Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik, Rakyat Makin Tercekik


Jika kenaikan harga terjadi karena distribusinya, pemerintah harus memudahkan proses distribusi tersebut

Rantai distribusi kebutuhan pokok yang sangat panjang membuat barang harus melewati beberapa pedagang sebelum sampai ke konsumen


Penulis Bunda Hanif

Pegiat Literasi 


Matacompas.com, OPINI -- Para ibu pasti tahu bagaimana rasanya kalau harga kebutuhan pokok mulai naik. Mereka harus berusaha keras mengatur keuangan agar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sayangnya, kondisi ini selalu terjadi setiap tahunnya. 


Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), kenaikan harga terjadi pada beberapa kebutuhan pokok. Pada 2 Januari 2024 harga bawang merah Rp41.450 per kg naik Rp2.200 dari sebelumnya, bawang putih Rp41.450 per kg naik Rp1.250. Cabai merah besar naik Rp1.800 menjadi Rp70.400 per kg, cabai merah keriting naik Rp2.000 menjadi Rp66.500 per kg, cabai rawit hijau juga naik Rp1.050 menjadi Rp58.850 per kg. Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam ras segar, naik Rp 100 menjadi Rp29.450 per kg. Harga minyak goreng curah naik Rp100 menjadi Rp15.450 per kg, minyak goreng kemasan bermerek I juga naik Rp50 menjadi Rp20.700 per kg. Sedangkan harga minyak goreng kemasan bermerek II anjlok Rp650 menjadi Rp19.350 per kg. Harga beras masih stabil. Beras kualitas bawah I stabil di Rp13.650 per kg, beras kualitas medium I tetap Rp14.750 per kg, beras kualitas super I Rp16.050 per kg. Namun, beras kualitas super II naik Rp50 menjadi Rp15.600 per kg. (CNN Indonesia, 2/1/2024)


Kenaikan harga tersebut diduga akibat perubahan cuaca yang terjadi akhir-akhir ini. Menurunnya hasil panen akibat kondisi cuaca ekstrem, yang sering berubah-ubah. Selain itu karena naiknya permintaan menyebabkan harga bahan pangan ikut naik. (Republik, 6/1/2024)


Kenaikan harga kebutuhan pokok tentu saja sangat menyusahkan masyarakat Indonesia yang mayoritas berpenghasilan rendah atau menengah ke bawah. Pengeluaran mereka tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga perlu membayar pajak, listrik, air, sekolah anak, ke dokter jika sakit, dan lain-lain.  


Tidak hanya konsumen, pedagang juga mengeluh dengan adanya kenaikan harga kebutuhan pokok. Kenaikan harga menyebabkan menurunnya jumlah pembeli. Apalagi saat harga naik, tidak ada panenan, pasar menjadi sepi. Kadang dalam sehari, barang tidak bisa habis, padahal kulakannya sudah mahal. 


Kenaikan harga yang selalu terjadi setiap tahunnya, seharusnya dianalisis dan dicarikan solusinya. Sayangnya, solusi yang diambil selalu impor barang dari negara lain untuk memperbanyak stok. Padahal dengan adanya impor secara besar-besaran mematikan petani lokal. Harga barang impor jauh lebih murah dari barang lokal. Akhirnya masyarakat memilih barang yang harganya jauh lebih murah. Akibatnya produk sendiri kalah bersaing dengan produk impor. 


Untuk beberapa barang, kenaikan harga mungkin terjadi karena perubahan cuaca. Pemerintah seyogianya dapat melakukan riset untuk menghadapi perubahan cuaca. Dari penelitian itu, pemerintah dapat menemukan benih dengan kualitas unggul yang tahan cuaca. Memanfaatkan teknologi canggih dalam proses penanaman dan menyediakan pupuk yang baik agar tanaman tersebut subur. 


Jika kenaikan harga terjadi karena distribusinya, pemerintah harus memudahkan proses distribusi tersebut. Rantai distribusi kebutuhan pokok yang sangat panjang membuat barang harus melewati beberapa pedagang sebelum sampai ke konsumen. 


Masalah lainnya adalah adanya pengusaha swasta yang memanfaatkan kondisi ini. Mereka membeli padi dengan harga miring dari petani. Lalu, mereka mengolah dan memasarkan dengan harga berkali-kali lipat. Pengusaha dengan modal besar mampu mengalahkan pengusaha yang modalnya kecil. Pemerintah harus punya kebijakan khusus mengatur pengusaha besar itu untuk tidak memonopoli pasar dan meninggikan harga berlebihan. 


Namun di negara yang menerapkan sistem kapitalisme, para pengusahalah penguasa yang sesungguhnya. Regulasi yang dibuat harus sesuai dengan keinginannya. Ini karena tujuan dari kapitalisme itu sendiri adalah mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. 


Impor bahan pokok harus dilakukan selama penguasa muslim mengikuti kebijakan pasar bebas. Langka atau tidaknya barang di dalam negeri, impor harus tetap dilaksanakan karena terikat dengan perjanjian perdagangan bebas. Mustahil bisa menyejahterakan rakyat kalua negara tidak memiliki kedaulatan sendiri. Negara tidak akan bisa tegas mengambil keputusan yang terkait urusan luar negeri. 


Islam Solusi Hakiki


Berbeda halnya jika kita menerapkan sistem Islam. Di dalam Islam, seorang pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya. Mereka menjalankan amanah sesuai pandangan syarak. Pengambilan keputusan bukan berdasarkan alasan kerja sama, keuntungan materi, dalam pengaruh oligarki atau demi keuntungan sendiri. 


Di dalam sistem ekonomi Islam, pengelolaan keuangan secara baitulmal, akan mampu membiayai riset. Riset tersebut guna menghasilkan produk unggul sesuai kebutuhan sehingga petani tidak perlu membeli mahal, karena negara menjual dengan harga terjangkau. 


Islam juga menerapkan sanksi yang tegas. Bagi pengusaha yang melanggar kebijakan negara, akan ditindak tegas. Oligarki tidak dibiarkan tumbuh subur dan pada akhirnya mencekik rakyat dengan harga yang melambung tinggi. 


Islam juga memiliki kebijakan untuk membantu orang yang tidak mampu. Selain itu negara juga memberikan modal atau membuka lapangan kerja. Itulah beberapa kebijakan Islam terkait pemenuhan kebutuhan pokok. Tidak ada lagi harga yang melangit sehingga rakyat tercekik. Namun, semua itu hanya dapat terwujud jika pemimpin muslim mau menjadikan Islam sebagai landasan dalam bernegara. 

Wallahualam bissawab. []

Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik, Rakyat Makin Tercekik

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.