Pemilu dalam Sistem Demokrasi Hanyalah Ajang Pertarungan Berbagai Kepentingan


Inilah Sistem Kapitalis yang hanya berdasarkan azas manfaat. Semua yang dilakukan hanya menakar untung dan rugi

Hal ini yang kemudian menyengsarakan rakyat


Penulis Gyan Rindu

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Terdapat aliran dana sebesar Rp195 miliar dari luar negeri ke 21 rekening bendahara partai politik atau parpol. Hal tersebut diungkapkan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). PPATK mengungkap aliran dana luar negeri ke parpol sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga demokrasi Tanah Air. (cnbc, 2023/12/01)


Pemilihan presiden akan segera dilaksanankan. Masing-masing dari calon presiden melakukan berbagai hal untuk menarik suara masyarakat. Namun, seperti yang kita tahu bahwa dari ketiga calon di belakang mereka didukung oleh partai-partai politik. Mereka memberikan dukungan tidak hanya tenaga, pikiran, tetapi juga dana. Inilah yang menjadi keresahan kita semua. Pasalnya partai-partai politik tersebut tidak mungkin hanya memberikan dukungan materi dan non materi secara cuma-cuma. Seperti yang kita tahu dukungan mereka tidaklah gratis.


Begitu juga dengan dana dari Asing. Ketika para paslon mendapat dana dari luar termasuk dari Asing, maka saat terpilih nantinya, mereka akan menuntut balas Budi atas dukungan yang telah diberikan. Bentuknya bisa berupa jabatan, kekuasaan, proyek, dan lain sebagainya. Hal ini yang kemudian membuat rakyat semakin sengsara dan nelangsa. Karena sumber daya negara untuk Asing, jabatan dan kekuasaan diduduki oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan uang. Ketika mereka mengeluarkan uang 1 miliar, tentu mereka meminta balasan yang lebih dari itu. Sehingga kemudian hal itu berdampak kepada kebijakan-kebijakan yang nantinya menentukan nasib rakyat.


Inilah Sistem Kapitalis yang hanya berdasarkan azas manfaat. Semua yang dilakukan hanya menakar untung dan rugi. Hal ini yang kemudian menyengsarakan rakyat. Mereka tidak berpikir bagaimana nasib rakyatnya. Mereka hanya berpikir untung dan ruginya untuk diri mereka pribadi. Sehingga banyak dari kebijakan-kebijakan, hukum-hukum bersifat zalim dan tidak menyelesaikan masalah. Hukum yang ada tidak berpihak pada rakyat dan bukan berdasarkan apa kebutuhan rakyat, dan bukan pula tentang bagaimana menjaga keamanan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Sistem inilah yang berbahaya. Yang pastinya merusak tatanan negara. 


Rakyat saat ini memerlukan sistem yang berpihak kepada rakyat, yang melahirkan pemimpin yang amanah dan adil. Itu semua hanya bisa diperoleh melalui Sistem Islam. Karena Islam mengambil pemimpin yang diajukan oleh rakyat bukan yang mengajukan diri. Sistem Islam mengambil pemimpin dengan kriteria tertentu. 


1. Pemimpin di dalam Islam, haruslah yang memiliki ketakwaan kepada Allah, sehingga di hatinya memiliki iman yang kuat dan rasa takut kepada Allah. Sehingga tidak mungkin melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah.


2. Pemimpin di dalam Islam haruslah orang yang cerdas dan memahami dan menerapkan segala hukum-hukum Allah. Sehingga pengambilan keputusan dan hukum bukan berdasarkan nafsunya, atau kepentingannya. Melainkan berdasarkan keadilan dan kemasalahatan umat. Sesuai dengan  Al Qur’an, hadits, Ijma’, serta qiyas.


3. Pemimpin di dalam Islam, orang yang dipilih dan diajukan oleh masyarakat. Bukan orang tersebut yang mengajukan dirinya. Sehingga tidak ada unsur kepentingan. Dan paham bahwa rakyat adalah amanah yang harus dijaga, dilindungi, dan disejahterakan. 


Kita memerlukan Sistem Islam Kafah untuk negara kita, untuk rakyat, untuk keadilan. Sehingga rakyat mendapatkan haknya. Mendapatkan rasa aman, keadilan, dan kesejahteraan.


عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَهُ فَقَالَ إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ


Dari Abu Musa radhiallahu'anhu mengatakan; aku menemui Nabi ﷺ bersama dua orang kaumku, lantas satu diantara kedua orang itu mengatakan, 'Jadikanlah kami pejabat ya Rasulullah?' orang kedua juga mengatakan yang sama. Secara spontan Rasulullah ﷺ bersabda, "Kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya." (HR. Shahih Bukhari no. 7149 Fathul Bari)


 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ


Dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan." (HR. Shahih Bukhari no. 7148 Fathul Bari)


Pemilu dalam Sistem Demokrasi Hanyalah Ajang Pertarungan Berbagai Kepentingan

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.