolusi konten digital. Namun semua itu tidak bisa dilakukan tanpa ada negara yang menerapkan syariat Islam secara kafah. 


Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?’ Beliau menjawab ’Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Muslim)


Untuk itulah, negara yang menerapkan syariat Islam atau Khilafah akan memberikan rambu-rambu agar konten-konten digital berbasis keimanan dan keterikatan terhadap syariat Islam. Tidak akan dibiarkan konten-konten sampah yang meracuni masyarakat. Setiap konten akan diseleksi, sehingga yang tersisa hanya konten-konten yang bermuatan syar’i, mencerdaskan umat dan mengobarkan semangat dakwah. 

Wallahualam bissawab. []

Indonesia, Negara Nomor 1 Kecanduan Ponsel di Dunia

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.