Air Bawah Tanah Menyusut, Masyarakat Kalang-Kabut


Faktor penyebab penurunan air tanah adalah kurangnya daerah resapan air di kota Bandung

Tidak bisa dimungkiri bahwa kawasan hijau ataupun daerah resapan air yang tersedia belum mampu menampung dengan baik. Banyaknya bangunan yang menutupi tanah menyebabkan air tidak bisa diserap secara optimal oleh tanah


Penulis Aas K.

Aktivis Muslimah


Matacompas.com, OPINI -- Akhir-akhir ini marak pengambilan air tanah di daerah Kabupaten Bandung Jawa Barat oleh para investor/pemilik modal. Pengambilan air tanah ini berpotensi pada terjadinya krisis air bersih bagi masyarakat. Penyebabnya banyak investor yang mendirikan bisnis properti hingga pertambangan, geothermal, dan banyaknya perusahaan minuman kemasan, serta kebutuhan industri lainnya. 


Seperti yang dikutip media online Jabarekspres, Selasa (16/01), Wahyudin Iwang selaku Direktur Eksekutif Walhi Jabar mengatakan, perluasan kawasan pemukiman tumbuh begitu pesat sehingga diprivatisasi air oleh perusahaan. Jika tak dilakukan pembatasan oleh pemerintah, maka akan jadi ancaman bagi wilayah Kabupaten Bandung.


Wahyudin pun mengatakan, berkurangnya atau menyusutnya air bawah tanah di Kabupaten Bandung, terjadi karena diintervensi oleh industri bisnis properti seperti villa, perumahan, mal-mal, hotel, dan lain sebagainya yang tergolong besar.


Kondisi saat ini berbeda dengan kondisi dulu, di mana ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air kini banyak yang tertutupi. Bila musim hujan tiba maka akan mengakibatkan air tidak terserap baik oleh tanah sehingga saat tiba musim kemarau air tanah akan berkurang dampaknya kesulitan mendapatkan air.


Faktor penyebab penurunan air tanah adalah kurangnya daerah resapan air di kota Bandung. Tidak bisa dimungkiri bahwa kawasan hijau ataupun daerah resapan air yang tersedia belum mampu menampung dengan baik. Banyaknya bangunan yang menutupi tanah menyebabkan air tidak bisa diserap secara optimal oleh tanah. Hal ini mengakibatkan masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih. Inilah yang terjadi dalam sistem kapitalisme di mana dalam sistem ini hanya mementingkan materi semata, rusaknya lingkungan oleh para investor/pemilik modal dianggap hal biasa.


Banyaknya kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini bukti bahwa pemerintah abai, dikarenakan pemerintah belum serius mencari solusi untuk menjaga lingkungan. Terbukti tidak adanya transparansi data perizinan tentang penggunaan air bawah tanah.


Kalaupun ada hanya sebatas analisis yang dilakukan melihat serta menghitung per tahun berapa kubik atau volume air bawah tanah, padahal investor/para pemilik modal telah mengeksploitasi air bawah tanah ini secara besar-besaran. Semua ini dipakai untuk sektor industri, perkantoran, perumahan dan lain sebagainya.


Penguasa dalam sistem kapitalis hanya berpihak pada pengusaha. Bertolak belakang dengan sistem Islam, semua kekayaan negara dikelola untuk kesejahteraan masyarakat dengan pengelolaan oleh negara secara mandiri dan hasilnya dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara umum dan tidak diserahkan kepada investor seperti dalam sistem kapitalisme. Dalam Islam, air  merupakan sumber daya alam yang dikelola bersama-sama dan bisa dimiliki. 


Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang Muslim bersekutu dalam kepemilikan tiga hal; air, padang rumput, dan api. Harga dari benda tersebut diharamkan. Abu Sa’id menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah air yang mengalir.” (HR. Ibnu Majah)


Dalam hadis di atas, menjelaskan bahwa air sebagai salah satu sumber daya alam haruslah dikelola oleh negara dengan baik, bukan diserahkan pada individu atau satu perusahaan saja. Kemudian hasil pengelolaan sumber daya alam tersebut dikembalikan kepada masyarakat, untuk kesejahteraan mereka. 


Dalam Islam, umat dipahamkan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Islam pun mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi, yang berarti memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan alam semesta. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman umat Islam tentang pentingnya menjaga lingkungan di tengah masyarakat.

Wallahualam bissawab. []

Air Bawah Tanah Menyusut, Masyarakat Kalang-Kabut

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.