Arti Ideal dari Standar Kebenaran

 


Akal manusia bersifat terbatas, manusia hanya mampu menjangkau apa yang menurutnya bisa bermanfaat dan bisa memuaskan hawa nafsu

Mereka lupa bahwa mereka tidak bisa memperkirakan apa saja kerusakan yang akan terjadi jika mereka menggunakan akal dan hawa nafsunya dengan kebablasan. Jadi masih mau sombong? 


Penulis Astriani Ayu Lestari

Pegiat Literasi


Matacompas.com, MOTIVASI -- Ada yang ingat dengan doa ini?

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ


“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya.


Doa tersebut tidak asing terdengar di kepala kita, bukan? Beberapa dari kita bahkan sudah hafal di luar kepala.


Dulu, saat kita duduk di bangku sekolah kemudian memulai pembelajaran dengan doa tersebut, mungkin kita merasa doa tersebut tidak terlalu penting. Namun seiring kita beranjak dewasa dan mulai melihat realitas dunia, acapkali  kita bertanya pada diri sendiri “Diukur dengan apa standar kebenaran yang hakiki?” 


Saat ini kita sering dibuat bingung dengan standar kebenaran, yang menyandarkan kebenaran pada sesuatu yang booming. Mereka seolah memandang “baik” sesuatu yang sedang viral tanpa mengetahui apakah hal tersebut benar atau salah? Sehingga tidak jarang saat seseorang mengikuti hal viral tersebut pada akhirnya memunculkan permasalahan bagi kehidupan.  


Realitas saat ini

Kasus yang baru-baru ini muncul yaitu fenomena The Urban Poor yakni kelompok dengan budget pas-pasan yang ingin dibilang kekinian, mereka mengikuti gaya hidup orang kaya. Kemudian, ada influencer muslim yang berani makan daging babi demi konten. Ada lagi seorang kakak yang tega menghabiskan uang tabungan adiknya demi membayar tiket Coldplay padahal adiknya susah payah menabung karena sang ayah sedang sakit, dan masih banyak kasus lainnya.


Dalang Sekulerisme 

Berkaca dari kasus-kasus tersebut, kita lantas berfikir mengapa cara pandang tersebut bisa terjadi pada masyarakat kita saat ini?

Lahirnya cara pandang tersebut berawal dari adanya paham sekulerisme-kapitalisme. Sekulerisme telah memisahkan agama dari kehidupan manusia. Agama hanya digunakan untuk kegiatan ibadah ritual saja seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Agama tidak digunakan untuk mengatur kehidupan manusia secara meyeluruh. Pemisahan agama dengan kehidupan menggiring manusia untuk membuat standar kebenaran versi dirinya sendiri, dengan menggunakan akal dan hawa nafsu semata. Mereka secara bebas menggunakan akal untuk membenarkan hawa nafsunya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa tidak ada ukuran yang pasti tentang yang hak dan batil. Padahal fitrahnya akal manusia itu terbatas, contohnya, bagi orang yang gemar berbelanja dan memakai barang branded, baginya ini adalah sebuah kebenaran untuk melakukan pinjaman uang secara online demi membeli barang branded. Bagi kaum pelangi, maka baginya adalah sebuah kebenaran untuk menjalin hubungan asmara dengan sesama jenis, bahkan sesuatu yang lumrah jika sampai melakukan hubungan seks di antara mereka. Naudzubillah min dzalik.


Akal Manusia yang Terbatas sedangkan ilmu Allah tidak terbatas 

Penggunaan akal yang kebablasan akhirnya menggiring remaja yang tidak punya standar hidup yang kokoh untuk ikut-ikutan pada sesuatu yang sedang viral. Mereka mudah digiring dengan opini yang kebanyakan bahkan booming. Jika hari ini yang sedang viral adalah A, mereka mengikuti A. Jika besok yang viral adalah B, mereka juga akan mengikuti B. Para remaja menjadi FOMO (fear of missing out), yakni takut ketinggalan apa-apa yang sedang trend dan viral. 


Mereka menjadi tidak percaya pada nilai yang ada pada dirinya sendiri, cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang akhirnya membuat mereka selalu merasa insecure.


Kembali pada Standar Allah

Kita sebagai seorang muslim, sebenarnya sudah punya solusi untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau salah. Yakni dengan mengembalikan standar kebenaran sesuai versi-Nya Allah. Lah kok gitu? Lah iya, coba kita sadari,  manusia itu sebenarnya lemah banget, memperkirakan hal yang akan terjadi satu detik ke depan saja dia nggak bisa, mengatur kecepatan detak jantung juga dia nggak bisa, bahkan mengatur kerja satu sel dalam tubuh saja dia nggak bisa. Begitu pun halnya dengan akal manusia. Akal manusia bersifat terbatas, manusia hanya mampu menjangkau apa yang menurutnya bisa bermanfaat dan bisa memuaskan hawa nafsu. Tetapi mereka lupa bahwa mereka tidak bisa memperkirakan apa saja kerusakan yang akan terjadi jika mereka menggunakan akal dan hawa nafsunya dengan kebablasan. Jadi masih mau sombong? 


Gini deh, kita ibaratkan ada sebuah gadget A, diproduksi oleh perusahan A. Nah kalo mau nanyain cara mengoperasikan gadget A tersebut bagaimana, mau nanyain kapasitas memori, RAM, camera, dan aplikasi yang kompatibel buat gadget A. Pasti kita harus bertanya pada perushaan A, yang paling tau tentang gadget A, karena mereka yang memproduksinya. Begitu halnya dengan diri kita sebagai manusia, maka jika ada hal apapun yang berkaitan dengan diri kita baik itu hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan diri kita sendiri, dan hubungan kita dengan orang lain, harus disesuaikan dengan aturan yang datangnya dari Allah Swt., yaitu aturan islam. Aturan yang datang dari Pencipta manusia, yang paling tau secara detail tentang manusia. Aturan-Nya yang paling kompatibel, paling pas, paling nge-klik  deh pokoknya sama manusia.


Dengan begitu, jelaslah bahwa standar kebenaran yang harus kita gunakan adalah kebenaran versi Pencipta kita yaitu Allah Swt., bukan kebenaran versi manusia.


Menyandarkan standar benar atau salah sesuai versi manusia, hanya akan menggiring manusia pada kerusakan dan murka-Nya. Sedangkan menyandarkan standar benar atau salah sesuai versi Allah, akan mengantarkan manusia pada kemaslahatan dan rida-Nya. 


Hidup di zaman ini  memang tidak mudah. Meski seringkali kita terseok-seok dalam meniti jalan kebenaran menurut versi Allah, tapi percayalah lelahnya kita Cuma sebentar. Iya hanya sampai kita meninggal. Jadi semangat ya, bukankah yang kita kejar juga adalah kampung halaman abadi sesuai versi-Nya Allah? Surga.


Semoga Allah sesantiasa membimbing kita agar istikamah berjalan dalam rel kebenaran versi Allah. Bukan versi manusia. Yuk, kencengin lagi doa yang tadi kita ulas di awal. 


اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ


“Ya Allah tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan bantulah kami untuk menjauhinya.Wallahualam bissawab. [MDEP]


Arti Ideal dari Standar Kebenaran

Labels:

Posting Komentar

[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.