Menutup Kran Impor Beras Tanpa Was-Was


Tidak hanya masalah alih fungsi lahan, kurangnya dukungan negara pada petani seakan membuat petani harus berjuang sendiri di tengah lemahnya perekonomian

Harga pupuk yang mahal, dan tidak adanya jaminan perlindungan harga hasil pertanian khususnya beras


Penulis Maya Dhita E.P, ST.

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Indonesia masih menjadi negara agraris karena mata pencaharian terbesar penduduknya adalah petani. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2023, penduduk bekerja di Indonesia mencapai 139,85 juta jiwa. Dari sini, sebanyak 39.45 juta jiwa bekerja di sektor pertanian atau setara dengan 28, 21% penduduk bekerja. Prosentase ini menempati urutan teratas berdasarkan sektor penyerapan tenaga (dataindonesia, 16/11/2023) Selain itu, sektor pertanian juga masih memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


Dengan sumber daya yang ada dan juga ketersediaan lahan, nyatanya kita masih belum mampu mencapai swasembada pangan khususnya beras. Kebijakan yang dibuat untuk menangani permasalahan ini pun masih klasik saja. Impor dan impor lagi. 


Tak mungkin tidak impor beras karena produksi tidak memenuhi dan jumlah penduduk bertambah tiap tahunnya. Begitu penjelasan Presiden Jokowi (2/1) di tengah acara Pembinaan Petani Jawa Tengah, di Banyumas. (CNBCIndonesia, 2/1/2023)


Namun benarkah kita tidak bisa stop impor?


Ketahanan pangan Indonesia memang sedang terancam. Hal ini diakibatkan tingginya alih fungsi lahan sehingga kebutuhan ruang untuk menghasilkan pangan tidak terpenuhi. Banyak area pertanian yang berubah fungsi menjadi area pemukiman dan kawasan Industri. Pembangunan jalan tol pun akan mendorong pembangunan infrastruktur penunjang seperti SPBU, perumahan, dan restoran yang jelas-jelas akan menggeser fungsi lahan pertanian.


Tidak hanya masalah alih fungsi lahan, kurangnya dukungan negara pada petani seakan membuat petani harus berjuang sendiri di tengah lemahnya perekonomian. Harga pupuk yang mahal, dan tidak adanya jaminan perlindungan harga hasil pertanian khususnya beras.


Sistem kapitalis tidak serta-merta memandang bahwa ketahanan pangan adalah prioritas utama yang harus diwujudkan. Adanya celah untuk memperoleh cuan pasti akan diambil meski harus merugikan petani sendiri. Karena itulah impor jadi pilihan paling mudah dan menguntungkan.


Islam Berpihak pada Petani


Islam sebagai sistem sahih dalam kehidupan, akan menjamin ketahanan pangan karena merupakan kebutuhan dasar hidup yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Pangan menjadi prioritas utama dalam pemenuhannya.


Negara akan mengkondisikan lahan-lahan umum untuk area pertanian. Negara juga akan menghidupkan tanah-tanah mati untuk segera dikelola atau diberikan kepada mereka yang sanggup dan bersedia mengelolanya. 


Negara akan memberikan subsidi pupuk berkualitas. Selain itu negara juga mendukung penelitian untuk mendapatkan bibit unggul dan juga mendapatkan formula pupuk yang aman dan lebih tahan hama. Hasil pertanian akan meningkat secara signifikan.


Para ahli-ahli pertanian juga akan didanai untuk menemukan teknik-teknik terbaik dalam bercocok tanam. Para ahli juga akan menentukan cara yang tepat untuk ekstensifikasi maupun intensifikasi lahan pertanian.


Mesin-mesin pertanian akan dibuat dan didistribusikan secara merata sehingga akan mempermudah kerja petani sekaligus melipatgandakan hasilnya.


Negara juga bertanggungjawab atas distribusi hasil pertanian, memotong rantai penjualan, serta melindungi harga. Sehingga petani juga mendapat keuntungan yang sebanding dengan kerja kerasnya.


Dengan hasil yang melimpah dan harga yang bagus, maka akan meningkatkan taraf hidup petani. Hal ini juga akan meningkatkan minat generasi muda untuk bertani karena memandang petani adalah pekerjaan yang menjanjikan kesejahteraan.


Maka bukan lagi hal mustahil mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Bahkan produksi pangan terutama beras akan semakin berlimpah dan bisa melakukan ekspor dan memberi bantuan pangan kepada negara-negara yang membutuhkan.


Berbagai cara yang dilakukan untuk mewujudkan kedaulatan pangan di atas adalah bentuk tanggungjawab dan periayahan pemimpin dalam Islam kepada rakyatnya. Hal tersebut juga sebagai wujud rasa takut pemimpin kepada Allah Swt. atas amanah yang diemban. Begitulah Islam, penerapannya akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab. []

Menutup Kran Impor Beras Tanpa Was-Was

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.