Penerapan Khilafah: Ancaman atau Kewajiban?


Dapat kita simpulkan bahwa menurut hukum syarak, khilafah adalah ajaran Islam dan wajib diterapkan

Khilafah bukanlah sebuah ancaman melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam, lantas apa yang sebenarnya menjadi ancaman bagi umat ini?


Penulis Lailatul Hidayah

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI --Akademisi dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Mohammad Iqbal Ahnaf berusaha mengingatkan pemerintah dan masyarakat bahwa perlu mewaspadai narasi-narasi kebangkitan khilafah. Menurutnya tepat 100 tahun runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah akan membuat narasi-narasi terkait khilafah akan dapat kembali menemukan momentumnya pada 2024. Potensi ancaman dari ideologi transnasional itu akan selalu ada, gagasan khilafah yang ditawarkan menjadi semacam panacea atau obat segala penyakit dan mampu menyembuhkan kekecewaan, ketidakadilan dan emosi negatif lainnya, jelas itu menggiurkan bagi beberapa masyarakat, “Kata dia dalam siaran resmi pusat media Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jakarta, Rabu 10 Januari 2024. Namun, menurutnya masyarakat Indonesia juga tidak terlalu berpihak pada kepemimpinan atau model pemerintahan seperti khilafah. Selain menganggap bahwa khilafah hanyalah panacea, Ia juga mengatakan bahwa narasi kebangkitan khilafah sejauh ini hanyalah pada ranah gagasan atau teoritis. (AntaraNews, 10/01/2024)


Benarkah pendapat yang diungkap oleh Akademisi dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Mohammad Iqbal Ahnaf tersebut bahwa khilafah hanyalah panacea dan narasi kebangkitan khilafah hanyalah gagasan atau teoritis?


Sebagai seorang Muslim, wajib terikat dengan hukum syarak dalam setiap amalnya, kaidah syarak menyatakan “Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allah”. Kaidah ini dijelaskan oleh imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Syakhsiyah Islamiyah juz 3, halaman 19, Imam as-Suyuthi dan Syaikh Dr. Mahmud Al-Khalidi juga berpendapat demikian, sehingga ketika seseorang itu berpendapat tentu yang dia berikan seharusnya terikat dengan hukum syariat terkait berpendapat tentang khilafah. 

 

Khilafah Menurut Sumber Hukum Syarak dan Imam Mazhab

 

1. Secara dalil Al-Qur’an, kewajiban Khilafah hukumnya jelas dan terang benderang yakni fardlu kifayah. Dalil Al-Qur’an terkait khilafah dapat kita lihat melalui tafsir surah Al-Baqarah ayat 30. Surah An-Nur ayat 55 dan surah an-nisa’ ayat 59 serta ayat-ayat terkait sanksi (uqubat) seperti qishash, rajam, cambuk, potong tangan dan lain sebagainya. Ayat-ayat tentang ekonomi dan ayat-ayat lainnya. Artinya, khilafah wajib ditegakkan, maka fardlu ain untuk memperjuangkannya, sebab tidaklah kewajiban itu selesai, kecuali kewajiban tersebut tuntas secara sempurna.


2. Dalil kewajiban khilafah dari as-sunnah juga jelas dan terang benderang, salah satu diantaranya Rasulullah saw. pernah bersabda: Dahulu Bani Israil dipimpin dan diurus oleh para Nabi. Jika para Nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh Nabi yang baru. Sungguh, setelah aku tidak ada lagi seorang Nabi, tetapi akan ada para Khalifah yang banyak. (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang khalifah tidak akan ada kecuali di sistem Khilafah. 


3. Dalil Ijmak sahabat tentang khilafah terlihat saat para sahabat menunda pemakaman Rasulullah disebabkan kesibukan mereka dalam masalah baiat dengan khalifah hingga akhirnya suasana kembali terkendali dengan terpilihnya Abu Bakar Ash-Siddiq, hal ini dinyatakan oleh Az-Zarqani Rahimahullah di dalam Syarh Al-Muwatho, 2/94, padahal bersegera menguburkan jenazah setelah wafatnya seseorang adalah wajib, tetapi mereka lebih menyibukkan diri mencari dan mengangkat seorang khalifah. Para sahabat ikut serta dalam penundaan tersebut hingga dua malam dan di-bai’at-lah Abu Bakar terlebih dahulu, kemudian penguburan jenazah Rasulullah.


Dalam hal ini, para sahabat tidak ada yang mengingkarinya, bahwa pengangkatan khalifah adalah wajib dan diutamakan daripada penguburan jenazah. 


4. Imam an-Nawawi dalam Syarh sahih Muslim, 12/205 menyatakan mereka para imam mazhab telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang Khalifah. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li ahkamul Qur’an, 1/264 menegaskan “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) dikalangan umat dan para imam madzhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan oleh al-‘Asham (yang tuli terhadap syariat) dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazabnya”. Maka telah jelas khilafah adalah syariat Islam yang wajib hukumnya, khilafah bukanlah gagasan teoritis semata, namun khilafah itu nyata dicontohkan oleh Rasulullah dan para khalifah setelahnya ketika memimpin suatu Negara, hingga khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh antek Inggris Musthafa Kemal laknatullah pada 4 maret 1924 melalui konspirasi keji dan licik.

 

Khilafah bukan sekedar panacea, sebab penerapan syariat benar-benar akan menjadikan alam semesta merasakan keramatan Islam (Qs. Al-Anbiya’: 107) serta mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi untuk penduduk Negeri (Qs. Al-A’raf: 96). Dapat kita simpulkan bahwa menurut hukum syarak, khilafah adalah ajaran Islam dan wajib diterapkan. Khilafah bukanlah sebuah ancaman melainkan membawa rahmat bagi seluruh alam, lantas apa yang sebenarnya menjadi ancaman bagi umat ini?


Khilafah vs Kapitalisme, mana yang mengancam?


Justru yang seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi umat dan negeri ini serta dienyahkan adalah sekulerisme Kapitalisme yang ditancapkan melalui sistem demokrasi. Sistem ini adalah sistem buatan manusia yang berasal dari hasil berpikir orang-orang Eropa setelah mengalami penindasan oleh kerajaan yang bekerjasama dengan pihak gereja. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manusia berdaulat atas hukum, padahal Allah telah memberi peringatan dalam surah Thaha ayat 124 yang artinya “Siapa saja yang berpaling dari peringatan Allah maka mereka akan mendapat kehidupan yang sempit."


Terbukti dari penerapan sistem Kapitalisme Demokrasi umat hanya merasakan kerusakan nyata diberbagai bidang kezaliman oligarki di mana-mana, kebatilan tersebar luas atas nama kebebasan. Negara lepas tanggungjawab terhadap urusan rakyat dan para Kapitalis berkuasa atas segala sesuatu, maka sangat aneh ketika seorang Muslim menolak Khilafah, membuat narasi yang menyesatkan pemikiran terkait Khilafah tapi di saat yang sama membela mati-matian Sekulerisme Kapitalisme Demokrasi. Padahal sistem tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasul, tidak ada dalam syariat Islam dan bertolak belakang dengan akidah Islam dan hanya membawa kerusakan. Khilafah tidak boleh dianggap sebagai ancaman, tetapi sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan, umat harus menyadari bahwa khilafah adalah mahkota kewajiban. 


Inilah yang dikatakan oleh syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dan Imam Al-Ghazali serta Imam Al-Qurthubi pun menyebut khilafah sebagai a’dzamul wajibat yaitu kewajiban yang paling agung, sebab tanpa adanya institusi khilafah, hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan sistem politik, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem kesehatan, sistem pergaulan dan sistem sanksi tidak akan pernah terwujud, mengingat saat ini khilafah belum ada, maka umat harus berjuang untuk mewujudkannya dengan berjuang bersama partai Islam ideologis yang ingin melangsungkan kembali kehidpan Islam, melalui tegaknya khilafah. Wallahualam bissawab. []

Penerapan Khilafah: Ancaman atau Kewajiban?

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.