KDRT, Hal Lumrah dalam Sistem Kapitalisme



Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman dan teraman rupanya tak lagi menjadi jaminan di saat ini

Kini, rumah bisa menjadi tempat meregang nyawa bagi anak dan istri


Penulis Normah Rosman

Pegiat Literasi


Matacompas.com, OPINI -- ”Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarga (istri)nya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarga (istri)ku.” (HR. Al-Hakim dan Ibnu Hibban.)


Nahas. Seorang pria bernama Jali Kartono nekat membakar hidup-hidup istrinya sendiri lantaran terbakar api cemburu usai melihat chatting dengan pria lain. Peristiwa ini terjadi di kediaman pribadinya, Kemayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (28/11/2023). Jali mengaku tidak mampu mengendalikan emosinya lalu spontan mengambil jerigen berisi bensin, kemudian menuangkan ke atas kepala korban. Lantas mengeluarkan korek api untuk menyulut api (kompas, 5/12/2023). 


Tak lama berselang, seorang pelaku kekerasan rumah tangga yang diketahui Yanto Herawan juga telah ditangkap. Pasalnya, Ia tega menganiaya istrinya, Rustini, 35 tahun, dengan golok. Keduanya adalah warga Kampung Cisarua, Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Kekerasan itu terjadi pada Selasa pagi, 12 Desember 2023. Yanto mengaku kalap menganiaya istrinya lantaran terbakar cemburu. Dia marah setelah melihat riwayat percakapan Rustini dengan pria lain di ponsel korban. Beruntung ada tetangga yang mendengar jeritan Rustini dan memergoki kekerasan yang sedang terjadi itu. Saksi melihat pelaku sedang memegang golok dan menyabet ke arah kaki korban (metro.tempo, 16/12/2023).


KDRT Semakin Sadis


KDRT marak terjadi, tak tanggung-tanggung anak dan istri kerap menjadi korbannya. Kekerasan yang dilakukan hingga menghilangkan nyawa korban. Suami yang sejatinya sebagai tempat berlindung bagi anak dan istri justru menjadi pemangsa. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman dan teraman rupanya tak lagi menjadi jaminan di saat ini. Kini, rumah bisa menjadi tempat meregang nyawa bagi anak dan istri. Tentu saja ada banyak penyebab atas tindakan yang dilakukan oleh pelaku. Baik itu merupakan faktor eksternal seperti ekonomi, maupun faktor internal seperti hubungan yang kurang harmonis di antara anggota keluarga. 


Tak adanya aturan baku pada kehidupan sekulerisme kapitalisme dalam mengatur interaksi pergaulan dalam berumah tangga maupun dalam kehidupan umum sehingga membuat masyarakat bertindak sesuai kehendak mereka. Begitu juga dengan hukuman yang ditetapkan oleh pemangku kebijakan, sungguh tidak memberikan efek jera kepada pelaku. Belum lagi dengan alasan mental terganggu sehingga membuat pelaku kejahatan dapat terbebas dari jeratan hukum. Celah ini tentu akan dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dalam membenarkan semua tindakan kejahatannya. Dan memberikan contoh kepada yang lainnya jika, hukuman bisa dengan mudah dihindari.


Buruknya pergaulan dalam lingkungan tentu akan memicu timbulnya berbagai persoalan baru, belum lagi persoalan ekonomi yang kini semakin menghimpit. Sehingga permasalahan di luar rumah akan di bawa ke rumah. Padahal permasalahan dalam rumah saja sudah sangat kompleks. Dengan keadaan seperti inilah akan timbul rasa marah dan jenuh sehingga mampu menghilangkan nyawa orang-orang yang seharusnya di lindungi. Tak dipungkiri jika keadaan ekonomi yang lemah dan pergaulan bebas banyak menyumbang terjadinya KDRT. Nauzu billah.


Islam Memiliki Aturan Yang Sempurna


Islam memiliki aturan yang sempurna dalam mengatur interaksi dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan umum. Di mana Islam menetapkan kehidupan suami istri layaknya sebagai kehidupan persahabatan, yang mampu memberikan rasa aman, damai dan tentram antara satu sama lainnya. Kewajiban dan hak suami terhadap istri, maupun kewajiban dan hak istri terhadap suami dalam Islam sudah diatur sedemikian rupa. Sehingga dengan adanya pemahaman akan hak dan kewajiban inilah yang akan menjadi bekal dalam membimbing pasangan suami istri mengarungi kehidupan dan menerjang berbagai masalah rumah tangga. 


Adapun bentuk pergaulan suami istri adalah pergaulan yang makruf. Allah Swt. Berfirman dalam surah An-Nisa, ayat 19, “Dan bergaullah dengan mereka secara makruf (baik).” 


Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dalam berinteraksi kepada istri-istrinya. Rasulullah saw. bersabda, ”Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarga (istri)nya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarga (istri)ku.” HR. Al-Hakim dan Ibnu Hibban.


Pergaulan yang makruf ini tergambar dari ketaatan istri terhadap suaminya, sementara sikap suami kepada istri ialah ramah, toleran dan lembut dalam meminta sesuatu dari istrinya. Suami juga dilarang mencari-cari kesalahan istri, terlebih lagi jika sang istri telah melakukan semua kewajiban dan haknya. 


Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, qiadatul bait berada di tangan suami, sebagaimana dalam Surah An-Nisa, ayat 34,Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya ….” Dengan ketentuan ini, maka suami akan menjadi pemutus kebijakan dan bertindak sebagai qowwam dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam rumah tangga. Suami wajib mendidik keluarganya dengan akidah dan syariah Islam. Membimbing mereka agar taat kepada Allah Swt. dan menjauhkan mereka dari maksiat. 


Jika ada seorang istri yang membangkang atau nusyuz kepada suaminya, Allah memberikan hak kepada suami untuk mendidik istrinya. “Perempuan-perempuan (istri) yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” QS. An-Nisa, ayat 34


Pukulan yang dimaksud adalah pukulan ringan yang tidak menyakitkan terlebih lagi membahayakan. Rasulullah saw. bersabda, “Jika mereka melakukan tindakan tersebut (nusyuz) maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan (menyakiti).” HR. Muslim.


Namun jika permasalahan suami istri tak kunjung terselesaikan dan dapat mengancam ketentraman, maka Islam mendorong mereka agar bersabar dalam memendam kebencian yang ada. Karena bisa jadi pada kebencian itu terdapat kebaikan. Tetapi jika usaha tersebut telah dilakukan dan tidak membuahkan hasil, sementara masalah kebencian dan pembangkangan telah melampaui batas. Islam memerintahkan agar ada pihak ketiga dari suami atau istri untuk membantu menyelesaikan persoalan diantara mereka. Tapi jika permasalahan tetap tak kunjung mendapatkan solusi diantara kedua belah pihak, maka Islam memperbolehkan adanya talak atau perceraian meskipun Allah Swt. sangat membencinya. Dengan aturan yang sempurna ini, niscaya KDRT bisa dicegah dan kebahagiaan antara suami istri dapat diraih. Wallahualam bissawab. []

KDRT, Hal Lumrah Dalam Sistem Kapitalisme

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.