Khilafah bukan Panacea


Kondisi panacea yang disematkan pada sistem khilafah adalah bentuk pengingkaran syariat Islam

Sebab pada dasarnya informasi keberkahan yang didapatkan ketika menerapkan syariat bukanlah bersumber dari buzzer yang disogok untuk menyelesaikan persoalan perut. Namun, berdasarkan dalil nash sebagaimana Firman Allah Swt.


Kiki Zaskia, S. Pd 

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- Akademisi dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Mohammad Iqbal Ahnaf mengingatkan pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai narasi-narasi kebangkitan Khilafah. (antaranews, 11/1/2024). 


Menurutnya narasi tersebut untuk mendapatkan momentum pada 2024 atau tepat satu abad runtuhnya kekhilafahan utsmaniyah. Ia menganggap ideologi Islam adalah Ideologi transnasional yang akan selalu ada. Ideologi Islam yang menawarkan sistem pemerintahan Khilafah hanyalah sebuah sugesti. Ibaratnya sebagai obat segala penyakit dalam masyarakat. Misalnya saja, mampu menyembuhkan kekecewaan, ketidakadilan dan emosi negative lainnya. Hal tersebut mejadi produk tawaran yang menggiurkan masyarakat atau panacea. 


Di sisi lain, Ia beranggapan bahwa masyarakat Indonesia tidak terlalu berpihak pada kepemimpinan atau model pemerintahan Khilafah. Serta, kebangkitan khilafah saat ini hanya terbatas pada ranah gagasan atau teoritis belaka. 


Berbeda dengan pandangan tersebut. Berdasarkan data dalam survey Pew Research Center di Kawasan Asia Tenggara yang dirilis pada 22 september tahun 2023 bahwa, dalam survey yang dilakukan sejak Juni-September 2022 terdapat 64 persen muslim di Indonesia sepakat jika menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara. Bahkan, persentase tersebut tak jauh berbeda dalam survei PRC pada tahun 2011-2012. 


Dalam proses penghimpunan data tak terlepas dari supervisi dan konsultasi dari berbagai pihak seperti pakar akademisi hingga melakukan diskusi mendalam dibeberapa negara Asia. Selain itu, di antara negara Asia selain Indonesia, seperti; Malaysia yang sedikit lebih banyak yaitu 86 persen sepakat menerapkan syariat Islam.


Islam Bukan Hanya Agama Spritiual


Dalam Islam diwajibkan bagi setiap muslim untuk terikat dengan syariat. Dalam ajaran Islam tidak hanya terdapat perintah untuk salat, puasa, zakat, atau naik haji. Namun, lebih luas dari itu. Sebab hukum asal syariat yaitu : “hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allah” (Imam Taqiyuddin an-Nabhani, al-syaksiyyah al-islamiyah, juz. III hlm.19).


Bahkan, Imam al-Suyuthi dan Syaikh Dr. Mahmud al-Khalidi juga berpendapat demikian. Sehingga perbuatan setiap muslim termasuk pendapatnya haruslah terikat dengan hukum syariat. Dalam setiap hal hingga yang menyangkut tentang konsep kepemimpinan dalam Islam; Khilafah. Bukan dengan hawa nafsu atau kepentingan tertentu. 


Dalam Islam, Khilafah adalah kewajiban yakni wajib kifayah sebagaimana dalam tafsir QS. Al- Baqarah: 30, QS. An-Nur: 55, dan  QS. An-Nisa: 59. 


Dalam Al-Qur’an terdapat banyak seruan bukan hanya perkara ibadah mahdah saja tetapi tentang hukum seperti tentang sanksi (uqubat) seperti qishash, rajam, cambuk, potong tangan. 


Terdapat pula, ayat-ayat tentang pengaturan ekonomi dan ayat-ayat tentang kewajiban kifayah lainnya. Dalam hal ini maka Khilafah wajib diyakini bukan hanya bualan atau semacam candu untuk pelipur lara derita umat saat ini. Namun, menjadi sesuatu yang wajib untuk diperjuangkan dan amat rugi apabila ditinggalkan konsepnya. 


Khilafah Ajaran Islam


Jika kini Khilafah belum tegak, maka wajib ‘ain untuk memperjuangkannya bagi setiap muslim. Dalam kaidah fikih tidaklah kewajiban itu selesai kecuali kewajiban dilakukan dengan tuntas secara sempurna. Artinya, pelaksanaan perintah syariat secara menyeluruh dimulai dari bangun tidur hingga membangun negara ini tidaklah akan terwujudkan jika Khilafah tidak ditegakkan. 


Adapun dalam as-Sunnah kewajiban akan menegakkan khilafah sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Dahulu Bani Israil dipimpin dan diurus oleh para Nabi. Jika para Nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh Nabi yang baru. Sungguh, setelah aku tidak ada lagi seorang Nabi, tetapi akan ada para Khalifah yang banyak” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam hal ini seorang khalifah tidak mungkin ada kecuali dalam sistem Khilafah. Selain itu, dalam ijmak sahabat. Ketika Rasulullah saw. wafat para sahabat justru menunda pemakaman Rasulullah saw. selama tiga hari dua malam disebabkan kesibukan mereka dalam masalah baiat dengan khalifah untuk mengganti kepemimpinan Rasulullah saw.. Hingga Abu Bakar As- Shiddiq terpilih menjadi khalifah baru kemudian setelah itu Rasulullah saw. dimakamkan di waktu tengah malam. 


Kemudian, Imam an-Nawawi dalam syarh Sahih Muslim bab 12, halaman 205 menyatakan bahwa, mereka (para imam mahzab) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum muslim mengangkat seorang khalifah. 


Selain itu, Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’li Ahkam al-Qur’an bab 1 halaman 264 menegaskan bahwa, tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat Khalifah) dikalangan umat dan para Imam mahzab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariat) dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mahzabnya. 


Berdasarkan sumber sahih yakni Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’ sahabat serta qiyas bahwa Khilafah adalah syariat Islam yang hukumnya wajib. Tak hanya gagasan atau omong-kosong. Namun, amatlah jauh dari itu, sebagaimana Rasulullah saw. dan para Khalifah setelahnya dalam memimpin sebuah negara. 


Tak dimungkiri memang nahas terjadi Ketika Khilafah Utsmaniyyah diruntuhkan oleh antek Inggris, Mustafal Kemal Attaturk, pada 4 Maret 1924 melalui konspirasi keji. 


Namun, hal ini justru menjadi refleksi bahwa digulingkannya kekhilafahan Islam benar-benar membawa kehancuran bagi seluruh kehidupan manusia. Kini, dengan tiadanya khilafah hukum Islam tidak bisa ditegakkan secara sempurna. Misalnya secara khusus dalam sistem ekonomi manusia kini. Karena ditinggalkannya konsep ekonomi Islam kemiskinan sistemik terjadi, penguasaan kekayaan oleh oligarki semakin menggurita. 


Belum lagi persoalan ekologis yang kini telah berada dalam titik yang menkhawatirkan. Adanya ancaman climate change serta konflik agraria yang tidak ada ujung penyelesaiannya. Serta persoalan loss generation dan kegilaan LGBTIQ. 


Semua itu terjadi bukan ketika Khilafah ditegakkan. Namun, justru terjadi sebab penerapan sistem Demokrasi dan ide Kapitalisme yang merusak semesta. Hal ini seharusnya dapat mengantarkan pada tingkat penyadaran betapa lemahnya hukum-hukum yang dibuat oleh manusia yang lemah lagi tak beriman pada Allah Swt.. 


Kondisi panacea yang disematkan pada sistem khilafah adalah bentuk pengingkaran syariat Islam. Sebab pada dasarnya informasi keberkahan yang didapatkan ketika menerapkan syariat bukanlah bersumber dari buzzer yang disogok untuk menyelesaikan persoalan perut. Namun, berdasarkan dalil nash sebagaimana Firman Allah Swt. dalam QS. Al-Anbiya: 107, QS. Al-Araf: 90, dll. 


Sejatinya, kembalinya kehidupan Islam tidak bisa dielakkan oleh siapapun. Menolak kembalinya kehidupan Islam dengan Khilafah ibaratnya menolak matahari terbit dari ufuk timur. 

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq. []

Khilafah Bukan Panacea

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.