Terbentuk Sebelum Terbentur

 


Episode apa pun dalam hidup ini yang bahkan menurut kita “buruk” sejatinya adalah bentuk kasih sayang  Allah. Allah hanya menginginkan kebaikan pada hamba-Nya. Seberat apapun ujian kita, yakinlah bahwa apa-apa yang datang dari Allah, yang baik dan yang buruk menurut pandangan kita adalah pasti yang terbaik menurut versi-Nya Allah


Seandainya saat ini kita belum mampu menemukan hikmah atau kebaikan dari setiap ujian yang melanda diri kita, ketahuilah itu adalah karena terbatasnya akal dan pengetahuan kita


Penulis Astriani Ayu Lestari

Pegiat Literasi


Matacompas.com, MOTIVASI -- “Ujian hidup aku tuh berat banget.”
Ini adalah kata-kata yang barangkali terucap, saat kita ngerasa ngga mampu menghadapi ujian kehidupan.


Wajar sekali jika dalam hidup, adakalanya kita berada dalam fase yang dirasa sulit menghimpit, tetapi kemudian fase itu berganti menjadi saat-saat yang  melapangkan.

Selama kita hidup ujian akan datang silih berganti. Layaknya saat kita duduk di bangku sekolah, mulai dari SD sampai perguruan tinggi, kita akan selalu dituntut melalui proses ujian.


Tujuan dari ujian tersebut adalah untuk mengevaluasi sejauh mana kita memahami materi yang didapatkan selama pembelajaran. Jika kita mampu mengerjakan soal-soal yang diajukan dalam ujian, artinya kita lulus dan berhak untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Adapun jika kita ngga mampu mengerjakan soal-soal yang diajukan dalam ujian, artinya kita belum lulus dan belum berhak untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya. 


Hal tersebut relate banget dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Mulk ayat 2 bahwa Allah  menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kita, siapa diantara kita yang terbaik amalnya. Selain itu, ujian dalam hidup sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,


“Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya cobaan atau musibah.” 


Jadi, apapun yang datang dari Allah baik itu bentuknya cobaan, ujian, atau musibah semuanya adalah bentuk kasih sayang Allah. Bahkan selevel para Nabi dan Rasul juga Allah berikan ujian, maka apa kabarnya kita yang hanya manusia biasa?


Jika kita perhatikan, dalam hidup senantiasa kita temukan ada dua kelompok orang dalam menghadapi ujian. Pertama adalah mereka yang terbentur, terbentur, kemudian terbentuk. Orang-orang tipe ini adalah mereka yang belum  sempat atau tidak belajar sebelum datangnya ujian. Mereka nggak tau bagaimana cara menjawab soal ujian yang diajukan, sehingga dengan ujian/remedial berkali-kali mereka baru mengetahui jawaban yang tepat dari soal ujian tersebut. Contoh ada orang terjerumus kedalam seks bebas dia melakukan perbuatan tersebut berkali kali dan berganti-ganti pasangan. Qadarullah beberapa tahun kemudian, dia jatuh sakit dan diagnosis medis menunjukan bahwa dia menderita HIV dan penyakit infeksi menular seksual. Pada saat itu dia baru tersadarkan bahwa perbuatannya adalah salah dan akhirnya dia kembali mendekat kepada Allah. Kelompok seperti ini juga kadangkala sering nyari jawaban sendiri dari soal ujian kehidupannya. Mereka menjawab soal secara random pakai hawa nafsu. Cap cip cup, pilih apa yang mereka suka, padahal jawabannya belum tentu benar.


Adapun kelompok yang kedua, adalah mereka yang terbentuk sebelum terbentur. Orang-orang pada kelompok ini, adalah mereka yang selalu mempersiapkan diri sebelum datangnya ujian.  Mereka senantiasa belajar tentang kemungkinan jawaban dari persoalan ujian yang mungkin muncul dalam kehidupannya. Mereka mencari jawaban sesuai dengan panduan yang sudah Allah tetapkan, yakni syariat Islam. Mereka ngga pernah mencari jawaban sesuai perasaan atau hawa nafsu mereka, mereka ngga memikirkan apakah jawaban yang mereka pilih adalah jawaban yang mereka sukai atau tidak. Pokoknya mereka udah yakin bahwa panduan baku dari Allah adalah kunci jawaban terbaik. Karena Allah adalah Al-Khaliq, pencipta manusia yang pasti paling mengetahui yang terbaik bagi manusia.


Kelompok kedua ini, juga senantiasa menyadari  bahwa kebutuhannya terhadap ilmu jauh lebih besar dibandingkan kebutuhannya terdadap makan dan minum. Bagi mereka menuntut ilmu dalam majlis dan halakah bukan sekedar pelengkap kehidupan, menuntut ilmu adalah kebutuhan primer bagi mereka. Persepsi seperti ini bisa muncul, karena mereka sadar bahwa bahwa ujung kehidupan ini adalah kampung akhirat, sehingga mereka mempersiapkan bekal terbaik untuk pulang ke kampung halaman terbaik yaitu surga. 


Jadi episode apa pun dalam hidup ini yang bahkan menurut kita “buruk” sejatinya adalah bentuk kasih sayang  Allah. Allah hanya menginginkan kebaikan pada hamba-Nya. Seberat apapun ujian kita, yakinlah bahwa apa-apa yang datang dari Allah, yang baik dan yang buruk menurut pandangan kita adalah pasti yang terbaik menurut versi-Nya Allah. Seandainya saat ini kita belum mampu menemukan hikmah atau kebaikan dari setiap ujian yang melanda diri kita, ketahuilah itu adalah karena terbatasnya akal dan pengetahuan kita. Tetaplah yakin, bahwa dalam ujian, kita ngga akan pernah ditanya tentang soal ujian yang diajukan. Tapi yang ditanyakan adalah bagaimana kita menjawab soal ujian tersebut. Kita tidak akan dihisab pada apa yang berada diluar kendali kita. Kita hanya akan dihisab pada apa yang mampu kita kendalikan, yakni tentang cara kita menjawab soal ujian tersebut.


Maka jika ujian hidup terasa sangat menghimpit, yakinlah bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Allah tidak pernah salah memilih pundak. Jika kita mampu menganggap nikmat selalu mendatangkan kebaikan maka kita patut mengingat bahwa setiap kesempitan hidup juga selalu mendatangkan kebaikan. Jadilah orang yang tebentuk sebelum terbentur. Jangan pernah putus asa. Bukankah Allah sudah berjanji, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Setelah satu pintu tertutup rapat, maka akan ada dua pintu terbuka lebar. [MDEP]

Seberat apapun ujian kita, yakinlah bahwa apa-apa yang datang dari Allah, adalah baik

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.