2024 Memanas, Pemuda Makin Punya Arah yang Cerdas

Arus polarisasi politik bukan menjadi dilematis

Generasi yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Indonesia mendatang harus memiliki prinsip agar tidak mudah terombang-ambing


Penulis Intifada Birul Umaroh Aktivis Back to Muslim Identity

 

Matacompas.com, OPINI -- Menghitung hari menuju PEMILU pada 14 Februari, suasana panas di tahun politik 2024 semakin terasa. Riuh kampanye dari hari ke hari, tumpah ruah informasi, saling tebar gimmick, hingga fenomena jatuh menjatuhkan semakin kentara. 


Tentu perihal seperti ini sudah menjadi rahasia publik setiap lima tahun sekali di kancah pesta demokrasi. Terlebih hari ini, ada suara dominan dari kalangan muda yang harus diperebutkan. Karena di pemilihan kali ini, anak muda menentukan suara hampir dua kali lipat dibandingkan pemilihan sebelumnya di 2014. Di mana jatah daftar pemilih tetap (DPT) 2014, anak muda hanya mendapat ruang 30% dari total 180 juta DPT. Sedangkan dilansir dari website resmi Komisi Pemilihan Umum telah ditetapkan DPT Pemilu 2024 sebanyak 204.807.222 pemilih dari total rekapitulasi nasional pemilih dalam dan luar negeri. Dengan mayoritas pemilih didominasi dari kelompok generasi Z dan millenials mencapai 56,45% setara 113,6 juta suara. Sehingga, kecenderungan anak muda menjadi representasi yang akan menentukan masa depan negara ini. Wajar saja jika hari ini para paslon Capres-Cawapres dan calon wakil rakyat berlomba merebut hati kalangan muda.


Di tengah suara muda yang akan menjadi penentu negara ini akan dibawa ke mana, terdapat kondisi terbalik. Berdasarkan data survei Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Consulting, generasi Z yang mengisi 27% dari penduduk Indonesia ternyata ada sebanyak 44, 26% Gen Z tidak tertarik politik; 29,05% illfel terhadap politik; dan 23,28% dari Gen Z yang tertarik pada politik. Menurut Pakar politik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) Mada Sukmajati, karakter pemilih muda (generasi millenials dan zillenials) ini masih moody dalam menentukan pilihan sehingga lebih cenderung mudah mengubah pilihannya. eduhistoria, (01/12/2023).

 

Dilema yang dialami kalangan muda ini, tentu perlu mendapat perhatian khusus agar mampu membawa Indonesia pada kegemilangan bukannya jatuh pada lubang yang sama. Butuh mendalami sebab-sebab mengapa kalangan muda lebih dikenal apolitis, jika fakta yang selalu mereka indera adalah permainan politik kotor. Ada yang mulai tertarik pada perpolitikan kemudian dikecewakan dengan ingkar janji politik. Atau ketika sudah mengumpulkan keberanian untuk kritis dan mengungkapkan kebenaran, justru dijegal dengan undang undang tidak pro rakyat juga intimidasi. Ini menjadi kekhawatiran bersama, harus berapa kali lagi rakyat menjadi korban janji manis penguasa yang suaranya hanya didengar setiap lima tahun sekali, kemudian dilupakan dan diwakili pula kesejahteraannya. 


Bosan rasanya berharap di balik jargon dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, jika pelajaran yang selalu didapat semua hanya berpihak pada rakyat berdasi lagi bercuan. Masih terekam jelas bagaimana peristiwa demonstrasi besar-besaran 2020 lalu tentang Omnibus Law, penolakan revisi UU KPK, gelombang demo tolak kenaikan BBM, protes hasil putusan MK yang memuluskan dinasti politik, dan berbagai macam suara rakyat yang berlalu bak angin.


Belum lagi, ramai kabar orang gila diberikan hak suara, artinya suara satu profesor sama dengan satu suara mahasiawa sama dengan suara satu orang gila. Hal tersebut makin menambah jengah untuk berharap pada sistem yang meniscayakan manusia berdusta, melupakan janji demi penuhi nafsunya. 


Namun demikianlah nasib hidup dalam tanah demokrasi yang menyuburkan politik kekuasaan dengan asas kepentingan. Di mana syarat penerima kursi kekuasaan butuh mahar politik yang sangat mahal, sehingga saat menduduki kursi wajib balik modal. Menempatkan kedaulatan di tangan manusia, membuat dampak hidup dalam sistem ini semakin karut marut. Benar kata Plato, jika demokrasi ini adalah sistem cacat bawaan yang melahirkan anarki, merangsang, dan menyebabkan terciptanya tirani. Maka masuk untuk melakukan perbaikan dalam sistem permainan rusak, adalah ilusi. Dan pemuda sebagai pengisi dominan di ruang hidup saat ini, tidak boleh mengulang kesalahan yang sama apalagi pasrah. Mereka harus mencari sistem sahih anti cacat sebagai pengganti. 


Arus polarisasi politik bukan menjadi dilematis. Generasi yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Indonesia mendatang harus memiliki prinsip agar tidak mudah terombang-ambing. Oleh karenanya, pemuda harus memastikan beberapa hal, di antaranya:


pertama, pemuda tidak boleh illfel melainkan harus memahami politik. Sebagaimana pernyataan seorang penyair Jerman Bertolt Brecht, bahwa buta terburuk adalah buta politik. Katanya, orang yang buta politik tidak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semua itu bergantung pada keputusan politik. Benci dan tidak mau tahunya dia terhadap politik akan membawa petaka yang mengakibatkan banyaknya pelacuran, anak terlantar, perampokan, serta yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang mengurus kekayaan negara. 


Karena begitu vital peranan politik dalam kehidupan, maka Islam pun punya cara pandang yang komprehensif terhadap politik. Dalam Islam, politik (siyasah) dimaknai sebagai ri’ayah syu’unil ummah, bagaimana mengatur urusan umat. Luar biasanya politik Islam bukan fokus pada aktivitas musiman rebutan suara rakyat, melainkan pada penerapan aturan-aturan Allah Swt. secara sempurna juga terhadap pelayanan urusan rakyat. Pemimpin yang tercetak dalam Islam pun akan memiliki ketahanan iman, yang menjadikan siap bertanggungjawab menjaga amanah rakyat di mata Allah. Sehingga, cara paling tepat agar anak muda memahami politik yang benar adalah dengan mengkaji Islam politik secara intensif dan menyeluruh.


Kedua, pemuda harus memiliki agenda perjuangan politik yang jelas serta terarah. Anak muda jangan mau di-framing seolah-olah suara mereka sudah terwakili oleh suasana keruh perpolitikan saat ini. Apalagi sebagai seorang muslim, di mana di dalam Islam sudah lengkap konsep sampai cara praktis penerapannya. Karena itu, seharusnya agenda yang disongsong para pemuda adalah Islam politik. Islam merupakan satu-satunya agama yang diridai dan agama yang telah Allah sempurnakan, dengan meliputi berbagai pengaturan dari hubungan manusia dengan Penciptanya (akidah, ibadah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (makanan, minuman, akhlak, pakaian), dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (sistem pendidikan, ekonomi, politik, pemerintahan, dan lain sebagainya). Demikianlah kesempurnaan Islam, hal ini menjadi kewajiban untuk menjadikan Islam sebagai jalan perubahan yang ditempuh oleh umat muslim, terkhusus pemuda sang motor perubahan.


Ketiga, pemuda harus konsisten menyuarakan kebenaran. Walaupun tidak bisa dimungkiri bagaimana kondisi hari ini yang sesak dengan tawaran hingga kekhawatiran menghantui orang-orang yang kritis. Pembungkaman, deskriminasi, juga intimidasi seperti menjadi alur pasti bagi mereka. Karenanya, pemuda muslim wajib memiliki keyakinan yang menghujam dan senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadis. 


Dengan demikian, janji Allah dalam QS. An-Nur ayat 55 bahwa Islam akan kembali berkuasa di muka bumi bukan hanya menjadi dongeng atau ramalan masa depan, tetapi janji itu adalah kepastian yang siap disongsong oleh para generasi muda. Allahu Akbar![]

2024 Memanas, Pemuda Makin Punya Arah yang Cerdas

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.