Banjir dan Angin Kencang Menghantui, Mitigasi Bencana Perlu Dibenahi

Dalam sistem Islam semua perencanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan kaidah keamanan dan kebutuhan rakyat, bukan berdasarkan ambisius pemerintah semata

Islam akan melakukan mitigasi bencana dengan serius dan menindak lanjuti setiap bencana, membuat pencegahan lebih dini


Penulis Nadia Salma

Pelajar


Matacompas.com, OPINI -- Musim hujan telah tiba. Beberapa bulan terakhir hujan terus-menerus mengguyur kota Bandung. Akibatnya banjir bandang disertai angin kencang merusak 102 unit rumah yang ada di Bandung. Dari kejadian itu, mengakibatkan 2 rumah rusak sedang, 62 rusak ringan, dan 14 rumah rusak berat.


"Sementara enam rumah mengalami rusak ringan akibat banjir bandang," Abdul Muhari selaku Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, memberikan keterangannya secara tertulis, pada hari Selasa (26/12).


Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut rumah yang rusak akibat angin kencang ini rata-rata mengalami kerusakan di bagian atap. Selain itu terdapat juga bangunan yang roboh hingga rata dengan tanah.  Rumah rusak tersebut berada di bantaran sungai rata-rata rusak di bagian dinding belakang akibat banjir bandang.


Bukan hanya rumah dan bangunan saja yang rusak, bencana ini juga mengakibatkan sebagian warga mengalami luka ringan karena tertimpa material bangunan.


Selain itu, kejadian ini juga berdampak terhadap 312 jiwa atau 82 kepala keluarga yang tinggal di wilayah Kecamatan Baleendah, Ciparay dan Anjarsari terdampak bencana angin kencang. Adapun di Kecamatan Dayeuhkolot juga mengalami banjir bandang yang berdampak pada 303 unit rumah. Di kutip dari cnnindonesia (Selasa, 26/12/2023).


Bukan hal baru jika setiap musim penghujan tiba, terjadi beberapa bencana alam di negeri ini. Mulai dari banjir bandang sampai pada tanah longsor. Faktanya, bencana banjir ini bukan perkara baru. Minimnya mitigasi bencana yang dilakukan pemerintah menyebabkan bencana alam seperti ini selalu terjadi. Masyarakat dipaksa menerima keadaan, dengan dalih semua terjadi lantaran faktor alam dan faktor musim. Padahal, penyebab banjir tidak semata faktor alam. Seharusnya pemerintah harus mengevaluasi banyak hal, bukan hanya dari perilaku manusia, tapi utamanya pada kebijakan struktural dalam pembangunan. Curah hujan yang tinggi tidak akan menjadi masalah jika hutan-hutan tidak ditebangi, tanah resapan tidak dibeton, daerah aliran sungai tidak mengalami abrasi. 


Hal ini terjadi karena sistem kapitalisme masih diterapkan di negara ini. Sistem kapitalis yang mengutamakan keuntungan tanpa melihat apakah hal tersebut memiliki dampak buruk atau tidak. Pembangunan yang dianggap menguntungkan meskipun akan berdampak pada bencana alam dikemudian hari bagi masyarakat tetap dilaksanakan jika hal tersebut memberikan keuntungan bagi para kapitalis. Mitigasi bencana pun seakan hanya basa-basi semata. Negara seakan tidak serius menangani hal ini dengan tetap melaksanakan pembangunan tanpa melihat dampak lingkungan serta apakah tempat yang gunakan adalah kawasan rawan bencana. Efeknya yang menjadi korban adalah rakyat. 


Hal seperti ini tentu tidak akan terjadi dalam sistem kepemimpinan Islam. Dalam sistem Islam semua perencanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan kaidah keamanan dan kebutuhan rakyat, bukan berdasarkan ambisius pemerintah semata. Islam akan melakukan mitigasi bencana dengan serius dan menindak lanjuti setiap bencana, membuat pencegahan lebih dini. Apalagi untuk hal-hal yang sudah bisa diprediksi seperti musim hujan. 


Hanya Islam yang mampu menyelesaikan problem kebencanaan dengan solusi yang mendasar dan tuntas. Mulai dari fondasi negara dan kepemimpinan yang lurus, yakni berlandaskan tauhid, kemudian melalui topangan penerapan syariat Islam kaffah. Inilah yang akan menjadi pintu pembuka bagi datangnya rida Allah Swt. sekaligus kebaikan hidup yang dirasakan oleh semua. Wallahualam bissawab. []

Banjir dan Angin Kencang Menghantui, Mitigasi Bencana Perlu Dibenahi

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.