Utang Negara Makin Membengkak, Sesungguhnya Kedaulatan Tengah Tergadai


Sungguh, utang merupakan jebakan dahsyat yang mengancam negara debitur

Sangatlah keliru, jika utang dengan jumlah fantastis seperti Indonesia disebut aman dan terkendali


Oleh Ine Wulansari

Pendidik Generasi


Matacompas.com, OPINI -- Direktur Pinjaman dan Hibah, Direktoral Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Dian Lestari menyatakan pinjaman pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri masih dalam posisi wajar dan aman. Ia menjelaskan, posisi utang pemerintah secara keseluruhan per November 2023 adalah Rp8.041,01 triliun. Khusus utang melalui pinjaman luar negeri sebesar Rp886,07 triliun dan pinjaman dalam negeri Rp29,97 triliun. 


Dian menyebutkan bahwa pinjaman tesebut diperlukan untuk memenuhi pembiayaan defisit APBN. Sekaligus membiayai proyek-proyek prioritas secara langsung. Sejauh ini, sudah banyak proyek prioritas nasional yang dibiayai melalui pinjaman. Di antaranya, pembiayaan pembangunan infrastruktur tol Cisumdawu, jalan tol Medan-Kualanamu, jalan tol Solo-Kertoso, pembangunan Pelabuhan Patimban, dan MRT Jakarta. Kemudian proyek-proyek untuk institusi pendidikan, seperti pembangunan ITB, pembangunan UGM, dan pembangunan UIN Sunan Ampel. Begitu juga dengan pembangunan sejumlah Rumah Sakit, Universitas, dan pengembangan fasilitas kelistrikan. Semua proyek yang dibiayai melalui pinjaman telah memberi dampak positif pada masyarakat, terutama dalam menggerakan perekonomian daerah. (gatra, 31 Desember 2023)


Sejalan dengan apa yang diungkapkan Dian, bahwa utang pemerintah masih aman. Hal tersebut dinyatakan oleh Hendi Subandi Ekonom Universitas Brawijaya Malang, menurutnya rasio utang luar negeri Indonesia masih tergolong aman. Pinjaman pemerintah terkategori utang yang produktif. Karena digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang memberikan dampak positif jangka panjang. Hendi menuturkan, sangat wajar ketika sebuah negara berhutang karena kebutuhan domestik, dan hal tersebut ditopang oleh utang. (viva[dot]co[dot]id, 30 Desember 2023)


Utang Merupakan Jebakan


Meskipun diklaim bahwa utang pemerintah telah banyak memberi dampak yang positif bagi masyarakat, juga pemanfaatan utang untuk pembiayaan proyek adalah karena cenderung memiliki output yang lebih baik melalui teknologi dan bertukar pengalaman. Khususnya dalam hal transfer teknologi bagi industri dalam negeri. Akan tetapi, benarkah hal tersebut adanya demikian? Patut kita ketahui, bahwa utang adalah alat kendali terhadap satu negara. Dengan utang kedaulatan negara dapat tergadai. Dampak paling ringan yakni terjualnya aset-aset negara yang berharga. Dilansir dari detik (26 Juli 2022) terkait fakta negara yang menjual aset negara karena jebakan utang yakni Sri Lanka, di mana negara ini telah kehilangan pelabuhan dan bandara miliknya dikelola China. Infrastuktur itu diketahui mendapat pembiayaan dari China melalui bantuan utang sebesar US$ 1,5 milliar yang diberikan pada tahun 2010. Karena gagal membayar, pada tahun 2017 Sri Lanka harus merelakan asetnya kepada China.


Namun anehnya, kebijakan menambah utang masih menjadi pilihan yang dianggap aman untuk ekonomi Indonesia. Padahal, ada ancaman serius yang mengintai dan mampu menghilangkan kedaulatan negara. Utang luar negeri, jelas menjadi alat penjajahan ekonomi. Kebijakan negara berpotensi memihak oligarki daripada memenuhi kebutuhan rakyat. Sebab negara cenderung mempererat kendali hegemoni asing.


Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto utang pemerintah yang telah mencapai Rp8,041 triliun masih terkendali. Jika melihat rasio, utang Indonesia di bawah 40 persen, terendah dibandingkan negara maju yang bahkan utangnya di atas 100 persen. Pernyataan yang disampaikan pejabat publik tersebut terkait utang pemerintah Indonesia yang dipakai untuk membiayai sejumlah proyek, meskipun sudah di angka yang fantastis tetapi tetap dikatakan terkendali. Sungguh sangat berbahaya. Padahal utang merupakan wujud penjajahan negara adidaya kepada negara lain yang lebih lemah secara politik dan ekonomi. Akibatnya, negara lemah tersebut terus-menerus berada dalam cengkeraman kapitalis global yang keberadaannya di sisi penguasa.


Melalui utang pula, negara besar akan membuat berbagai kebijakan agar dapat memaksakan proyek-proyeknya dengan syarat tertentu. Lebih dari itu, utang tidak diberikan secara cuma-cuma, ada timbal balik yang harus dibayar kapada negara pemberi utang selain riba. Sungguh, utang merupakan jebakan dahsyat yang mengancam negara debitur. Sangatlah keliru, jika utang dengan jumlah fantastis seperti Indonesia disebut aman dan terkendali. 


Inilah cara kapitalisme menekan dan melakukan intervensi, bahkan menduduki wilayah negeri-negeri muslim tersebut. Statmen utang berdampak positif dan terkendali, sejatinya membuat negara debitur bergantung sepenuhnya pada asing. Sehingga sangat mudah dikendalikan.


NEGARA MANDIRI 


Islam, sejatinya memiliki aturan terkait utang negara. Berhutangnya negara sesungguhnya tidak perlu dilakukan, kecuali dalam kondisi darurat dan apabila ditangguhkan akan membawa dampak kerusakan dan kebinasaan. Terlebih utang yang mengandung riba dalam Islam jelas dilarang. Jika bukan perkara penting, maka negara akan menangguhkan sampai negara memliki pemasukan/harta. Usaha lain ketika mengatasi krisis ekonomi semisal penarikan pajak, hal ini akan dibebankan pada orang-orang kaya saja. 


Sistem Islam juga akan fokus untuk menyejahterakan seluruh rakyat tanpa terkecuali. Indikator kesejahteraan dalam Islam yakni terpenuhinya seluruh kebutuhan pokok baik sandang, pangan, dan papan, individu per individu dalam jumlah cukup. Dalam sistem Islam, sumber APBN diperoleh dari beberapa sumber. Salah satunya dari pengelolaan sumber kekayaan alam. Sehingga APBN aman dan bisa meminimalkan terjadinya utang luar negeri. Dengan stabilnya kondisi keuangan negara, sangat memungkinan kebutuhan-kebutuhan publik seperti kesehatan, pendidikan, perumahan, keamanan, dan transportasi, bisa gratis. Sebab ini adalah bentuk pelayanan negara kepada rakyatnya. Demikianlah profil negara mandiri, baik secara politik maupun ekonomi dengan tidak bergantung pada negara lain. Sehingga, tidak akan ada intervensi yang melahirkan kebijakan menyengsarakan rakyat dan menjual aset bangsa. 


Oleh karena itu, dapat dipastikan dengan penerapan ekonomi kapitalis negeri ini dan negeri muslim lainnya, terus-menerus berada dalam lilitan utang yang mencengkeram. Ekonomi terus terguncang, utang kian melambung tinggi, sementara kemiskinan dan kesejahteraan rakyat terlupakan. Dengan menambah utang, artinya menambah beban bagi rakyat. Hal itu juga dapat dipastikan akan membuat kedaulatan negara tergadai.

Wallahualam bissawab. []

Utang Negara Makin Membengkak, Sesungguhnya Kedaulatan Tengah Tergadai

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.